
Shila pun menoleh dan terkejut saat melihat Kaisar berdiri dibelakangnya sambil menatap layar laptop Shila dengan intens. “Eh Prof Kai. Saya sedang mencari Paper untuk bahan disertasiku Prof.” jawab Shila dengan sopan. Ia masih merasa canggung dengan pria yang baru beberapa hari menjadi atasannya.
“Kau sedang melanjutkan study doktoral?” tanya Kaisar lagi. Tatapannya kini beralih menatap Shila. Gadis itupun mengangguk sebagai jawabannya. Jujur saja ia sudah pegal mendongakkan kepala untuk menatap Kaisar yang masih berdiri dibelakangnya.
Dalam hati Shila berharap jika Kaisar segera pergi dari sana. Sehingga Shila tidak perlu repot-repot menatap Kaisar tiap menjawab pertanyaan dari atasannya itu. Tanpa diduga oleh Shila, Kaisar justru menarik kursi miliknya dan duduk disebelah Shila.
“Dimana kau melanjutkan study doktoralmu Shil?” tanyanya lagi lalu ikut melihat layar laptop Shila lagi. Bahkan kini dengan entengnya Kaisar langsung mengetikkan keyword pencarian paper dengan tema yang Shila cari. Dan hal itu membuat Shila terbelalak kaget, memang benar kemampuan seorang Profesor tidak perlu diragukan lagi. Masih banyak situs-situs indexing paper yang dia tidak tahu. Dan kini dengan mudah Kaisar membantunya.
__ADS_1
“Saya melanjutkan study doktoral di Universitas Negri XXX” jawab Shila setelah ia mengucapkan terimakasih atas bantuan dari Kaisar untuk membantunya mencari paper yang tidak Shila minta.
“Kenapa tidak mengambil study diluar negri? Banyak beasiswa bukan?” Tanyanya lagi karna penasaran. Sangat banyak beasiswa sekolah diluar negri. Bahkan Kaisar mendapat beasiswa untuk study Master, Doctoral dan Postdoctnya di luar negri.
“Mama saya tidak mengijinkan Prof. Beliau hanya tinggal bersama saya disini. Jadi saya memilih untuk meneruskan study doktoral saya di kota ini saja. Toh kampus paling bagus di negri ini juga berada dikota ini bukan?”
Kaisar menganggukan kepalanya tanda paham apa alasan Shila untuk memilih melanjutkan pendidikannya dikota ini. “Oh ya Shil, kau tidak perlu terlalu formal padaku. Santai saja jika berbicara denganku. Anggap aku sama seperti si burung temanmu itu.” Kaisar menunjuk Dara dengan lirikan matanya. Sementara Dara yang dilirik justru mencebikkan bibirnya. Sejak perkenalan pertamanya dengan Prof Kai, Profesor muda itu memang memberinya julukan Dara dengan sebutan ‘si burung’ karna Dara merupakan salah satu jenis burung.
__ADS_1
“Prof Kai memberiku julukan si burung Shil. Katanya namaku sama seperti nama jenis burung. Burung dara.” Jelas Dara dengan bibirnya yang mengerucut. Shila pun terbahak mendengar perkataan Dara. Dia juga baru menyadari jika apa yang Kaisar katakan memang benar bahwa Dara adalah salah satu jenis burung.
“Kalau kau memerlukan bantuan, kau bisa mengatakan padaku Shil. Selagi aku bisa membantumu aku pasti akan membantu. Ingat kau harus konsisten jangan sampai kau buntu lalu berhenti ditengah jalan.” Nasehat Kaisar yang diangguki oleh Shila.
Tok tok tok.
Seorang office boy mengetuk pintu dengan kesusahan karena kedua tangannya penuh dengan barang-barang milik Shila. Mendengar suara ketukan pintu, membuat Dara, Shila dan Kaisar sama-sama menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Setelah melihat jika Farid, salah satu office boy yang sering Shila mintai tolong untuk membelikan makan siang ataupun memfotocopy berkas-berkas. Gadis itupun mengijinkan Farid untuk masuk, Dara dengan sigap membantu Farid yang terlihat sangat kewalahan dengan barang bawaannya.
“Miss Shila, ini pesenan makanan dan minumannya. Oh ya Miss ada kiriman bunga dan coklat seperti biasanya.” Kata Farid sambil menyerahkan barang bawaannya tadi. Namun untuk coklat dan bunga kiriman dari penggemar Shila sudah diambil oleh Dara lebih dulu.