
Happy Readers 😘
.
.
.
“Apa?! Keracunan?” seru Rania dan Zheihan serentak.
Mereka sangat terkejut mendengar putranya keracunan, sedangkan dirinya baik-baik saja. Keduanya pun saling memandang dan Rania hanya mengangkat kedua bahunya.
“Aku tidak tau apa-apa, cuman kita kan makan bersama semalam, bagaimana dia bisa keracunan?” ujar Rania tidak percaya.
Begitu juga dengan Zheihan. “Benar Dok, kita makan bersama, kenapa cuman anak kita yang keracunan?”
“Tapi diagnosa kami anak kalian keracunan makanan, tidak mungkin hasil lab saya yang salah,” ucap doktor Qinzy berusaha tenang dan sabar.
“Tunggu, apakah Mexty semalam kau memberikan stik pada Mexty setelah dari kamar mandi?” tanya Zheihan pada Rania.
“Tidak, aku tidak memberikan apapun padanya, aku kira itu dari kamu," ujar Rania lembut.
“Oiya, saya permisi dulu karena harus menangani pasien yang lain," ujar Dokter Qinzy berpamitan pada mereka.
“Silahkan dan terima kasih,” ujar Zheihan.
Dokter Qinzy pun pergi meninggalkan mereka berdua yang sedang kebingungan dan masih banyak pertanyaan di benak mereka.
“Kita lihat Mexty dulu,” ajak Rania merangkul lengan Zheihan dan mendapatkan anggukan kecil darinya.
Setelah sampai di dalam, mereka duduk di sebelah brankar tempat Mexty berbaring.
“Sayang, cepat bangun,” ujar Zheihan lembut sambil mencium kening Mexty.
“Kau tidak ingin ke kantor?” tanya Rania pada Zheihan.
“Tidak, aku ingin menemaninya,” ujarnya.
“Kau pergilah, di sini aku yang menemani dia, aku tidak apa-apa," ucap Rania lembut dan penuh pengertian.
“Sayang, aku hanya ingin menemani kalian, urusan pekerjaan biar Ricky yang mengurusnya,” ujar Zheihan santai.
“Hei, tidak boleh begitu, bagaimana kalau dia ada yang menunggu, gara-gara dia sering lembur,” protes Rania tidak terima.
“Tenang saja cintaku, dia masih jomblo,” ujar Zheihan menahan tawa sambil mencium kening Rania.
“Apakah aku tidak dihiraukan?” seru Mexty dengan suara lemahnya.
__ADS_1
“Tidak sayang, Papa kira Mexty belum bangun," ujar Zheihan berusaha menenangkan Mexty dan bersikap lembut.
“Hemm.”
“Mexty, apa kamu mengenali orang yang memberikan makanan stik semalam?” tanya Rania lembut.
“Dia baru saja sadar, kenapa kau memberikan pertanyaan?” bisik Zheihan geram.
“Aku hanya bertanya," sahut Rania santai, “sayang masih ingat kan?” tanya Rania sekali lagi.
“Mama, kepala Mexty masih pusing,” keluh Mexty.
“Maaf, apa kau lapar?”
Mexty pun menganggukan kepalanya.
“Aku yang akan membelikan kalian makanan," ujar Zheihan lalu beranjak dari tempat duduknya.
Cup.
Cup.
Satu kecupan mendarat di kening Mexty, dan satu lagi untuk Rania. Kemudian ia keluar dari ruang inap Mexty.
Entahlah, apa aku yang merasa aneh dengan sikap Zheihan? batin Rania.
“Mama Kenapa?" tanya Mexty pelan.
“Okay Mom.”
***
Raihan yang mendengar Mexty di bawa ke rumah sakit, dengan sekejap ia mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sehingga kini ia berada di parkiran mobil rumah sakit.
Haisshh, baru kali ini si bocah keracunan,batin Raihan menggelengkan kepalanya.
Ia pun berjalan menelusuri lorong rumah sakit sambil mengibaskan rambutnya, sehingga membuat suasana rumah sakit heboh karena ia terlihat seperti idol.
“Wah, apakah dia artis terkenal?”
“Bolehkah aku menjadi istrinya?”
“Siapa dia, kenapa sangat tampan?”
Itulah yang terucap dari mulut para netizen rumah sakit, tidak lepas dari sosok gadis yang dari kejauhan melihatnya.
Raihan, batinnya meneteskan air matanya.
__ADS_1
Raihan yang kebingungan karena lupa bertanya pada Rania, di mana Mexty di rawat. Sehingga ia pun berjalan menghampiri resepsionis.
“Mbak, kalau boleh tahu, pasien yang bernama Mexty Andreas Zixte ada di kamar mana ya?” tanya Raihan dengan cepat, tetapi tidak mendapatkan respon sedikitpun darinya, karena sang resepsionis terlalu fokus melihatnya.
“Mbak, saya sedang bertanya?!” seru Rania memukul meja resepsionis.
“Ah iya mas, ada yang bisa saya bantu?”
“Pasien bernama Mexty Andreas Zixte di kamar nomer berapa Mbak?”
“Kamar VVIP nomer tiga Mas,” ujarnya.
“Terima kasih,” seru Raihan lalu berlari kecil. Namun, di pertengahan jalan ia menabrak seseorang.
“Awwh,” seru gadis itu kesakitan dan berusaha bangun.
“Apa kau baik-baik saja?" tanya Raihan sedikit panik, sedangkan gadis itu yang mendengar suara lembut dari Raihan, membuat ia tidak ingin menatap wajahnya.
Gadis itu pun hanya mengangguk tanpa ada niatan untuk melihat ke arah Raihan.
“Mari aku bantu, tolong ulurkan tanganmu!” pinta Raihan lembut dan mengulurkan tangannya.
Namun, gadis itu tetap tidak bergeming dan hanya menatap lantai dengan tatapan kosong. Raihan yang merasa bersalah. Ia pun duduk untuk membantunya, sedangkan gadis itu tidak bisa menolaknya.
“Kau baik-baik saja kan?” tanya Raihan sekali lagi, berusaha untuk memastikan bahwa orang yang ia tabrak baik-baik saja.
Gadis itu pun hanya mengangguk. “Terima kasih,” ujarnya.
Raihan yang sedari tadi tidak melihat wajahnya, seketika ia mendongakkan kepalanya saat mendengar suara orang yang ia kenali.
“Anita, akhirnya aku bertemu denganmu,” seru Raihan kegirangan dan memeluk tubuh Anita.
“Rai, tolong lepaskan pelukannya,” pinta Anita.
Raihan pun hanya bisa melepaskan pelukannya. “Maaf.”
“Anita, kenapa kau ada di sini? Bukannya aku memintamu untuk istirahat?” seru seseorang yang baru saja tiba merangkul pundak Anita.
Raihan yang melihat itu hanya bisa tersenyum hambar, baru ia sadari bahwa dirinya tidak akan pernah lagi berarti untuknya.
“Aku minta maaf,” ujar Anita pada pemuda itu yang tidak lain adalah Dokter Qinzy.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Raihan pun pergi meninggalkan mereka berdua tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tetapi, saat itu juga ia bertemu dengan Audira yang tengah berdiri dari kejauhan menatapnya.
Audira? Apakah dia melihatku memeluk Anita? batin Raihan.
...TBC...
__ADS_1
...Like dan Komen...
NB: Terima buat Readers yang sudah menunggu Author update 🥰