
Happy Readers
.
.
.
Di rumah sakit, Raka dan Zhaif menunggu dokter keluar dari ruang ICU.
“Kakak, apa kita perlu memberi tahu Mexty?” tanya Raka,
“Jangan dulu, kita akan memberi tahu Mexty setelah Rania di pindahkan ke ruang inap,” saut Zhaif masih dalam perasaan yang kacau.
“Tapi bagaimana jika Mexty meneleponku? Kakak kan tahu sendiri, aku sudah mengajari dia menggunakan IT sejak umur empat tahun, bagaimana kalau dia melacak ponselku,” tutur Raka ketakutan,
“Itu risikomu sendiri yang mengajarkan IT pada Mexty, bukannya kamu tahu kalo dia memiliki IQ lebih dari dua ratus,” ucap Zhaif mengingatkan bahwa Mexty memanglah cerdas.
“Iya, aku tahu, tapi ...”
“Kamu hubungi saja dia, dan bertahu Rania sedang di rumah sakit dan katakan kamu yang akan menjemput Mexty kemari,” tutur Zhaif santai.
“Baiklah, apa kita perlu kasih tahu Mama dan Papa?”
“Tidak perlu, aku takut Papa akan bertindak gegabah.”
__ADS_1
“Okay, aku akan memberi tahu Mexty.” ujar Raka langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Mexty.
Sedangkan di sisi lain, Mexty masih diam menatap garang pada Zheihan.
“Mexty, Papa sudah minta maaf sayang, Papa menikah karena permintaan Rania.” Ucap Zheihan mencoba membujuk Mexty agar melepaskannya.
“Aku tidak peduli!! Kalau Mama mengizinkan Papa menikah, kenapa Mama selalu menangis karena Papa!!” bentak Mexty pada Zheihan.
Menangis? Apa Rania menangis karena aku? Batin Zheihan bingung.
“Apa maksudmu sayang?” tanya Zheihan penasaran.
“Apa papa tidak dengar apa yang Mexty katakan?” tanya Mexty sedikit kesal.
Tiba-tiba ponselnya pun berdering.
“Mexty! Bisakah kamu tidak berteriak? Telinga ayah hampir terbang” ucap Raka sekenanya.
“Iya, Mexty hanya panik, di mana Mama?” tanya Mexty langsung pada topiknya.
Zheihan yang mendengar keduanya berbicara, ia pun bangkit dari duduknya, akan tetapi, belum sempat ia melangkah, Zheihan mendapatkan teriakan dari Mexty terlebih dahulu.
“KAMU DIAM DI SITU!” teriak Mexty pada Zheihan, sehingga Zheihan pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk, dari pada ia mendapatkan teriakan dan omelan yang tidak jelas dari Mexty.
“Mexty kamu bertengkar sama Atika?” tanya Raka dari seberang telepon.
__ADS_1
“Bukan, tapi Papa,” ucap Mexty santai.
“Kamu berada di rumah Zheihan? Dan meninggalkan Atika sendirian?” tanya Raka sedikit khawatir.
“Tidak, Mexty ada di rumah ayah, kalau bibi sedang bermain game,” tutur Mexty santai.
“Lalu kenapa Zheihan ada di rumah ayah?” tanya Raka penasaran.
“Mexty menculiknya tadi karena ingin menikah lagi,” ujar Mexty.
“Apa?! Kamu menculik Zheihan di hari pernikahan?” tanya Raka tidak percaya.
“Iya.” jawab Mexty singkat.
“Okay, kamu menculik Zheihan dengan siapa?” tanya Raka penasaran.
“Sama bibi Atika, dan menggunakan mobil ayah,” ucap Mexty tanpa sadar, padahal ia ingin menyembunyikannya dari Raka, akan tetapi mulutnya tidak dapat di kontrol, sontak ia pun menutup mulutnya.
“Mobil ayah? Kamu pakai yang mana?” tanya Raka tiba-tiba merasa tidak tenang.
“Eumm ... I ... itu ... yang ada di dalam garasi ke ... dua dan ...” ucap Mexty berbelit-belit karena ia takut Raka akan marah jika mobil yang di gunakan adalah mobil kesayangannya.
“Mexty cepat katakan!!”
“BMW 50i ” ucap Mexty ragu.
__ADS_1
“Apa??!!!” teriak Raka seketika. Benar dugaan Mexty jika Raka akan marah.
TBC