
Happy Readers 😍
.
.
.
.
Sepanjang perjalanan ia terlihat seperti orang yang termenung, semangatnya mulai berkurang tatkala ia mengingat kejadian kemarin malam. Sesekali ia menghela nafas panjang dan memijat keningnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi sehingga membuat ia membuyarkan lamunannya.
“Hallo Zheihan ... Kau di mana?"
“Zhei ada di perjalanan ke kantor, Kenapa Mama menelpon?" Tanya Zheihan penasaran.
“Nak, temani Mama dan Cantika untuk memilih baju pengantin, bukannya minggu depan kalian akan menikah? Mama mohon jangan bersikap dingin padanya." Tuturnya lembut.
Zheihan yang mendengar hal itu, ia kembali mengingat saat ia mengatakan pada Rania bahwa ia akan menikah. Namun, respon Rania tidak seperti yang ia harapkan.
“Baiklah, tunggu aku sebentar." Zheihan pun menyetujuinya.
Panggilan pun berakhir lalu ia memutar balik mobilnya.
Apakah aku akan benar-benar menikah dengan Cantika? Dan aku tidak akan pernah bersama Rania lagi. Tidak itu tidak boleh terjadi, sampai kapanpun Rania akan menjadi milikku.
__ADS_1
*****
Setengah jam kemudian, Rania, Mexty dan Nyonya Abelia pun telah tiba di butik. Rania mengikuti langkah Nyonya Abelia masuk ke dalam butik sambil menggendong Mexty yang sedang tertidur.
Setelah masuk ke dalam banyak sekali karyawan yang menyambut kedatangan mereka. Karena butik itu tidak hanya besar akan tetapi juga terkenal.
“Rania ... Mama tinggal dulu yaa." Ucap Nyonya Abelia, lalu pergi meninggalkan Rania di lobi. Rania yang merasa capek menggendong Mexty, ia pun menghampiri salah satu karyawan.
“Permisi mbak ... Apa di sini ada kamar kosong?" Tanya Rania lembut dan tak lupa ia juga menyunggingkan senyuman manisnya.
Karyawan yang di sapa oleh Rania pun menoleh.
“Mbak Rania ya? Apa kabar mbak?" sapa karyawan ramah pada Rania. sedangkan Rania hanya bingung karena ia sudah lama tidak datang ke butiknya itu.
“Ahh ... Maaf mbak, Saya Anita, saya tau namanya mbak dari Tuan Raihan." Ucapnya sedikit kikuk.
“Owh ... ternyata kamu kenal dengan adik saya." Sahut Rania ramah.
“Hehehe ... iya mbak, karena saya kerja di sini berkat tuan Raihan." Jelasnya sedikit ragu.
“Tapi kenapa kamu panggil tuan? Aku rasa kalian masih seumuran." Mendengar perkataan seperti itu, Anita pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kamu masih baru kuliah kan? sama seperti adik saya?" Rania yang sedikit penasaran, jadi ia sampai lupa bahwa buah hatinya masih dalam gendongannya.
“Apa mbak Rania tidak ingin meletakkannya di kasur?" Ujar Anita sedikit ragu dan berusaha mengalihkan pembicaraannya.
__ADS_1
“Owh boleh, kamu antar saya ke sana." Dalam sekejap Rania pun melupakan pembahasannya. Kemudian ia mengikuti langkah Anita dari belakang.
Setelah beberapa menit kemudian mereka pun sampai di sebuah kamar yang sangat indah.
“Silahkan masuk mbak, Kalo begitu saya pamit dulu." Ujarnya lalu melangkah pergi. Namun hanya dua langkah Rania memanggil Anita kembali.
“Anita! Tunggu!" seru Rania berhasil menghentikan langkah Anita. Dan Anita pun membalikkan badannya.
“Iya mbak, Apa butuh sesuatu?"
“Kamu yakin tidak ada yang mau kamu tanyakan padaku?" Tanya Rania sambil menyelimuti Mexty, lalu berbalik menghadap Anita.
“Kamu yakin?" Ucap Rania untuk memastikan sekali lagi, ia bertanya seperti itu pada Anita bukan tidak alasannya, akan tetapi ia bisa melihat dari benak matanya yang sedang menyimpan seribu pertanyaan.
Anita hanya bisa menundukkan kepalanya lalu menggelengkan kepalanya.
“Anita ... Kalau kamu ingin mengatakan sesuatu, katakanlah!" Rania masih membujuknya.
“Tidak ada mbak."
“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu, kamu boleh pergi." Tutur Rania, karena ia tidak ingin memaksa seseorang yang tidak ingin mengatakannya.
“Permisi mbak."
TBC
__ADS_1