Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
PART 111 ~ Jangan Berjanji tapi Buktikan


__ADS_3

Happy Readers


.


.


.


Zheihan berdiri tegak menatap para tikus yang berada di hadapannya. Menatap wajah mereka tanpa ekspresi sehingga jiwa lemah mereka menciut mendapatkan tatapan seperti itu darinya.


“Apakah kalian sudah melakukan tugas dengan baik?" tanya Zheihan dingin.


“Sesuai yang anda minta Tuan, kami sudah menemukan siapa dibalik semua ini,” sahut dari salah satu mereka.


“Bagus, jangan sampai penyamaran kalain terbongkar sebagai mata-mata, jika kalian lengah, kalian akan tau akibatnya bagaimana?” ucapnya dingin sambil mengacak-acak rambutnya.


“Siap Tuan!” ucap mereka serentak.


Setelah menghabiskan banyak waktu bersama mereka untuk mendiskusikan misinya, ia pun keluar dari ruangan itu dan masuk ke dalam mobilnya.


“Rania, aku tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangga kita, dan aku akan menjadi kalian selamanya," batinnya.


Sepuluh menit kemudian ia telah sampai di butik tempat Rania bekerja, tanpa memberitahunya. Tetapi kedatangannya membuat semua mata tertuju pada Zheihan, karena ia terlihat sangat gagah dan tampan.


“Haissh, apa dia masih bersemayam di ruang kerjanya?” batin Zheihan melihat ke sekelilingnya tidak mendapati sosok yang ia rindukan.


Zheihan yang sudah tahu kebiasaan Rania, ia pun langsung berjalan menuju ruang kerjanya. Secara perlahan ia masuk dan mendapati Rania sedang sibuk merancang desain.


“Sayang, apakah kamu tidak lelah?” tanya Zheihan lembut dan berjalan mendekatinya.

__ADS_1


“Ahh iya, kenapa kau kemari?” tanya Rania terkejut saat melihatnya, karena Zheihan jarang mengunjunginya.


“Hei, respon apa itu? Apakah kamu tidak merindukan suamimu ini? Aku merindukanmu,” bisik Zheihan di telinga Rania terdengar manja.


“Untuk apa kamu kesini?” tanya Rania.


“Sayang, apa kamu tidak dengar yang aku bilang tadi, hemm? Aku merindukan istriku," ucap Zheihan lembut sambil memeluk leher Rania dari belakang.


“Iya, iya percaya deh,” ujar Rania sambil bangun dan menoleh.


***


Di belahan dunia, seorang pemuda yang terus menatap ke arah luar gedung, menatap kota yang setelah satu tahun ia tinggalkan. Namun, hatinya masih tertinggal pada seseorang yang jauh dari pandangannya. Dan dia tidak lain adalah Raka.


“Atika, maafkan aku meninggalkanmu begitu saja, tapi jujur aku ingin selalu ada di dekatmu, semoga kamu baik-baik saja,” batin pemuda itu.


Tidak lama kemudian, tanpa diminta air matanya mulai mengalir membasahi pipinya, rasa sesak di dada karena merindukan seseorang yang sangat ia cintai.


Di sisi lain seseorang mengetuk pintu kerjanya, tapi ia tidak menyadarinya, karena terbawa oleh lamunannya.


Tok tok tok


Ketukan yang kesekian kalinya mampu membuat ia tersadar dan langsung menoleh.


“Silahkan masuk!” ucapnya dengan tegas.


***


Di ruang tamu yang luas, keduanya terlihat canggung, bahkan tidak ada yang berbicara diantara mereka. Raihan pun mulai menatap wajahnya dengan tatapan sendu. Sedangkan Audira yang menyadari karena ditatap oleh Raihan menjadi bingung.

__ADS_1


“Ada apa?" tanyanya lembut.


“Tidak apa-apa, hanya saja aku merasa canggung," ujar Raihan.


“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Audira sekali lagi.


Raihan pun tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di bahu Audira. “Kamu percaya kan sama aku?”


Seulas senyuman manis terukir jelas di bibirnya. “Bukannya dari awal aku sudah bilang, kalau aku menganggap pernikahan itu bukanlah permainan," jawab Audira lembut.


“Maaf kalau aku seburuk itu.”


“Tidak kok, kamu hanya perlu waktu untuk semuanya, aku percaya,” tuturnya lembut menyembunyikan semua perasaan yang pernah hancur.


“Maaf, aku tahu kalau aku bisa menyakitimu, tapi ...,” ucapnya terpotong lalu menatap wajah Audira hingga mata keduanya saling bertemu.


Cup


Satu kecupan manis mendarat sempurna di kening Audira. Sedangkan yang dicium hanya bisa diam dan membeku, karena untuk pertama kalinya Raihan menciumnya dengan lembut.


Ini bukan mimpi kan? Tapi aku harap waktu berhenti saat ini. batin Audira.


“Aku janji akan melakukan yang terbaik untukmu," ujar Raihan setelah berciuman.


“Jangan berjanji, aku hanya butuh buktimu,” sahutnya.


“Siap sayangku, cup" untuk kesekian kalinya Raihan mencium Audira dengan lembut.


TBC

__ADS_1


NB: Maaf baru bisa update lagi :(


__ADS_2