Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
PART 86 ~ Rania Salah Paham


__ADS_3

Happy Reader 🤩


.


.


.


.


Setelah sampai di taman hiburan, Mexty dan Auraf pun kegirangan. sampai pada tengah hari, mereka mulai lelah. Tetapi tidak dengan Auraf yang masih bersemangat.


“Bibi! Auraf ingin naik itu juga!" seru Auraf kegirangan.


“Mexty ikut juga yaa?!" seru Auraf sekali lagi, menarik tangan Mexty berlari-lari kecil.


Rania hanya bisa tersenyum melihat kedua bocah yang sudah mulai akrab.


Andaikan Mexty punya adik, pasti seperti mereka, batin Rania tersenyum.


“Khemm, sayang, ini di taman hiburan, kenapa kamu jadi melamun?" tanya Zheihan tiba-tiba.


“Tidak apa-apa." ujar Rania memalingkan wajahnya.


“Hayoo, mikirin apa?" goda Zheihan.


“Tidak ada, cepat kejar mereka!" seru Rania mendorong Zheihan.


“Dasar bocah menyusahkan saja." gumam Zheihan.


“Kau yang membuatnya!" seru Rania dari belakang dan menjewer telinga Zheihan.


“Awwh sayang, telingaku sakit. Bukan aku yang membuatnya, tapi kita berdua." ujar Zheihan sedikit merendahkan suaranya.


“Kau yang memaksaku!" ujar Rania cemberut.


“Nanti kalau udah nikah aku akan lembut kok.” ucap Zheihan santai sambil merangkul pinggang Rania.


“Papa! Mexty tidak mau naik itu!" seru Mexty cemberut.


“Kenapa?" tanya Zheihan lembut.


“Aku sudah lelah dan ingin tidur!" ujar Mexty menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Yah, padahal Dedek masih mau main." ujar Auraf cemberut.


“Dedek masih mau main?" tanya Rania berjongkok dihadapan Auraf.


“Iya," ujarnya cemberut.


“Ya udah, ayo Dedek main sama Bibi," ucap Rania lembut.


“Gak mau, Dedek mau sama Mexty!" ujarnya cemberut.


“Aku sudah mengantuk!" seru Mexty. “Papa gendong!" ujarnya manja.


Auraf pun cemberut, “Eummmm ...," memoyongkan bibirnya. “Ya udah kalau begitu, kita pulang!” ujarnya sedikit cemberut, sehingga ia terlihat sangat imut.


“Ayo bibi gendong!" ujar Rania.


****


Setelah melalui perjalanan yang menghabiskan waktu setengah jam, kini mereka telah sampai di Villa Zheihan. Namun suasana Villa terlihat sangat ramai, bahkan mobil mewah terparkir rapi di pekarangan Villa Zheihan.


“Zhei, kamu minta Mama ke sini?" tanya Rania penasaran, sambil mengendong Auraf yang sudah tertidur, sedangkan Zheihan mengendong Mexty.


“Mana aku tau sayang, kan aku sama kamu, tapi aku gak pernah tuh nyuruh Mama kesini. Soalnya dia lagi marah karena aku gagal nikah." ujar Zheihan cengengesan.


“Ya udah nikah sama dia!" seru Rania kesal dan masuk ke dalam.


Rania yang ditanya hanya bisa diam, tatkala ia melihat sosok wanita yang belum pernah ia jumpai. Dan ia terus bertanya-tanya dalam hatinya, siapakah wanita itu?.


“Rania." seru Nyonya Abelia saat mendapati Rania sedang melamun.


“Ah iya Ma, maaf Rania tadi melamun." ujar Rania gelagapan Karen terkejut.


“Sudahlah, kau bawa dia tidur." ujar Nyonya Abelia lembut.


“Tunggu! Ini ada apa?" tanya Zheihan terkejut saat mendapati banyak orang dirumahnya, termasuk Tuan Max dan Nyonya Monica.


