
Sesuai janjinya kemarin, sekarang Shila sudah berada di salah satu tempat makan yang dulu cukup sering dia datangi bersama Rayden. Selain nasi briyani, Shila dan Rayden sama-sama penggila steak.
“Sudah lama sekali kita tidak makan berdua seperti ini Shil, terakhir kali kita pergi berdua hal itu justru membuatmu menjauhiku beberapa waktu.” Rayden berkata sambil memasukkan potongan daging kedalam mulutnya.
“Itu karna ulahmu sendiri, jadi bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Lily? Kenapa kalian bisa putus? Benar bukan aku penyebabnya?” Shila memborbardir Rayden dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah ingin dia tanyakan dari kemarin.
Meskipun dia semalam sudah menikah dengan Kaisar, tapi kenyataannya hanya statusnya saja yang berubah. Semuanya masih sama, Shila berangkat ke kampus sendirian karna suaminya sudah lebih dulu kembali ke rumahnya pukul lima pagi untuk berganti pakaian dan bersiap berangkat bekerja agar tidak terlambat.
__ADS_1
“Lily yang memutuskanku. Menurutnya aku terlalu alim, berpacaran denganku terlalu datar katanya.” Rayden mulai menceritakan penyebab hubungannya dengan Lily harus kembali kandas . “Aku tidak ingin merusaknya, aku berusaha menjaganya. Tapi ternyata dia justru lebih menyukai pria bertipe badboy atupu fvck boy, bukan goodboy sepertiku.” Rayden terkekeh menyombongkan diri di akhir kalimatnya.
Shila mengangguk-anggukan kepalanya. Dia sama sekali tidak kaget mendengar jika Lily memutuskan Rayden karna hal tersebut. Seingatnya dulu saat SMA, pergaulan Lily memang lebih bebas dan tidak terkontrol. Ucapan gadis itu juga kasar dan sangat suka untuk clubbing.
“Kau tidak akan menemukan orang yang tepat jika masih bersama orang yang salah, oleh sebab itu Tuhan memisahkanmu dengannya karena dia bukan orang yang tepat untukmu Ray. Sebenarnya yang kuherankan dari dirimu adalah, kau jauh-jauh berkuliah dan bekerja sampai Jakarta tapi kenapa ujung-ujungnya harus kembali pada Lily? Apa tidak ada gadis lain disana yang menarik perhatianmu?” Heran Shila yang baru bisa mengungkapnya keheranannya saat ini sambil menyesap teh leci yang ia pesan.
Dia tampan, mapan, banyak gadis yang menyukainya sedari SMA. Namun kenapa ia harus memilih Lily? Gadis itu jauh dari kata cantik, jauh dari kata ramah. Lily tidak cantik, tidak ramah, dan dia juga bukan gadis yang pintar. Berbanding terbalik dengan Rayden yang pintar, ketua Osis dan tentu saja memiliki fisik yang banyak memikat kaum hawa.
__ADS_1
Kelebiha Lily hanya badannya yang ramping dan sedikit lebih tinggi dibanding wanita pada umumnya. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Shila yang cantik, kulitnya putih kekuningan, matanya sedikit sipit dan ia memiliki lesung pipi kecil di pipi kanannya.
Memang cinta itu buta, tidak memandang fisik semata. Contohnya saja Rayden, padahal banyak yang menyayangkan saat Rayden menjalin hubungan dengan Lily. Entah apa yang dilihat lelaki itu dari gadis yang bernama Lily.
“Yang pertama belum tentu menjadi yang terkahir. Cinta boleh, bodoh jangan. Tapi kebanyakan jika orang jatuh cinta maka akan menjadi bodoh, oleh sebab itu aku tidak mau jatuh cinta terlalu dalam jika bukan dengan suamiku sendiri.” Shila menyahuti tanpa sadar bahwa dirinya kini sudah memiliki seorang suami.
“Ya kau benar, cinta terkadang membuat kita menjadi orang gila dan bodoh. Tapi aku rasa aku tidak akan mengulangi kebodohanku lagi, sudah saatnya aku mencari satu untuk ku seriusi.” Rayden menatap Shila dalam-dalam.
__ADS_1