
Happy Reader 🤩
.
.
.
.
Raka panik karena Atika masih belum sadar, meskipun dokter sudah memeriksanya beberapa menit yang lalu, dan mengatakan bahwa lukanya tidak terlalu parah. Dan kini ia duduk di kursi sebelah brankar Atika berbaring, sedangkan Raihan hanya bisa berdiri dibelakang Raka.
“Kakak, apa dia calon kakak ipar ku?” tanya Raihan mencairkan suasana.
Raka pun menoleh dengan tatapan garangnya. Sehingga membuat Raihan hanya bisa menelan ludah dengan kasar.
“Kenapa kamu pulang?” tanyanya dingin.
“Ya ampun kakak, aku lagi liburan." ujar Raihan cuek. Lalu mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah Atika dengan jelas.
“Hai apa yang kamu lakukan?” tanya Raka heran.
“Sebentar kak, kayaknya aku kenal sama bocah ini." ujar Raihan sambil meneliti setiap lekuk wajah Atika. Karena saking penasarannya, ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Atika, akan tetapi ...,
Plakkk!
Raka memukul tangannya dengan kasar. “Jangan sentuh dia!" seru Raka kesal.
“Awhh sakit kak,” seru Raihan. “Tapi jujur loh kak, aku kayaknya pernah kenal sama nih bocah, eumm ... kalau gak salah Tika, Eh bukan, Ati ..., A ...,”
“Atika!” seru Raka memotong ucap Raihan.
“Nah iya, Atika si gadis nakal!” seru Raihan kegirangan. Sehingga hal itu membuat Raka semakin tidak suka.
__ADS_1
“Kakak pungut dia dari mana?” cerocos Raihan.
“Kamu bisa diam gak sih!" seru Raka kesal.
“Baiklah, tidak perlu sampai marah begitu.” ujar Raihan santai.
“Kamu mau kemana?” tanya Raka kemudian lembut.
“Aku ingin bertemu Mexty, tapi kenapa tempat Rania kosong?" ujarnya heran.
“Dia di rumah Zheihan.”
“Eumm kok bisa? Bukannya kak Rania gak suka sama Zheihan?”
“Lebih baik kamu pergi dari sini, daripada bertanya terus.” ujar Raka kesal.
“Baiklah, aku rasa kakakku ingin berduaan dengan kakak ipar ku.” ujar Raihan berbisik di telinga Raka. “Ngomong- ngomong dia sudah bangun dari tadi.” sambungnya dan berbisik di telinga Raka.
Raka yang mendengar penuturan dari adiknya, ia pun menoleh kearah Atika, tetapi Atika masih memejamkan matanya.
Dengan terpaksa, Atika pun membuka matanya, dan mengalihkan pandangannya.
“Kalian bertengkar? Hahaha ... Ya ampun!” seru Raihan sambil tertawa lepas. “Sudahlah, aku pulang.” ujarnya santai lalu keluar dari kamar tersebut.
Kini hanya tinggal Atika dan Raka, sehingga suasana menjadi hening sejenak. Bahkan Atika tidak mau melihat wajah Raka karena kesal.
“Kamu masih marah?” tanya Raka kemudian mencairkan suasana.
“...."
Tidak ada jawaban apapun dari Atika. lalu Raka pun mendekati wajah Atika dan menangkup wajahnya agar melihatnya.
“Jawab aku, atau aku tinggal!" ujar Raka sedikit lembut.
__ADS_1
“Kalau Paman mau pulang, pulang saja. Atika tidak apa-apa, aku akan meminta Gaiden sama Ailin kesini." ujar Atika datar dan berusaha untuk tersenyum.
Raka tidak suka mendengar nama Gaiden keluar dari mulut Atika, sehingga ia sangat kesal.
“Kenapa harus Gaiden?!" tanya Raka datar.
“Bukan urusan Paman kan? Lagian Paman gak suka sama Atika.” ujar Atika lirih, lalu membelakangi Raka.
“Aku minta maaf." ujar Raka lirih dan menundukkan kepalanya karena frustasi. Ia sendiri tidak tahu ada apa dengannya kini.
Tetapi tidak ada jawaban apapun dari Atika, melainkan terdengar suara segukan.
“Atika kamu menangis? Kan aku sudah minta maaf." ujar Raka merasa bersalah. Kemudian ia pun pindah duduk di brankar, laku berbaring dan memeluk Atika dari belakang.
“Aku minta maaf, jangan marah lagi yaa?" ujarnya.
Atika yang merasakan pelukan hangat dari Raka, lalu ia pun membalikkan badannya.
“Paman janji gak mau marah sama Atika lagi kan?" tanya Atika cemberut.
“Iya, Paman janji. Jadi sekarang udah di maafin kan?"
“Asalkan Paman tidak tebar pesona!” seru Atika ngegas.
“Hahaha ..., kamu cemburu? Maklumlah orang ganteng banyak yang suka." ujar Raka menggoda Atika.
“Paman!!!" seru Atika kesal, lalu menangis.
“Hei, jangan nangis, aku cuman bercanda." ujar Raka sambil mengeratkan pelukannya.
“Paman jahat!!"
“Maaf.”
__ADS_1
TBC