
Happy Readers 🥰
.
.
.
Di ruang tamu Mexty cemberut karena harus ikut ke rumah Auraf. Bahkan sejak sampai di rumah Auraf selalu menjailnya. Sampai pada akhirnya ia tidak bisa menahan emosinya.
“Auraff! Dasar nenek sihir! Dasar jelek!” seru Mexty kesal dan terus cemberut.
Auraf yang mendapatkan bentakan bukannya dia takut, melainkan tertawa lepas. “Hahaha ... Apakah kamu sedang marah?” tanya Auraf dengan wajah imut dan polosnya.
“Bukan urusanmu!” seru Mexty sekali lagi.
“Hahh, dedek Mexty tidak boleh marah ya?” ujar Auraf mencubit pipi tembem Mexty.
“Hei! Apa yang kamu lakukan!” teriak Mexty.
“Menghiburmu,” ucap Auraf santai.
“Dasar jelek!”
“Dihhh mana ada, aku kan cantik seperti putri raja,” ucapnya dengan wajah imutnya.
“Wlekkk!”
“Auraf, sudah jangan jaili adek Mextynya, nanti dia tidak mau ke sini lagi bagaimana?” ujar Aisy yang baru datang dari arah dapur.
“Tapi Mom, aku heran bagaimana bisa Uncel Zhei sama Aunty Cantik bisa membuat anak seimut adek Mexty?” celotehnya. Itulah Auraf gadis kecil penuh dengan kecerian, cerewet, jail dan cerdas.
Aisy yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari putri kecilnya, ia hanya bisa menahan tawanya. Sedangkan Mexty terus cemberut karena moodnya kurang baik.
__ADS_1
“Sayang, sudah jangan mikir seperti itu, tidak baik loh," ujar Aisy lembut sambil membelai rambut Auraf.
“Tapi kenapa dia lebih cantik dari dedek!” seru Auraf cemberut.
“Aku tidak cantik!” seru Mexty.
“Tidak, kamu cantik!”
“Tidak!”
“Kamu cantik!”
“Tidak, aku tidak cantik!”
Mulailah perdebatan antara kedua bocah yang tidak bisa dihentikan oleh Aisy, karena keduanya sama-sama keras kepala.
“Hemmm!”
“Dady!” seru Auraf lalu berlari ke arahnya.
“Sudah selesai berdebat?” tanya Gaifry lembut.
“Tidak, kenapa dedek Mexty lebih cantik dariku? Apakah Dady tidak niat membuatku?” celoteh Auraf.
“Ukhuukk!” seketika Gaifry terbatuk mendengar pertanyaan dari putri kecilnya. “Sayang, tidak begitu konsepnya, tapi ...,” ucapan Gaifry terhenti saat ada orang yang datang, tidak lain adalah Rania dan Zheihan.
“Mama!” seru Mexty dengan wajah cemberut. “Kenapa Mama baru menjemputku?” tanyanya dengan pupy eyes.
“Hanya Mama saja yang ditunggu?” cibir Zheihan.
“Mexty tidak mau ikut dia lagi!” ujar Mexty mengadu pada Rania dan menunjuk ke arah Auraf.
“Aku rasa mereka tidak pernah akur,” ujar Gaifry.
__ADS_1
“Yahh, mungkin karena mereka masih kecil, kita lihat saja nanti kalau mereka sudah dewasa,” sahut Zheihan santai.
“Apakah kisahnya seperti kalian berdua?” cibir Gaifry.
“Owh jangan, itu terlalu sulit,” jawab Zheihan kemudian diiringi oleh tawa.
“Sudah, sudah, karena kalian sudah di sini, bagaimana kalau kita makan malam bersama?” ajak Aisy pada Rania dan Zheihan.
“Boleh.”
Rania dan Zheihan pun menyanggupinya, tapi tidak dengan Mexty yang ingin cepat pergi dari tempat itu ketika mendapatkan tatapan aneh dari Auraf.
Ayah, tolong aku, batin Mexty menangis.
***
Malvin baru saja selesai bertemu dengan client di sebuah restoran, ia mencoba menghela nafas dan mencoba menenangkan pikirannya yang sedang kacau karena ucapan Sang Kakek.
“Apakah permintaannya bisa terpenuhi? Bagaimana aku bisa menikah? Sedangkan aku tidak memiliki seseorang untuk dinikahi?” celoteh Malvin sambil mengacak-acak rambut dan melonggarkan dasinya.
Malvin yang sibuk dengan pikirannya sampai ia tidak memperhatikan jalannya. Sampai ia menabrak seseorang dari arah berlawanan.
“Awww,” seru gadis itu.
”Ahhh maafkan aku,” ujar Malvin saat tersadar bahwa ia menabrak seseorang.
“Tidak apa-apa, Tu ...,” ujarnya terhenti saat kedua mata mereka saling bertemu.
Kenapa kita dipertemukan kembali, saat hati ini ingin melupakan sepenuhnya, dan tidak ingin bertemu lagi. Namun, mengapa takdir berkata lain? Entahlah, kenangan yang indah kini seperti serpihan yang perlu ku rangkai kembali, batinnya.
TBC
See you next part and Thanks for All 🥰
__ADS_1