
Jovan sengaja mampir ke apartment Rayden. Kini Shila sudah pindah ke kediaman Kaisar. Dirinya sudah tidak bisa mampir lagi kerumah Shila saat pulang kerja seperti biasanya. Bukan tidak bisa tapi jika dia mampir kerumah lama Shila tentu hanya akan bertemu dengan Mama Alya. Dan jika dirinya mampir ke kediaman Shila saat ini yang tidak lain adalah rumah milik Kaisar, tentu saja dia merasa sungkan. Apalagi dia belum mengenal Kaisar begitu dalam.
“Kenapa mukamu lesu begitu? Kau sedang sakit Ray?” Tanya Jovan begitu melihat Rayden duduk termenung di meja makan. Jovan memang sudah diberi tahu password apartment Rayden oleh sahabatnya tersebut. Jadi dirinya bebas untuk keluar masuk.
“Tidak.” Jawab Rayden tak bersemangat.
Jovan mendekati Rayden kemudian menyentuhkan punggung tangannya ke kening lelaki tampan itu. “Sedikit panas, sebentar aku ambilkan obat dulu.” Ujar Jovan hendak membuka tas kerjanya namun ditahan oleh Rayden.
__ADS_1
“Apa kau lupa jika aku juga seorang dokter?” Rayden menatap sendu ke arah Jovan. “Hatiku sakit Jo, kenapa Shila justru menikah dengan pria lain?” Lanjutnya menatap Jovan dengan nanar.
Sakit hati diselingkuhi Lily dulu dan diputuskan Lily beberapa waktu yang lalu tidak sesakit saat mengetahui kini Shila sudah menjadi istri Kaisar. Dirinya baru menyadari, benar kata pepatah jika seseorang akan berarti jika orang tersebut sudah pergi dari kehidupan kita.
Dulu saat dirinya pergi meninggalkan Shila begitu saja untuk menuntut ilmu ke Jakarta dan bahkan mereka tidak pernah berkomunikasi selama tujuh tahun bagi Rayden hal itu tidak membuatnya sedih.
Tapi dia tidak sadar jika waktu mampu mengubah segalanya. Shila tetap menerima kehadirannya, tetap bersikap baik kepadanya, namun dia lupa jika Shila jugalah manusia biasa yang memiliki takdir hidupnya sendiri. Dan takdir tidak menuliskan Rayden untuk menjadi pendamping hidup Shila.
__ADS_1
Jovan memandang Rayden dengan perasaan iba. Ya begitulah manusia, namanya penyesalan pasti akan selalu berada di belakang. “Dia bukan jodohmu Ray.” Ucap Jovan berusaha menghibur Rayden.
“Kau tahu pasti jika Shila tidak berbuat seperti yang kak Andra dan Mama Alya tuduhkan. Lalu kenapa kau tidak membelanya? Kenapa kau tidak mencegah dia menikah dengan Kaisar? Aku bisa menggantikan Kaisar jika memang Shila harus menikah saat itu juga.” Rayden mencecar Jovan, ia menyesalkan segalanya. Baru saja dia mau berjuang tapi kenapa keadaan harus membuatnya terpukul mundur dan berbalik arah?
Jovan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tahu rasanya patah hati, dan mungkin patah hati Rayden kali ini benar-benar menyakitkan. “Aku tidak punya hak apapun atas diri Shila, dia hanya sebatas sahabatku Ray. Mama Alya sangat menyukai Kaisar, jauh sebelum peristiwa itu terjadi Mama Alya sangat bersemangat menjodohkan keduanya. Aku juga bisa melihat jika Mama Kaisar sangat menyayangi Shila. Kedua wanita itu sama-sama ingin jika Shila dan Kaisar bersatu. Dan sepertinya Tuhan mengabulkannya dengan adanya kecelakaan itu.” Jovan mulai berkisah dengan serius, tidak ada Jovan yang selengekan dan suka membanyol seperti biasanya.
Air mata Rayden luruh begitu saja. Tidak ada isak tangis tapi air mata itu terus turun tanpa bisa dicegah. Hatinya sakit dan sulit untuk menerima kenyataan ini. Tapi apa yang dikatakan Jovan adalah kebenaran. Dia tidak bisa memaksakan segala sesuatu berjalan sesuai kemauannya.
__ADS_1