
Happy Reader 🥰
Berbeda dengan Zheihan yang baru sampai di rumah setelah bertemu dengan anak buahnya. Ia pun berjalan menaiki tangga menuju ke kamar, ia melihat sekeliling dan tidak menemukan istri kesayangannya.
Kemudian ia meraih ponselnya untuk menghubungi Rania.
Tut
Tut
Tut
“Iya halo, ada apa?” tanya seseorang dari balik telpon dengan lembut.
“Kau dimana? Cepatlah pulang, aku merindukanmu, cepat pulang, aku tunggu kau sepuluh menit dari sekarang," ucap Zheihan manja.
Sedangkan Rania yang baru saja masuk ke dalam mobilnya menghela nafas dan merasa heran dengan sikap Zheihan hari ini.
“Mama, buruan pulang, Mexty ingin tidur,” seru Mexty cemberut.
“Papa sama anaknya sama aja, iya iya aku pulang sekarang, matikan saja teleponnya,” ucap Rania. Setelah panggilan terputus, ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar tidak menggangu Mexty yang mulai terpejam.
Lima menit kemudian Rania pun telah sampai di rumah. Ia masuk ke dalam sambil menggendong Mexty, sesampai di ruang tamu ia melihat Zheihan sedang menatapnya.
“Tunggu sebentar.” Rania pun berjalan menuju kamar Mexty dan meninggalkan Zheihan di ruang tamu.
Zheihan yang melihatnya tidak berkomentar apapun, melainkan ia merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil menunggu Rania datang.
Tidak lama kemudian, Rania pun kembali dan menghampirinya.
“Ada apa? Kenapa kau memintaku buru-buru untuk pulang?” tanya Rania lembut sambil mengelus rambut Zheihan.
Tanpa menjawab pertanyaan Rania, ia pun bangun dan menarik tubuh Rania ke dalam pelukannya. Sedangkan Rania hanya pasrah dan terdiam, lantas membalas pelukannya.
__ADS_1
“Aku merindukanmu," sahut Zheihan manja.
“Astaga, bukannya tiap hari kita bertemu?”
“Iya, tapi apa boleh buat jika aku merindukanmu, aku takut kau diambil oleh orang lain,” ucapnya lirih.
“Tidak akan, aku kan istrimu." Rania mengecup kening Zheihan agar ia merasa tenang.
“Apa kau lapar?" tanya Rania.
“Tidak, aku ingin memakanmu saja,” sahutnya sambil menatap wajah Rania.
“Tidak, aku tidak mau.”
“Ayolah, biar kita bisa membuatkan Mexty adek.”
“Tidak mauu, mmmphhh ....,”
***
“Kak Anita, ini sudah malam, apa kau tidak ingin tidur?" tanya seseorang yang baru saja datang.
Anita pun menoleh ke arah sumber suara itu. “Arin, kenapa kau datang kemari?”
“Dokter Qinzy memintaku untuk menemanimu, karena dia masih ada urusan," jawabnya lembut.
“Seharusnya kau istirahat saja, aku tidak apa-apa,” ujarnya tersenyum manis.
“Tidak apa-apa, ini sudah menjadi tugasku," sahutnya.
“Terima kasih. Oiya Arin, jika nanti operasiku gagal, boleh tidak aku minta sesuatu padamu,” ucap Anita lembut.
“Meminta sesuatu? Baiklah katakan, akan aku penuhi," sahutnya sambil duduk di kursi di sebelah bangsalnya.
__ADS_1
“Kemarilah!” Atika pun menggenggam tangan Arin dengan lembut.
“Bolehkah aku memintamu untuk selalu bersama dengan Qinzy? Menikahlah dengannya, apa kau mau?” tanya Anita sembari menatap lekat ke arah Arin dengan wajah sendu nan pucatnya itu.
Arin yang mendapatkan pertanyaan seperti itu, ia tidak tahu harus menjawab apa, haruskah ia menyetujuinya? Ataukah ia menolak? Jika ia menolak apakah Anita akan baik-baik saja? Atau dia akan kecewa padanya?
“Kak Anita tidak boleh bilang seperti itu, percayalah kalau kak Anita akan sembuh, kalau aku menerimanya belum tentu Dokter Qinzy mau menikah gadis bodoh sepertiku," tuturnya lembut berusaha untuk menyakinkan bahwa Anita akan baik-baik saja.
Berbeda dengan Qinzy yang mendengar obrolan diantara keduanya, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan tersebut.
Anita, aku berjanji akan melakukan apapun, agar kau cepat sembuh, aku pasti bisa menemukan dokter untukmu, batinnya.
Anita tersenyum dan mengusap wajah cantik Arin. “Tidak, kau tidak bodoh, kau gadis cantik dan luar biasa, aku hanya bisa mengatakan itu padamu, tolong jangan menolak.”
“Tapi ...,” ucapan Arin terhenti.
“Anita ini sudah malam, Arin kau boleh keluar," seru Qinzy.
“Baik Dok." Arin pun pergi dan meninggalkan mereka berdua.
“Qinzy, apa kau tidak ingin menikah?” tanya Anita.
“Tidak ada wanita yang aku sukai di luar sana,” sahutnya santai dan ia sudah tau arah pembicaraannya.
“Menikahlah sebelum aku pergi, aku hanya ingin melihatmu bahagia, agar kau tidak terlalu sibuk dengan rumah sakit," tuturnya.
“Aku tidak ingin menikah!”
“Bagaimana dengan Arin? Bukankah dia gadis yang baik? Menikahlah dengan dia," pintanya.
“Anita, wanita yang aku cintai itu kamu! bukan yang lain!" seru Qinzy mulai kesal. “Apa kamu tidak merasakan apa selama ini, aku sayang sama kamu," serunya sekali lagi.
“Qinzy, jangan emosi, tapi aku tidak mencintaimu, jadi tolong kau itu sahabat baikku, aku hanya ingin melihatmu menikah,” tuturnya.
__ADS_1
“Okay kalau gitu, aku akan melakukannya karena itu permintaanmu," ucap Qinzy sedikit kesal bercampur emosi.
“Terima kasih.”