
Happy Readers 😍
.
.
.
.
Malam pun tiba, dengan perasaan malas ia melangkah masuk ke dalam restoran. Karena ia sudah memiliki janji bersama keluarganya. Dan dia yang tak lain adalah Zheihan. Sampai pada akhirnya ia sampai di tempat yang sudah di tunggu oleh lima orang.
“Selamat malam ... Om, Tante.” Sapa Zheihan sambil menyalami kedua orang tersebut.
“Selamat malam Zhei.” Ucap keduanya bersamaan.
Kemudian Zheihan pun duduk di kursi yang kosong, dan bertepatan di sebelah Cantika. Membuat gadis itu tersenyum penuh kemenangan.
“Ini tuan makanannya.” Kata seorang pelayan yang baru datang.
“Baik Terima kasih.”
“Sama-sama Tuan.”
Setelah berbagai macam makanan sudah di hidangkan, Mereka pun makan bersama. Tidak ada yang berbicara satu sama lain kecuali suara musik yang di sediakan oleh restoran tersebut.
Zheihan yang merasa bosan karena harus makan bersama, padahal ia sudah berniat untuk menemui Mexty kembali. Tetapi semuanya tidak seperti yang ia harapkan. Meskipun kini ia berada di tengah-tengah keramaian, akan tetapi hatinya terasa kosong. Bahkan pikirannya tertuju pada Rania. Jujur saja, jika kali ini ia benar-benar ingin berada di dekat Rania dan juga Mexty tentunya. Namun, keadaannya berbalik dan tak sesuai harapannya.
Zheihan yang terbawa suasana sampai tidak menyadari bahwa ada seseorang sudah memanggilnya sedari tadi.
“Zhei... Zheihan!!” Seru Cantika, sontak berhasil membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
“Kamu kenapa?” Tanya Cantika curiga
“Kamu gak apa-apa kan Zhei?!” Tanya Nyonya Monica (Mama Zheihan). Sampai semua yang ada di meja itu menatap wajah Zheihan penuh keheranan.
“Hehehe ... Gpp kok Mah.” Ujar Zheihan cengengesan.
“Ya udah kalo gitu, lanjut makannya” Ujar Nyonya Monica. Dan Zheihan pun kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya.
“Zhei ... Papa sama Om Arya sudah merencanakan pernikahan kalian.” Tutur tuan Max
Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak ingin menikah! Gumam hati Zheihan
“Tapi Pa ... Zheihan masih belum ingin menikah!” Ucap Zheihan menentang pernikahan ini.
“Lalu kapan? Bukannya kita sudah bertunangan.” Ujar Cantika
“Benar Nak Zheihan ... Kalian sudah dewasa, seharusnya kalian sudah menikah.” Ucap Mama Cantika ikut menimpalinya.
“Tapi Zheihan tidak ingin menikah!!”
Brakkk
Ucap Zheihan dengan suara lantang dan bersamaan dengan menggebrak meja. Sehingga membuat para pengunjung menoleh ke arahnya tanpa terkecuali, begitu pula dengan seorang gadis yang baru saja bangun dari tempat duduknya di bagian pojok.
Zheihan yang merasa menjadi pusat perhatian di dalam restoran tersebut, ia pun menoleh ke sekitar. Akan tetapi pandangannya tertuju pada seorang yang ia kenal meskipun orang itu berusaha menghindari dan berjalan menuju kamar mandi.
Tanpa sepatah katapun, Zheihan pergi begitu saja dari hadapan orang tuanya untuk memilih mengejar orang tersebut.
Sesampai di depan toilet ia berdiri sambil bersandar pada dinding. Hati dan pikirannya sama-sama hancur, tetapi ia tetap terlihat tegar.
Cukup lama ia menunggu di depan toilet, tetapi orang itu masih belum muncul juga. Pada akhirnya ...
__ADS_1
Ceklek
Pintu toilet pun terbuka, dengan cepat Zheihan menahan orang tersebut.
“Rania apa kau menghindariku?” Tanya Zheihan padanya.
Yeah, orang yang ia kejar adalah Rania. Bahkan Rania mendengar semuanya dengan jelas. Sebab, jarak meja makannya tidak terlalu jauh dari mereka.
“Lepas!!” Bentak Rania berusaha menghentak tangan Zheihan dengan kasar. Namun, Zheihan menarik tubuh Rania dalam dekapannya. ia memeluknya sangat erat seakan-akan ia tidak ingin melepaskannya.
“Aku mohon, katakan siapa kau sebenarnya?” Tanya Zheihan dengan nada lirih. Jujur sampai saat ini Zheihan masih belum tahu jelas tentang kehidupan Rania, meskipun ia mati-matian mengerahkan seluruh tenaga untuk meretas berbagai sistem tetapi tidak ada hasilnya.
Rania terus menerus memberontak agar Zheihan melepaskan pelukannya, akan tetapi hasilnya nihil.
“Aku bilang tidak akan pernah melepaskan mu ... sebelum kau memberitahuku tentang semuanya.” Ujar Zheihan lirih dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rania.
“Ma...maaf ... jika semuanya terjadi karena kesalahanku ... Rania maaf ... ku mohon kembalilah padaku.” Ucap Zheihan sangat lirih.
Rania yang sedari tadi diam, bukan berarti ia benci terhadap Zheihan, melainkan ia benci pada kenyataan ini, karena baginya sangat menyakitkan.
“Zhei ... Maaf aku harus pergi.”
“TIDAK.” Zheihan pun semakin mengeratkan pelukannya.
🥀🥀🥀🥀🥀
Like
komen
Favorit
__ADS_1
Hadiah 😊