
Happy Readers 😍
.
.
.
.
Di tempat lain, Malvin baru sampai di sebuah restoran. Ia terlihat sangat lelah memikirkan tentang perasaannya yang sedang kacau, lalu ia pun masuk ke dalam restoran tanpa memerhatikan sekeliling.
Brukkk ...,
Ia menabrak seseorang tanpa sengaja, hingga membuat buku yang dibawa olehnya jatuh.
“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap Malvin lembut sambil membantu mengambilkan bukunya.
“Tidak apa-apa Tuan,” sahut gadis itu lembut.
Malvin yang tidak lagi asing mendengar suara itu, ia pun mendongakkan kepalanya sambil mengulurkan buku tersebut.
“Anisa?” seru Malvin tidak percaya bisa bertemu dengannya.
Gadis itu yang awalnya sibuk membuka tas, lalu mendongakkan kepalanya.
“Kak Malvin?” sapa Anisa tersenyum manis.
“Lama tidak bertemu,” ujar Malvin terdengar gugup.
“Karena Kakak terlalu lama di negeri orang,” ucap Anisa cengengesan.
“Kau benar, kalau boleh tahu, kamu kesini bersama siapa? Tunangan atau suami?” tanya Malvin sambil melihat ke sekeliling.
“Aku belum tunangan ataupun menikah, soalnya aku baru seminggu pulang dari Mesir,” tutur Anisa ramah.
”Owh, aku kira sudah menikah,” ucap Malvin mengangguk mengerti.
“Kalau Kakak sendiri tidak menikah?” tanya Anisa sedikit penasaran.
“Tidak, aku belum menemukan yang cocok untuk dijadikan istriku,” tuturnya santai.
“Semoga cepat dipertemukan, amiin,” ujarnya sambil mengamini.
“Semoga saja, kau sudah mau pergi?" tanya Malvin.
“Iya kak, soalnya ini sudah malam, jadi aku harus pulang sebelum jam sepuluh malam.”
“Mau ku antar?” tanya Malvin.
“Eh tidak perlu Kak, sebentar lagi taksi yang aku pesan datang,” ucap Anisa menolak dengan lembut.
__ADS_1
“Baiklah, hati-hati.”
“Terima kasih, kalau begitu Anisa pergi dulu Kak," ucap Anisa lembut.
“Pergilah!”
Anisa pun tersenyum dan mengangguk lalu pergi begitu saja.
***
Seperti biasanya, Rania bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan pagi, karena ia pun juga melarang Mexty menemaninya masak.
Setelah lama berkutat di dapur dan menyiapkan makanan di meja makan, ia pun pergi ke kamar Mexty.
“Sayang, sudah bangun apa belum?” tanya Rania sambil membuka pintu kamarnya.
Tidak ada jawaban dari Mexty, ia pun berjalan menghampiri tempat tidurnya. Dan ternyata Mexty masih tertidur pulas.
Cup
Rania mencium pipi tembem Mexty. Lalu, membisikkan sesuatu di telinganya, “Sayang, selamat pagi, cepat bangun. Sebelum Papa menghabiskan sup ayamnya,”
Mexty yang awalnya hanya berpura-pura tidur. Dengan sekejap ia pun turun dan berlari keluar kamar.
“Mama, jangan bangunkan Papa!” teriak Mexty sambil berlari siap menuruni anak tangga.
“Haishh dasar bocah! Jangan lari nanti kau jatuh!” seru Zheihan baru keluar dari kamarnya hanya mengenakan bathrobe.
“Morning Papa!” seru Mexty sambil mengedipkan matanya.
“Ya, morning juga,” jawab Zheihan santai.
“Ah, kau sudah bangun rupanya,” seru Rania.
“Tentu saja,” ujar Zheihan. Lalu berjalan mendekati Mexty dan menggendongnya.
“Papa! Turunkan Mexty!” seru Mexty kesal karena tidak suka.
“Diam kau jangan berisik, ini masih pagi!” ujar Zheihan mencubit pipi Mexty.
“Mama! Mexty tidak mau di gendong sama Papa!” seru Mexty kesal dan cemberut.
Rania hanya menggelengkan kepalanya, “Dasar kamu yah! Sudah jangan banyak protes,” tutur Rania berjalan mengikuti langkah Zheihan.
“Owh Tuhan, siapa yang bisa membela anak kecil seperti ku?” ucap Mexty berpura-pura menyedihkan.
“Husst, gak boleh ngomong seperti itu,” kata Zheihan menutup mulut Mexty.
“Akhhh Papa, turunkan Mexty dong! Mexty kan bukan anak kecil lagi, hemm.” Mexty pun memoyongkan bibirnya dan bersedekap.
“Ya ampun Mexty sayang, bisa tidak sehari saja kamu tidak banyak protes?! Kepala Mama pusing!” celetuk Rania menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Huuu, Mama jahat! Pokoknya nanti mau ke tempat Ayah!”
“Baiklah, kau boleh pergi,” ucap Zheihan lembut.
“Yuhuuu!”
Setelah sarapan pagi, mereka pun sudah siap untuk berangkat. Mereka pun membuka pintu keluar secara bersamaan. Namun, ada sebuah kotak yang terlihat rapi dan cantik, membuat mereka penasaran.
“Dady pesan paket?” tanya Rania pada Zheihan.
“Tidak, aku akhir-akhir ini tidak pernah belanja online,” jawab Zheihan santai.
“Mexty, kau yang pesan ini? Atau kamu beli gadget tanpa sepengetahuan kita?” tanya Rania pada Mexty.
“Mama! Kalau Mexty beli lagi yang ada Mexty di lempar ke asrama oleh Papa,” ucap Mexty sambil menunjukkan senyuman manisnya.
“Pinter!" ujar Zheihan sambil mencium pipi Mexty.
“Aku kan emang anak pintar,” ucap Mexty bangga.
“Aduh salah ngomong kan?” celetuk Zheihan.
“Bisa kalian diam gak?! Terus kotak ini siapa yang kasih?” tanya Rania berkacak pinggang.
“Coba dibuka aja,” ujar Zheihan.
”Tapi Dady, kita gak tau ini punya siapa?” ujar Rania.
“Ini kan ada di sini, siapa tahu Kak Raka, Mama atau Papa,” tuturnya.
“Hemm, okay kita buka,” ujar Rania memberanikan diri untuk mengambil kotak tersebut.
“Jangan sekarang deh Ma, nanti Mexty telat,” celetuk Mexty cemberut.
“Oiya, kita taruh di ruang tamu saja.” Rania pun berbalik dan meletakkan kotak tersebut di atas meja, tapi entah mengapa ia sangat penasaran dengan kotak tersebut.
Siapa yang mengirim kotak ini? Kalau Kak Raka, kenapa dia tidak menelponku? pikir Rania.
“Sayang, sudah belum?!” teriak Zheihan dari luar.
“Iya, sebentar!” Rania pun keluar dan meninggalkan kotak tersebut, meskipun ia sangat penasaran dengan isinya.
Kenapa perasaanku jadi aneh begini?
TBC
NB: Maaf kalau ceritanya tidak nyambung T_T
tapi semoga kalian tetap suka.
Like & Komen 🤩
__ADS_1