
Happy Readers 😍
.
.
.
.
Sore menjelang malam, Alan pun membawa Atika ke restoran untuk makan. Ia tidak mengerti dengan sikap adiknya yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.
“Makannya Pelan-pelan, gak ada yang mau ngambil dari kamu.” Ujarnya.
“Hehehe ... Atika kelaparan bang,” saut Atika polos.
“Ya udah balik aja ke rumah, bunda selalu nanyain kamu terus,” tuturnya.
“Jangan bilangin ke bunda ya bang, Atika masih gak mau pulang,” ujar Atika cengengesan.
“Terus kamu tinggal di mana? Di jalanan? Di kolom jembatan?” Cerocos Alan bagaikan kereta api yang tidak bisa di rem lagi,
“Ihh ... Gak gitu juga kali bang, Atika tinggal di rumah paman.” Ujarnya kegirangan.
“Apa??! Kamu tinggal sama om-om? Bapak-bapak? Kamu jadi sugar baby?”
__ADS_1
“Abang!! Atika tinggal rumah paman Raka, dia bukan bapak-bapak dan dia juga kelihatan lebih muda dari Abang, lebih ganteng lagi, jadi ...”
“Owhh ... Jadi sekarang Abang gak ganteng lagi gitu?” ucap Alan memotong ucapannya Atika, “Kenapa kamu panggil dia paman?” sambungnya, kemudian ia menyeruput secangkir jus di hadapannya.
“Abang!! Kalo Atika lagi ngomong dengerin dulu, jangan nyerocos sendiri.” Protes Atika mulai kesal. “Mendingan Abang gak usah jadi artis lagi, atau apa itu, biar gak kebanyakan dialog dari drama.” Atika mulai kesal.
“Haish ... Ya udah deh Kalo gitu, cepat makan jangan ngomong terus.”
Atika pun menurut dan kembali menyantap makanan.
“Abang janji jangan bilangin ke bunda ya?” seru Atika, dan lagi-lagi membuat Alan menghela nafas panjang.
“Baiklah, cepat habiskan makananmu.”
***
Air shower mengalir membasahi tubuhnya, sesekali ia mengusap rambutnya ke belakang. Tiba-tiba ia teringat pada Atika yang ia tinggalkan di tengah jalan, dengan buru-buru ia pun menuntaskan ritual mandinya.
“Astaga! Kenapa aku lupa telah menelantarkan anak orang!” umpatnya kesal akibat kebodohannya.
Setelah Sepuluh menit kemudian, ia pun sudah selesai dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, berjalan ke arah lemari dan mengambil T-shirt oblong berwarna putih.
Setelah itu, ia pun keluar dari kamar, dan melihat ke seluruh arah di rumahnya, akan tetapi ia tidak menemukan sosok Atika.
Raka pun menaiki tangga menuju lantai dua, ia harap ia bisa menemukan Atika, jika tidak dia akan menjadi tersangka atas kehilangannya bukan, itulah yang sedang Raka takutkan.
__ADS_1
“Atika!! Apa kamu di kamar?” seru Raka sambil mengetuk pintunya.
“Atika, apa aku boleh masuk?” tanyanya.
Merasa tidak ada jawaban dari dalam, ia pun membuka pintunya. Betapa terkejutnya saat ia tahu bahwa Kamar itu masih gelap, sunyi dan kosong melompong.
“Akhh ... Aku lupa dia tidak bisa pulang.” Raka mengusap wajah gusar. Rasa khawatir mulai menyelimuti hatinya.
Ia pun berlari menuruni anak tangga dan meraih kunci yang ada di samping televisi, lalu menuju garasi.
“Akhhh!!! Kenapa kunci motor sih?!” umpatnya kesal saat ia menyadari bahwa yang ada di tangannya adalah kunci motor.
Tidak ada pilihan lain selain Raka mengendarai motornya, karena tidak ingin waktunya hilang begitu saja.
Ia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, hingga pada berapa menit kemudian ia sudah tiba di tempat ia meninggalkan Atika.
Kosong, hanya ada orang yang berlalu-lalang di trotoar.
“Bukannya aku meninggalkan dia di sini.” Celingak-celinguk mencari Atika.
Sedangkan dari kejauhan, Atika yang melihat seseorang yang ia nantikan sudah tiba, ia pun menyeret Alan begitu saja,
“Hei ... Jangan tarik sembarangan! Aku bukan sapi Atika!” seru Alan, namun Atika tidak memedulikannya.
“Paman!!!” teriak Atika seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
TBC
semoga gk bosen ya sama ceritanya 🤩