
Happy Readers
.
.
.
Malvin terkejut saat melihat orang yang ia tubruk, lalu ia pun mulai merapikan pakaiannya dan mengambil buku gadis itu jatuh karena ulahnya.
“Ah, maaf aku tidak melihatmu," ujar Malvin buru-buru mengambil buku lalu mengembalikannya.
“Tidak apa-apa kak,” sahut Aisyah lembut sambil tersenyum. “Eummm, Kak Malvin ada masalah? Kenapa pakaiannya berantakan?” tanya Aisyah panjang lebar.
“Emm, tidak ada, aku tadi habis bertemu dengan clientku,” jawab Melvin berusaha santai.
Aisyah menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia mengerti. “Baiklah, aku percaya.”
“Kau bersama siapa?” tanya Malvin memerhatikan kesekitar mencari sesuatu.
”Kakak mencari siapa?”
“Tidak ada, aku pikir kamu bersama Paman,” ujarnya.
“Kenapa?” tanya Aisyah penasaran. “Apa perlu aku telpon Ayah?” sambungnya.
“Tidak perlu aku ...,”
Seseorang menyenggol lengan Aisyah dengan keras sampai membuatnya hampir terjatuh, untung saja ada Malvin yang menahannya. Sehingga tanpa sadar ia berada dalam pelukan Malvin.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Malvin lembut sambil memegang kedua pundaknya.
“Ahhh, iya. Aku baik-baik saja,” jawab Aisyah gugup.
“Hahh, syukurlah,” ujar Malvin lega tapi tidak melepaskan tangannya.
“Kakk,” seru Aisyah ragu.
“Hemm, iya kenapa?”
__ADS_1
“Tanganmu?”
“Owh maaf.”
“Iya Kak,”
***
“Mama! Aku boleh main game?” tanya Mexty dengan mata berbinar.
“Tidak boleh sayang, besok kamu harus sekolah, ini kan sudah jam delapan malam,” tuturnya lembut. “Jadi, Mexty anak Mama yang baik, tidur ya sayang?” ucapnya lembut, berusaha untuk membujuknya.
“Heumm, terus Papa kemana?” tanya Mexty cemberut.
“Dasar anak nakal, katanya tadi tidak mau sama Papa?”
“Bukan gitu ...,” ujar Mexty gugup saat ditanya alasannya karena ia sudah menolak ajakan Zheihan.
“Sudahlah, kalau begitu anak Mama tidur yaa?”
“Lalu, apa Papa marah sama aku?” tanya Mexty dengan wajah cemberut.
Dua puluh menit kemudian, Rania pun keluar dari kamar Mexty setelah menidurkannya. Setelah itu ia pergi menuju kamarnya.
“Ehh, kenapa gelap? Bukannya tadi aku menghidupkannya?” tanya Rania pada dirinya sendiri.
“Zheihan, apa kau di dalam?" seru Rania dari arah pintu.
Tidak ada jawaban sedikitpun.
“Kenapa aku merasa merinding gini?” ucap Rania pelan, lalu memberanikan diri untuk masuk dan ....
Happ!
Seseorang memeluknya dengan erat dari arah belakang, bahkan meletakkan kepalanya di bagian leher Rania.
“Sayang, boleh ya?” bisiknya, sambil mencium lembut leher Rania.
“Ahh Zhei, hentikan geli," seru Rania merasakan ada sengatan listrik di dalam tubuhnya.
__ADS_1
“Panggil aku Dady,” ucapnya dengan suara berat dan membalikkan tubuh Rania agar menghadapnya.
“Dady kenapa?” tanya Rania heran.
“Kau masih bertanya, aku merindukanmu,” ucapnya lembut, kemudian menyambar bibir mungil Rania.
“Mmmppphh ...,"
Rania yang tidak bisa menyeimbangkan permainan Zheihan, ia pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Zheihan.
***
Anita yang terbaring di bangsal tidak bisa tidur meskipun jam sudah berputar hampir tengah malam. Namun, matanya tidak bisa dipejamkan, sampai kedatangan seseorang membuat ia terkejut dan berusaha duduk.
“Tidak perlu bangun," ujarnya lembut.
“Tapi kau datang kemari, jadi aku harus menemanimu,” ucapnya sambil tersenyum.
“Anita, yang harus ditemani itu kamu, bukan aku. Jadi tetaplah berbaring,” ucapnya sambil membantu Anita kembali tertidur.
“Kenapa belum tidur?” tanyanya.
“Aku tidak bisa tidur,” sahut Anita lembut.
“Mau ku temani?" tanyanya.
“Hahh? Tapi kan ...,”
Sebelum Anita melanjutkan perkataannya, dokter Qinzy langsung berbaring di sisinya.
“Ssstttt, tidurlah, jangan banyak bicara," ujarnya sambil memeluk tubuh mungil Anita.
“Selamat tidur,” ucap Dokter Qinzy sambil mencium kening Anita.
....
TBC
Like & Komen🥰
__ADS_1
Thank you for all 🥰