
Happy Readers 😍
.
.
.
“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu, kamu boleh pergi." Tutur Rania, karena ia tidak ingin memaksa seseorang yang tidak ingin mengatakannya.
“Permisi mbak." Anita pun keluar dan meninggalkan Rania di dalam berdua dengan Mexty. Rania pun duduk di tepi ranjang seraya mengelus rambutnya.
Sayang ... Maafkan Mama yang selalu membuatmu terus menderita, tapi Mama janji akan membuatmu bahagia. Batinnya lalu mengecup kening Mexty.
Setelah itu, Rania pun keluar dari kamar, karena ia ingin melihat sekeliling butiknya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh arah untuk mencari Nyonya Abelia, tetapi pandangannya tak sengaja melihat seseorang yang ingin ia hindari dan orang itu adalah Zheihan.
Dengan cepat ia berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar. Di sana ia mengambil masker yang ada di dalam tasnya yang tadi ia tinggal di sebelah Mexty.
Setelah Rania merasa sudah beres ia pun membuka pintu kamar. Ia berusaha tenang dan setenang mungkin agar tidak ketahuan oleh Zheihan.
“Anita di mana ya?" Gumamnya sambil mencari keberadaan Anita.
“Permisi ... Boleh saya bertanya?" Tanya seseorang yang baru saja menghampirinya.
Rania pun menoleh ke sumber suara itu.
Deg
Jantungnya berhenti berdetak sejenak saat ia melihat Zheihan berada di hadapannya dan seorang gadis yang sedang merangkul lengannya. Rania pun menghela nafas panjang agar perasaannya lebih tenang.
Rania ... tenangkan dirimu ... bukankah kamu menginginkannya menikah ... okay tenang dan tenang. Batin Rania berusaha menenangkan dirinya.
“Boleh mbak, Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rania dengan suara yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
“Tempat untuk baju pengantin di mana ya?" Tanya Cantika pada Rania dan masih merangkul lengan Zheihan.
“Owh ... Di ..." Belum sempat Rania melanjutkam ucapannya, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka.
“Sayang, kalian kenapa masih di sini? Mama sudah dari tadi menunggu kalian di sana." Tuturnya lembut sambil menunjuk ke arah barat yang mana di sana juga ada Nyonya Abelia. “Oiya ... Siapa gadis ini?" Sambungnya sambil menunjuk ke arah Rania.
“Mungkin dia salah satu karyawan di sini Tante." Ujar Cantika.
“Ya udah kalo gitu kita temui Abelia teman Mama." Wanita itu pun mengajak mereka kecuali Rania yang kini menahan rasa sakit di lubuk hatinya.
Zheihan hanya mengikuti permintaan Mamanya tetapi ia sempat menoleh ke arah Rania, karena ia merasa akrab berada di dekatnya.
Deg
Jantungnya berdetak tidak karuan saat ia melihatnya mengusap air matanya.
Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan wanita itu? Batinnya.
“Tidak ada." Ucapnya berbohong
Cantika yang penasaran ia pun menoleh ke arah belakang, tetapi ia tidak menemukan siapa-siapa.
Apa Zheihan melihat Rania ? Gumamnya sedikit penasaran. Namun ia tidak ingin ambil pusing dan memilih melanjutkan langkahnya.
“Monica ... ini putramu?" Tanya Nyonya Abelia sangat ramah dan menghampiri Zheihan.
“Iya, dia sangat gila dengan pekerjaannya, sehingga ia sering melupakanku." saut Nyonya Monica.
“Tidak masalah, putraku juga seperti itu." Ujar Nyonya Abelia.
“Eh ... siapa namamu cantik?" Tanyanya pada Cantika.
"Nama saya Cantika Tante."
__ADS_1
“Wah ... sesuai dengan orangnya cantik."
“Terima kasih Tante."
“Sama-sama, kalau begitu aku akan tunjukkin gaun pengantinnya. Mari ikuti saya."
Mereka bertiga pun mengikuti Nyonya Abelia sampai di sebuah ruangan yang penuh dengan gaun mewah dan sangat elegan.
“Wah ... Designnya semuanya sangat bagus Jeng." Puji Nyonya Monica setelah melihat gaun pengantin yang sangat indah.
“Itu putriku semua yang mendesainnya." Ujar Abelia sambil tersenyum.
“Wah ... benarkah? Tapi aku tidak melihat putrimu?" Celetuknya girang.
“Tadi dia bersamaku, karena putranya lagi tidur, mungkin sekarang ada di kamar istirahat." Jelasnya.
Abelia pun menganggukkan kepalanya.
“Maaf Tante, kalo boleh tau ... toiletnya di mana ya?" Tanya Zheihan di tengah perbincangan.
“Owh itu ... kamu lurus aja, kemudian belok kiri." Jelas Nyonya Abelia.
“Baik Tante Terima kasih" Ujarnya lalu berbalik melangkah.
“Kamu mau ngapain?" Tanya Cantika curiga.
“Aku ingin membuang air kecil."
“Jangan lama-lama."
“Hemmm ..."
TBC
__ADS_1