
Shila mengangguk semangat. Beruntung sekali Kaisar sendiri yang menawarkan untuk pisah kamar dengannya, jujur saja dia sendiri belum siap jika harus tidur sekamar dengan laki-laki tersebut yang kini sudah menjadi suaminya.
“Itu ide yang bagus, terimakasih Prof. Kita berdua sama-sama membutuhkan waktu dan tidak secepat itu untuk beradaptasi menjadi suami istri yang sesungguhnya.” Sahut Shila semangat.
“Pernikahan kita adalah sesuatu yang tidak terduga Shil. Itu bukan berarti akan mengubah segalanya. Kau tetap bisa melakukan segala sesuatunya seperti biasanya. Aku tidak akan membatasimu untuk melakukan apapun dan berteman dengan siapapun Shil.”
“Termasuk dengan Jovan dan Rayden?” Tanya Shila, ia takut jika Kaisar akan membatasinya untuk berteman dekat dengan Jovan dan Rayden. Khusunya Jovan, pria itu sudah menjadi bagian dari hidup Shila cukup lama. Dan tidak mungkin Shila bisa lepas dari Jovan begitu saja.
“Siapapun itu Shil, kau bebas pergi kemanapun dan dengan siapapun selama hal itu tidak melanggar norma dan aturan yang berlaku. Aku tidak mau mengekangmu, tidak mudah bagi kita untuk menerima pernikahan ini. Maka dari itu aku akan mulai untuk menjadi kakak yang baik untukmu dengan memberimu kebebasan untuk bergaul dan melakukan hal-hal yang kau sukai.
__ADS_1
“Terimakasih Prof. Aku masih tidak percaya jika atasanku sendiri yang menjadi suamiku.” Gumam Shila diakhir kalimatnya. Ia tidak tahu jika Kaisar bisa mendengar gumamamnya.
“Bisakah kau mengubah panggilanmu saat kita sedang bersama? Tidak mungkin kau terus memanggilku dengan sebutan ‘prof’ sementara statusmu adalah istriku. Tidak masalah jika kau memanggilku seperti itu jika sedang berada dilingkungan kampus atau sedang berada di forum akademik. Tapi jika sedang bersama seperti ini, aku tidak mau dipanggil seperti itu. Bagaimana kita bisa akrab jika panggilanmu itu seperti mendirikan dinding pembatas antara atasan dan bawahan.” Protes Kaisar, menguba panggilan adalah langkah awal untuk membuat dirinya dan Shila juga dekat.
“Lalu aku harus memanggil apa?” Shila justru berbalik menanyai Kaisar. Jujur saja selama dia berpacaran, dia selalu memanggil nama kekasihnya tanpa embel-embel apapun.
“Mamil? Apa itu?” Shila tak paham maksud pangilan suaminya untuk dirinya.
“Mamil adalah singkatan dari Mama Shila. Aku tidak mungkin memanggilmu Mama, bisa-bisa nanti Mama Risa yang akan menoleh.” Sahut Kaisar menjelaskan.
__ADS_1
“Oh begitu rupanya.” Shila menganggukan kepalanya, terdengar lucu dan juga manis. Baru kali ini dia mendapat panggilan unik selain kancil dari Jovan dan juga Rayden. “Baiklah, mulai saat ini aku akan memanggilmu kak.”
Kaisar mulai memejamkan matanya. “Hmm…Tidurlah. Besok kita harus berangkat lebih pagi karna aku harus kembali kerumah dulu untuk berganti pakaian. Sorenya baru aku akan menjemputmu kesini dan membawamu kerumahku secara resmi.” Lanjutnya lagi sebelum benar-benar tertidur.
“Bagaimana reaksi Icha dan Kenny jika aku sekarang sudah benar-benar menjadi ibu bagi mereka?” Monolog Shila menatap langit-langit kamarnya karna gadis itu sudah merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya hingga sebatas perut.
“Tentu mereka sangat bahagia, bukankah itu memang keinginan mereka.” Sahut Kaisar dengan mata yang tertutup. Dirinya sangat lelah, lelah fisik dan lealh pikiran. Ia tidak menyangka akan mengalami kejadian luar biasa. Pernikahan keduanya benar-benar diluar prediksinya.
Shila mematikan seluruh lampu dan menyisakkan lampu tidur, ia melirik Kaisar sekilas. ‘Apa ini yang dinamakan ucapan adalah doa? Ucapan Mama benar-benar menjadi kenyataan, aku menikah dengan seorang duda’ Batin Shila lalu ikut menyusul Kaisar yang sudah lebih dulu memasuki alam mimpi.
__ADS_1