Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
Part 122 - Musuh dalam Selimut


__ADS_3

Happy Reader ❤️


.


.


.


Keesokan harinya, Mexty yang mencoba untuk membuka matanya yang masih mengantuk, bahkan ia menguap beberapa kali. Namun,ia merasa suatu yang berbeda dengan tempat tidurnya.


“Papa, Kenapa tidur di kamarku?" gumamnya.


“Sudahlah, lebih baik aku mandi."


Mexty pun bangun dan meninggalkan Zheihan sendiri. Berbeda dengan Rania yang sudah bangun tapi tidak menemukan Zheihan hingga ia baru menyadari bahwa ia sudah mengusirnya semalaman.


“Haissh, kenapa aku lupa kalau Zheihan tidur di luar?" batinnya sambil menepuk jidatnya.


“Sudahlah, aku mandi saja,"


Rania pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setengah jam kemudian ia pun turun dan menyibukkan diri di dapur untuk membuat sarapan pagi.Sedangkan Zheihan pun terbangun karena pancaran sinar matahari yang menembus jendela kamar, ia mencoba mengerjapkan matanya berkali-kali. Lalu ia keluar dari kamar Mexty dan menuruni tangga.


“Sayang,aku merindukanmu," seru Zheihan, langsung memeluk Rania begitu saja.


“Zhei, kau belum mandi, jangan memelukku sembarangan!" celoteh Rania.


“Haishh, apa kau tidak merindukanku?” tanya Zheihan sedikit memelas.


“Gak, cepat mandi gak usah ngelas!"


“Jangan galak-galak lohh, beri aku satu ciuman baru aku mau mandi," ucap Zheihan mencoba untuk merayunya.


“Aku tidak akan mencium orang yang belum mandi," sahutnya.


“Baiklah, aku pergi dulu," jawab Zheihan, setelah itu ia pun mencuri ciuman singkat di bibir ranum Rania lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


“Zheihan!" seru Rania kesal.


Mexty yang melihat kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rania yang menyadari kedatangannya ia pun meminta Mexty untuk duduk di ruang makan.


“Sayang Mama sudah bangun, tunggu Mama hampir selesai," ucap Rania sambil menata makanan di atas meja.


“Okay siap Ma," jawabnya.


“Oiya sayang, Mama sudah minta Uncle Rheihan buat jemput kamu nanti sepulang sekolah," tuturnya lembut. “Soalnya Mama ada sesuatu yang harus dilakukan," sambungnya.


“Tapi Ma, apakah nenek sihir tidak akan ikut ke rumah Uncel?" tanya Mexty karena ia tidak ingin bertemu dengan Auraf, jika ia bisa-bisa menjadi tertekan.


“Mama ada urusan apa?" tanya Zheihan sedikit penasaran.


Deg.


Rania sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Zheihan, haruskah ia mengatakan tentang misinya, tapi ia ingin menyelesaikannya sendiri tanpa melibatkan Zheihan.


“Owh itu Pa, ada urusan sama klien baru," jawabnya berbohong.


“Begitu, aku kira ada sesuatu yang penting,” ujarnya.


“Semoga saja ia tidak curiga," batinnya.


Zheihan pun mengiyakan dan tidak bertanya lagi apa yang akan di lakukan oleh Rania.Setelah berbincang-bincang mereka pun langsung menyantap makanan yang sudah dihidangkan tidak ada yang berbicara kecuali suara dentingan sendok dan piring.


***


Disisi lain Diandra yang sedang asik berbincang-bincang dengan seorang Pria dihadapan, dengan wajah sumringah ia memberikan setumpuk uang dan sambil berkata.


“Ini bayaran untukmu, dan aku ingin kamu membunuh perempuan yang ada di foto itu,ingat namanya Rania," ucapnya.


“Baik nona,saya akan lakukan apa yang anda perintahkan," sahutnya.


“Bagus. Sekarang kau boleh pergi.”

__ADS_1


Pria itu pun bergegas gegas pergi, sedangkan Diandra masih diam di tempat duduknya menunggu kedatangan seseorang. Tidak lama kemudian orang yang ia tunggu pun datang.


“Hai, akhirnya kita bertemu," seru wanita itu.“Apa kamu habis bertemu seseorang? Kenapa ini ada gelas minuman?" tanyanya sedikit penasaran.


“Iya, aku bertemu teman lama," ucapnya berbohong,karena ia takut orang yang ada dihadapannya menghancurkan rencana yang ia buat.


“Owh, kenapa dia sangat berburu-buru,kan aku bisa kenalan," ujarnya.


“Sudahlah Alvina,oiya kenapa kau mengajakku bertemu hari ini?” tanyanya.


“Aku ingin mengajakmu untuk kerjasama,"


“Kerjasama untuk?” pura-pura tidak tahu.


“Bukannya kamu memiliki dendam terhadap Rania?”


“Tidak, untuk apa aku punya dendam terhadap orang bodoh seperti dia," sahutnya berbohong.


Vina, aku tahu kau ingin mengambil keuntungan dariku, tapi aku tidak akan bekerjasama dengan seorang ceroboh seperti mu,batinnya.


“Benarkah,kenapa aku baru tau?”


“Mungkin kau terlalu banyak berpikir, memangnya apa yang sedang kamu rencanakan?"


“Tidak ada, hanya saja aku ingin merebut Zheihan kembali dalam pelukanku," sahutnya.


Diandra terdiam sejenak, ia tidak menyangka jika Alvina juga mengincar Zheihan menjadi miliknya.


Aku tidak akan membiarkan apa yang menjadi milikku di rebut orang lain, batinnya.


“Sejak kapan kau menyukainya?”


“Sudah lama,"


“Oiya, aku dengar kau membebaskan mantan tunangannya, kenapa kau tidak mengajak dia saja,"

__ADS_1


“Tidak, dia tidak bisa diajak kompromi, sudahlah aku pergi dulu," pamitnya.


“Okay."


__ADS_2