
Seoul, South Korea
Prang!
Braakkk!
Dor!
“AKHHHH!!” teriaknya penuh frustasi bahkan cermin dihadapannya hancur karena hantaman darinya.
“Zhaif hentikan! Jika seperti ini terus, itu akan merusak mental mu!" teriak seseorang dari arah pintu.
Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk temannya itu, karena kali ini ia terlihat seperti monster yang menakutkan. Sikap dingin dan kejamnya telah kembali, entah apa yang membuatnya seperti itu, tidak ada yang tahu kecuali dirinya.
“Pergi kau?!!" teriak Zhaif dengan suara lantangnya dan terdengar mengerikan.
“Okay, aku pergi tapi kamu harus tahu, kalau Cody sudah mendarat di Indonesia kemarin.” tuturnya lembut, dan dia adalah Yoga, pemuda yang merupakan tangan kanannya, serta juga sahabatnya.
Mendengar hal itu, Zhaif pun diam dan menoleh pada Yoga dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
“Kenapa kau baru bilang?!" teriak Zhaif marah, dan kembali memukuli cermin dihadapannya.
“Bagaimana aku bisa bilang, jika kamu terus-menerus mengurung diri di sini?!" teriak Yoga untuk menyadarkan Zhaif.
“Apakah Rania baik-baik saja? Apakah Rania tidak bertemu dengannya? Jawab?!" bentak Zhaif sambil mengguncang tubuh Yoga.
“Zhaif hentikan?! Aku jadi pusing!! Aku tidak tahu jelas, apa Rania bertemu dengannya apa tidak, aku kan bukan Super Hero yang bisa terbang dan langsung tahu keadaan." ujar Yoga santai dan berusaha untuk menghiburnya.
“Yoga!! Aku tidak butuh candaan mu!" teriak Zhaif membuat Yoga menghela, nafas panjang.
“Kalau kamu tidak rela membiarkan dia pergi, kenapa kau melepaskannya?" tanya Yoga mengusap wajahnya frustasi.
__ADS_1
“Itu pilihannya." ujar Zhaif tertunduk lemah.
“Roselle pergi gara-gara kamu tidak bisa bersikap baik padanya, kamu memang temanku yang bodoh." ujar Yoga sekenanya.
Zhaif yang mendapatkan hinaan seperti itu, ia pun mendongakkan kepalanya dan memberikan tatapan mengerikan pada Yoga.
“Apa kamu bilang? Aku bodoh?! Dia yang tidak mengerti!" teriak Zhaif dihadapannya dengan suara yang mengerikan.
Jelas-jelas itu salahmu, kenapa kamu jadi menyalahkan Roselle, batin Yoga.
“Yeah terserah kamu," ujar Yoga. “Kamu ingin kembali ke Indonesia, atau ingin menemui Roselle?" tanya Yoga kemudian.
“Aku kembali saja." ujarnya lirih.
“Baiklah, itu pilihanmu, aku akan mempersiapkan jet pribadi."
Untung saja aku meminta Roselle untuk menetap disana, agar suatu saat nanti ada kesempatan kalian bertemu lagi, karena aku tahu, bahwa hati kalian saling mencintai, sedangkan aku, hanyalah menjadi orang ketiga yang mencintainya secara sepihak, batin Yoga.
****
Disisi lain, Rania yang diajak oleh Aisy ke restoran, dan kini ia pun sampai didepan restoran yang ia tuju. Dan Aisy pun masuk lebih dulu, sedangkan Rania masih mengikuti dari belakang, namun saat masuk ke dalam restoran, Rania menabrak seseorang.
“Maaf." ujar Rania menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa." ujar orang tersebut.
Rania yang mengenali suara itu ia pun mendongakkan kepalanya dan ...,
“Om Cody." seru Rania ramah.
“Hai juga, kamu sendirian?" tanya Tuan Cody.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya ikut temanku." ujar Rania ramah.
“Kalau begitu saya permisi dulu." ujar Tuan Cody. “Sebentar." sambungnya menghentikan langkahnya.
“Bolehkah kita makan bersama lain waktu?" ajak Tuan Cody.
“Boleh Om, siniin ponselnya, biar aku kasih kontakku." ujar Rania.
Dengan senang hati Tuan Cody pun memberikan ponselnya.
“Ini."
Keduanya sedikit lama berbincang-bincang dengan Tuan Cody sampai pada akhirnya mereka berpisah kembali. Akan tetapi Rania menemukan sebuah kertas yang jatuh dari sakunya Tuan Cody dan saat Rania ingin mengembalikannya, ia sudah tidak menemukan Tuan Cody.
Rania yang penasaran dengan kertas itu, ia pun membalikkannya dan akhirnya ia merasa bahwa ia menemukan dirinya dalam selembar kertas itu, dan ternyata itu adalah sebuah foto yang mana di dalam terdapat wanita cantik dan anggun sedang berdiri di samping seorang pemuda yang sangat tampan.
Kenapa? Kenapa aku menemukan foto dia lagi? Padahal itu bukanlah aku, tapi mengapa wajahnya sangat mirip denganku? Siapa sebenarnya wanita ini? Tunggu! Aku melihat di ruangan Papa kemarin itu, tertulis bahwa foto itu di ambil 25 tahun yang lalu. Dan yang sekarang 24 tahun yang lalu. Kenapa tidak sama? Siapa dia? Apakah aku harus meminta bantuan Zheihan? batin Rania kebingungan dan ia merasa hidupnya tidak lagi menentu, meskipun ia sudah bersama dengan orang yang ia cintai, tapi ia masih merasa ada teka-teki yang tersembunyi.
Rania yang terus melamun dan tidak menyadari bahwa Aisy sudah memanggilnya sedari tadi.
“Rania! Kau baik-baik saja?" tanya Aisy sedikit berteriak.
"Akh ..., Kak Aisy." seru Rania terkejut.
“Kamu baik-baik saja? Terus apa yang kamu pegang?" tanya Aisy.
“Enggak Kak, bukan apa-apa." ujar Rania cengengesan.
Tunggu, apakah Kak Raka sama Kak Zheihan mengetahuinya? batin Rania.
TBC
__ADS_1
Satu like sangat berarti buat author 😍