
Namun keduanya sama-sama terkekeh tidak tersinggung sama sekali. Takut jika Shila akan marah kalau mereka terus memaksanya, akhirnya Jovan dan Rayden bermain berdua. Hampir seluruh permainan di timezone mereka coba. Shila dengan setia duduk ditempatnya sambil mengamati Rayden dan Jovan yang bermain begitu asyiknya.
“Kalian memang kompak sedari dulu. Pantas jika Ray juga menganggap Jovan sebagai adiknya. Apalagi kini kalian berdua juga sama-sama menjadi dokter spesialis.” Monolog Shila semabari tersenyum tipis.
Ada rasa bangga dihatinya saat melihat teman dekatnya menjadi orang-orang yang sukses. Tadinya dia khawatir saat Jovan yang asal-asalan semasa SMA mendaftar jurusan kedokteran. Ia takut jika itu hanya euforia Jovan sesaat yang ingin mengikuti jejak Rayden untuk mejadi dokter karna lelaki itu memang terkenal pintar bahkan sering mengikuti perlombaan matematika.
Berbeda dengan Jovan yang dulu justru sering mengikuti perlombaan olah raga, khususnya basket. Untung saja kekhawatiran Shila tidak terjadi karna setelah diterima di fakultas kedokteran, Jovan berubah menjadi sosok yang rajin belajar. Namun tetap saja sifat konyol dan playboy yang melekat padanya tidak bisa hilang begitu saja. Bahkan hal itu justru semakin terlihat kala Jovan berhasil menjalani sumpah dokter dan meraih gelar dokternya.
__ADS_1
Puas bermain dengan seluruh permainan yang ada di timezone, kedua lelaki itu berjalan mendekati Shila dengan nafas yang terengah. Sepertinya permainan terkahir yang mereka coba cukup membuat keduanya kelelahan. “Sudah bermainnya anak-anak?” Shila seolah-olah sedang menanyai kedua anaknya.
“Sudah Mam, dan sekarang kami lapar.” Sahut Jovan dengan suara yang dibuat mirip seperti anak kecil.
Ketiganya pun tertawa bersama. Hanya hal sederhana seperti itu bisa membuat suasana menjadi hidup. Dulu semasa SMA memang mereka bertiga tidak terpisahkan. Meskipun Rayden satu tahun diatas Shila dan Jovan yang tidak lain adalah kakak kelas keduanya, namun Rayden tidak pernah malu untuk bermain dengan kedua adik kelasnya tersebut.
Rayden bukan orang asli Jogja dan kedua orang tuanya tinggal di Magelang, tapi Rayden memilih untuk bersekolah di salah satu SMA favorit yang ada di kota pelajar. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk mandiri dengan tinggal di kost semasa ia bersekolah. Dan hanya akan pulang ke Magelang jika ada libur panjang.
__ADS_1
“Mau makan apa?” Tanya Shila memandangi keduanya bergantian.
“Ayam bakar.” Ucap Jovan dan Rayden bersamaan. “Bu Meni” Lanjut keduanya yang lagi-lagi berkata secara bersamaan. Dua lelaki yang terpaut satu tahun itupun saling berpandangan lalu lagi-lagi tertawa bersama.
Dulu semasa mereka SMA, setelah puas bermain di timezone pasti ketiganya akan mengisi perut mereka dengan makan ayam bakar yang letaknya tidak jauh dari mall dimana mereka bermain timezone.
“Baiklah ayo, sepertinya Bu Meni juga sudah sangat merindukanmu Ray. Karna kau yang paling tidak terlihat selama beberapa tahun ini. berbeda denganku dan Jovan yang masih cukup sering makan atau membungkus ayam bakar dari sana.” Ajak Shila yang mulai bangkit dari duduknya lalu memberikan masing-masing barang milik Rayden dan Jovan yang dititipkan kepadanya.
__ADS_1
“Iya aku merantau ke Jakarta cukup lama, dan sepertinya aku akan menetap disini untuk selamanya. Jadi Bu Meni bisa melihat wajahku sampai bosan nantinya.” Rayden terkekeh dengan ucapannya begitupun dengan Jovan. Ketiganya pun memutuskan untuk pergi ke resto ayam bakar langganan mereka dengan kendaraan masing-masing.
Karna bisa dipastikan setelah perut kenyang, ketiganya pasti akan kembali ke rumah. Oleh sebab itu lebih baik menggunakan mobil mereka masing-masing daripada nanti harus bolak-balik kembali ke mall hanya untuk mengambil mobil yang ditinggalkan oleh salah satu atau salah dua dari mereka bertiga.