
“Kau benar Jo, tapi sulit bagiku melupakan Shila. Aku baru sadar jika aku mencintainya, sejak dulu hingga sekarang. Aku saja yang selalu mengelak perasaan itu hingga akhirnya sekarang aku benar-benar harus melepaskannya sebelum aku bisa menggenggamnya”
“Kau hanya ditakdirkan untuk hadir didalam perjalanan namun bukan menjadi akhir tujuan Shila. Ikhlaskan dia Ray, melepaskan yang belum kau genggam memanglah sangat menyakitkan. Namun itu yang harus kau lakukan. Kau masih tetap bisa mencintai dan menyayangi Shila namun dengan cara yang lain.” Jovan mengusap dan menepuk bahu Rayden perlahan. Memberikan kekuatan dan semangat untuk Rayden.
“Tidak usah kau lupakan, biarkan waktu membuatmu terbiasa dengan keadaan yang baru. Kau tidak akan bisa melupakannya jika hatimu tidak menginginkanya, satu-satunya cara adalah dengan membuatnya terbiasa.” Jovan memberi saran dan nasehatnya untuk Rayden.
“Apa aku harus menjauhi Shila?” Tanya Rayden meminta pendapat Jovan.
Tentu saja Jovan menggeleng dengan cepat. “Bukan begitu caranya, kau harus membiasakan diri dengan keadaan Shila sekarang. Kau masih berhak mencintainya namun tidak dengan memilikinya. Jadilah sahabat dan kakak yang baik untuknya, itulah hakikat tertinggi saat mencintai seseorang. Kau rela melepasnya, membiarkannya mencari kebahagiannya namun kau tetap selalu ada untuknya kapanpun dia membutuhkanmu.” Entah kenapa kali ini Jovan berbiacara sangat bijak. Mungkin kerasukan arwah motivator terkenal.
Dering ponsel Jovan membuat lelaki itu buru-buru mengambil ponsel yang berada pada saku celananya. Dia melihat jika Shila tengah menelponya. “Shila.” Kata Jovan memberitahu Rayden. Lelaki itupun mengangguk, menyuruh Jovan untuk mengangkat panggilan dari Shila.
__ADS_1
“Ada apa Shil? Kau pasti merindukanku.” Ucap Jovan dengan percaya dirinya saat mendengar suara ‘halo’ dari Shila.
“Kau itu terlalu percaya diri.” Semprot Shila kesal. “Kemarilah Jo, aku membutuhkan bantuanmu. Kenny mengalami demam dan batuk, tolong kau segera kemari dan periksa keadannya.” Pinta Shila kepada Jovan.
“Sekarang?” Tanya Jovan memastikan.
“Lebaran monyet! Tentu saja sekarang, cepat kutunggu kedatanganmu.”
Tanpa menunggu jawaban dari Jovan, Shila sudah lebih dulu mematikan sambungan ponselnya.
“’Kenapa Shila?” Rayden menatap Jovan dengan raut wajah yang menunjukkan kekhawatirannya.
__ADS_1
“Anak Shila sakit, eh maksudku anak Profesor Kaisar. Ah ya sama saja, itu juga sudah menjadi anak Shila. Intinya aku harus segera kesana karena Shila memintaku untuk memeriksa keadaan Kenny.” Jelas Jovan yang beranjak berdiri lalu bersiap untuk pergi.
Untung saja dirinya saat ini berada di apartment Rayden yang juga berada di daerah Palagan. Tidak jauh dari tempat Kaisar, mungkin sekitar dua puluh menit menggunakan mobil sudah sampai.
“Aku ikut.” Kata Rayden yang juga bergegas bangun untuk membasuh mukanya dan berganti pakaian.
Jovan hanya bisa melongo, terkejut dengan perubahan Rayden yang begitu drastis. Mungkin Rayden ingin melihat suami dan juga anak-anak sambung Shila. Pikir Jovan tak mau ambil pusing dan membairkan Rayden untuk ikut dengannya.
*
*
__ADS_1
Kaisar kembali ke kamar Kenny untuk melihat keadaan anaknya. Dilihatnya anak bungsunya tersebut masih terbaring, sedangkan Karla dan Shila malah tidur disamping kanan dan kiri Kenny.
“Mil, kenapa kau tidak bersiap-siap? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk bersiap membawa Kenny kerumah sakit?” Tanya Kaisar menatap sang istri yang justru sedang berbaring dan terus mengusap dahi Kenny yang berkeringat.