
“Kau tadi bilang jika dia baru saja dilantik menjadi Dekan difakultasmu?” tanya Jovan hendak mengkonfirmasi sesuatu. Shila pun mengangguk sebagai jawabannya. “Berarti dia atasanmu?” tanya pemuda itu lagi dan Shila kembali mengangguk.
Sedetik kemudian baik Shila maupun Jovan saling memandang karna seperti mendapatkan ingatan mereka kembali. “Apa kau mengatakan jika kita berhubungan sejak SMA kepadanya?” tanya Shila pada akhirnya setelah menyadari dan mengingat bahwa Jovan pernah bertemu dengan Kaisar.
Jovan mengangguk lalu tertawa dengan kerasnya. Masih tidak menyangka jika ayah pasien tempo hari yang memeriksakan putranya adalah seorang profesor muda. Karna pada saat mengantar Kenny ke rumah sakit penampilan Kaisar jauh dari kata modis. Pria itu hanya menggunakan celana kolor dengan motif polkadot dan kaos putih press body yang biasanya digunakan sebagai dalaman.
Mama Alya memandang keduanya secara bergantian. Heran kenapa tiba-tiba Jovan tertawa begitu kerasnya. Ia kini memandang Shila seolah bertanya kenapa tiba-tiba sahabat baik sang putri terbahak tidak ada hentinya. Namun Shila hanya mengedikkan bahunya tanda tidak mengerti.
“Hei, sudah hentikan! Kau jangan menjadi orang gila.” Seru Shila lalu mencubit lengan Jovan hingga akhirnya tawa Jovan berubah menjadi suara kesakitan.
__ADS_1
“Kau ini benar-benar kejam kepadaku.” Akting Jovan pura-pura sedih.
“Apa yang kau tertawakan?” tanya Shila penasaran.
“Aku tidak menyangka jika lelaki itu adalah seorang Profesor. Dia memang tampan dan aku juga tidak percaya jika usianya sudah 37 tahun. Kupikir dia masih berada di usia 30an.” Jovan setuju dengan penilaian Shila mengenai Kaisar, namun penampilan Kaisar kemarin sungguh sangat menggelikan. “Aku tertawa saat mengingat dia mengantar putranya untuk berobat kepadaku. Penampilannya sungguh menggelikan, hanya menggunakan celana kolor polkadot dengan atasan press body. Untung saja wajahnya tampan dan bodynya bagus sehingga bisa menutupi penampilan konyolnya itu.” Jelas Jovan yang kembali terbahak.
“Shila dan Mama Alya melongo mendengar ucapan Jovan, lalu di detik berikutnya kini Shila juga ikut terbahak bersama Jovan. Membanyangkan penampilan Kaisar seperti yang Jovan katakan pasti sangat menggelikan.
Dia tidak mau membuat dua orang menunggunya terlalu lama. Karna jika dibiarkan terus-menerus baik Jovan maupun Shila pasti akan bercanda dan bersantai tak mengenal waktu.
__ADS_1
*
*
Pukul 10 kurang lima belas menit kini Jovan dan Shila sudah berada di Bandara. Tentu saja Shila merasa heran kenapa Jovan membawanya kemari. Setahunya tidak ada kerabat Jovan yang berada terlalu jauh dari kota ini. Dan biasanya semua kerabatnya yang kemari akan menggunakan mobil pribadi atau kereta.
“Kita mau menjemput siapa Jo?” tanya Shila celingukan. Bahkan Jovan tidak mengijinkan Shila untuk mengintip ponselnya ketika dirinya sedang bertukar pesan dengan Rayden.
“Tunggulah sebentar lagi, nanti kau juga akan tahu sendiri.” Jawab jovan sambil menurunkan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya hingga mendekati ujung hidungnya. Pemuda itu mengamati satu persatu orang yang keluar dari pintu kedatangan.
__ADS_1
“Shil, senyumlah.” Ucap Jovan sambil menarik paksa Shila kedalam rangkulannya. Pemuda tersebut mengajak sahabat baiknya untuk berselfie sambil menunggu kedatangan Rayden.
Dan bukannya tersenyum, Shila lebih memilih untuk mengerucutkan bibirnya membentuk duck face yang sangat menggemaskan. “Gue sosor juga tuh bibir kalo manyun-manyun terus.” Ujar Jovan menggoda Shila.