“Jangan banyak tanya, cepat bahwa Mexty ke kamarnya!" seru Tuan Max.


“Hemm." Zheihan pun berlalu menuju lantai dua, kamar Mexty.


Setelah beberapa menit kemudian, Rania dan Zheihan pun kembali ke ruang tamu. Bahkan mereka duduk bersebelahan.


Sedangkan Rania yang gagal fokus karena melihat tuan Cody dengan wanita sangat asing dihadapannya.

__ADS_1


“Kami ingin berbicara serius." ujar Tuan Jack's.


“Rania, maafkan Papa sayang." ujarnya lembut dan menundukkan kepalanya.


“Mama juga minta maaf." ujar Nyonya Abelia.


Rania yang mendapatkan penuturan seperti itu, ia hanya terbengong dan bingung. Kenapa Papa dan Mamanya minta maaf?.


“Papa, Mama, kenapa minta maaf?” tanya Rania bingung.


Sedangkan pasangan suami istri yang baru saja bertemu, berharap putrinya akan menerima kehadiran mereka. Meskipun sejak kecil mereka gagal menjadi orang tuanya, tidak ada kasih sayang yang mereka berikan padanya.


Apakah dia putriku? batin Hazna penuh harapan.


Aku tidak salah menyangka, bahwa dia adalah putriku, batin Tuan Jack's.


Kenapa suasananya menjadi tegang? batin Zheihan.


Berbeda dengan Nyonya Monica dan Tuan Max terlihat santai, menyimak obralan mereka.


“Sayang, maaf kalau selama ini Papa dan Mama berbohong," ujarnya lirih dan tidak sanggup mengatakan apapun.


Seketika bayangan Rania teringat pada sosok wanita yang misterius dalam foto di ruangan rahasia diruang kerja Papa.


“Apakah Rania bukan anak kalian?" pertanyaan Rania yang terdengar ketua dan dingin. Sontak membuat semua orang yang ada di sana tercengang.


“Rania, tolong dengarkan Papa, maksud ...," belum sempat Tuan Jack's melanjutkan perkataannya, Rania terlebih dahulu memotong ucapan Tuan Jack's.


“Jadi semua kasih sayang Papa dan Mama selama ini palsu iya?! Rania bukan anak kalian, tapi kalian seakan-akan aku adalah putri kalian?! Lalu dimana orang tuaku yang sebenarnya?! Katakan!" ucap Rania penuh dengan emosi, karena memang dia paling mudah tidak bisa mengendalikan emosinya.


“Apakah mereka telah membuang ku! Apakah kalian memungutku?! Kenapa kalian tidak jujur sejak awal?! Kenapa kalian membuatku seakan-akan hidup dalam keluarga yang harmonis, kenapa?Katakan padaku dimana orang tuaku!! Apakah mereka membuang ku! Cepat katakan!" semua orang terdiam, tatkala Rania yang sudah di kuasai oleh emosinya, Kecuali Zheihan yang berusaha untuk menenangkan Rania.


“Sayang, tenangkan dirimu.” ujar Zheihan memeluk tubuh Rania dari samping.


“Apa kau bilang? Tenang?! Mereka membohongiku selama ini?! Dan aku tidak memiliki orang tua?! Meraka membuang ku! Dan aku diberikan bekas kasihan mereka! Dan kamu masih bilang aku harus tenang?! Zheihan jawab!" teriak Rania mengguncang tubuh Zheihan.


Astaga, apa yang harus aku lakukan? Dia sungguh mengerikan, akkhhh ..., tidak ada cara lain, dan anggap disini tidak ada orang, batin Zheihan, lalu menarik tekuk Rania dan langsung menyambar bibir Rania, saat Rania hendak berbicara lagi.


Semua orang semakin tercengang saat melihat keduanya saling berciuman secara live.


Dia memang putraku, batin Tuan Jack's bangga.


Dasar bocah! batin Nyonya Monica menepuk jidatnya.

__ADS_1


...Bersambung...


...Like dan komen berlanjut...


__ADS_2