
Happy Readers 😍
.
.
.
Di tempat lain, Atika masih tidak mau pulang dari Villa Raka meskipun sudah berkali-kali dibujuk olehnya.
“Atika, pulang yukk, nanti bunda kamu nyariin bagaimana?” bujuk Raka sambil menatap wajah Atika.
“Gak mau, Atika mau nginep di sini," sahut Atika cemberut.
“Tapi aku tidak enak sama bunda kamu, pulang ya?” ujar Raka lembut.
“Paman ngusir Atika?” tanya Atika dengan wajah sendu.
“Bukan begitu, tapi kata Bunda kamu harus pulang, tadi Kakak kamu sudah menelponku berkali-kali,” jelasnya.
“Kenapa? Aku hanya ingin tinggal bersama Paman! Pokoknya Atika tidak mau pulang!” seru Atika kesal.
Raka hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali menatap Atika.
Atika, apakah aku harus pergi lebih awal agar kamu bisa fokus sama kuliahmu? Tapi bagaimana jika aku masih belum bisa melepaskanmu? batin Raka.
“Baiklah, kau boleh menginap hari ini, aku akan menelpon Bunda," ujar Raka lalu menjauh dari Atika dan menuju kamarnya.
Tidak ada yang lebih sulit dari pada merelakan dan melepaskan seseorang yang dicintainya, sama seperti Raka yang sudah mencintai Atika dan tidak ingin melepaskan cintanya, tapi kini ia harus melepaskannya secara perlahan.
Tatapan Raka tidak lepas dari punggung Atika yang sedang asik menonton televisi di ruang tengah.
Meskipun kau hadir tanpa diminta, tapi aku tidak ingin melepaskanmu begitu cepat, batin Raka menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipi.
“Paman bagaimana?” teriak Atika dari ruang tengah.
__ADS_1
“Iya sebentar!” jawab Raka dari kamar.
Setelah beberapa menit kemudian, Raka pun kembali ke ruang tengah dan duduk di sebelah kanan Atika.
“Kamu boleh menginap disini,” ujar Raka lembut dan mengusap rambut Atika.
”Benarkah Paman?” seru Atika kegirangan.
”Iya,”
Mendengar hal itu Atika pun langsung berhambur memeluk Raka dengan erat. Tanpa rasa ragu Raka pun membalas pelukannya.
Paman, meskipun aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dariku, tapi aku tetap akan mencintai Paman, batin Atika menenggelamkan wajah di dada bidang Raka.
***
“Kau sudah minum obat?" tanya seorang pemuda yang baru masuk ke dalam ruangannya.
Gadis itu pun hanya bisa tersenyum manis, meskipun tubuhnya terasa lemah.
“Belum, karena aku masih lapar," jawab gadis gadis itu cengengesan.
“Apa pun itu, yang penting membuatku kenyang," tutur gadis itu cengengesan.
“Baiklah tunggu sebentar, aku akan kembali," ujar pemuda itu sambil mengelus rambut gadis itu.
“Dokter Qinzy terima kasih," ujar gadis itu tersenyum manis dan dia tidak lain adalah Anita.
“Tidak apa-apa santai saja, aku sudah lebih dari satu tahun menjagamu," tuturnya lembut.
Anita hanya bisa tersenyum melihat Dokter Qinzy yang tulus menjaganya.
“Kau tunggu sebentar, aku mau keluar,” pamit Dokter Qinzy.
“Hati-hati,” ujar Anita.
__ADS_1
Dokter Qinzy pun tersenyum manis dan pergi meninggalkan Anita sendirian. Sedangkan Anita menatap punggung Dokter Qinzy yang keluar dari ruangannya.
Terima kasih banyak untuk semuanya, meskipun ku tak tahu dengan apa aku harus membalasnya. Dan untukmu Raihan, maafkan aku yang menghilang tanpa jejak, aku hanya ingin kau bahagia dengannya, batin Anita menerka air matanya yang mulai membasahi pipinya.
***
“Dady kembalikan gadgetnya Mexty!” teriak Mexty dengan suara cemprengnya.
“Tidak, kau harus belajar!” seru Zheihan memengang gadget Mexty.
“Untuk apa aku belajar, aku kan anak genius!” ujar Mexty bangga.
“Tidak boleh, kau harus belajar!” seru Zheihan sekali lagi.
“Ahhh Papa tidak seru!” seru Mexty kesal.
Rania yang melihat keduanya saling beradu mulut sudah tidak heran lagi, tapi pandangannya teralihkan pada Sang adiknya.
“Kenapa bengong?" tanya Rania penasaran pada Sang adiknya.
“Aku masih merindukan dia Kak,” sahut Raihan sambil menunduk.
“Anita?”
Raihan pun mengangguk.
”Bukannya dia udah gak ada kabar selama setahun ini?”
“Iya, tapi aku gak tau kenapa aku masih mencintainya," tuturnya lirih.
“Lalu bagaimana dengan dia?”
Seketika Raihan diam mendengarkan pertanyaan dari Rania, entah kenapa cinta pertamanya sulit untuk dilupakan, bahkan kini hatinya masih tertinggal kenangan.
Bingung, itulah yang dia rasakan.
__ADS_1
TBC
Bersambung