
Kaisar berdecak lalu kembali duduk disamping Shila. Ia membenarkan letak selimut Shila dan juga menepikan helaian rambut Shila. “Kau jangan memikirkan anak-anak, lagipula mereka berada ditempat neneknya. Besok juga masih hari libur jadi biarkan mereka disana. Kau harus pulihkan dirimu dulu Mil.”
“Hmm…” sahut Shila dengan mata yang terpejam.
Setelah memastikan Shila tidur, Kaisar segera bangkit dan membersihkan diri lalu bersiap untuk pergi ke masjid. Pria itu memang cukup rajin untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Hal itu yang membuat Shila semakin mengagumi sosok suaminya.
Sepulangnya Kaisar dari masjid, ia melihat Mama Risa yang tampak senyum-senyum tidak jelas ketika melihat Kaisar sudah kembali kerumah.
“Mama kenapa?” Tanya Kaisar keheranan.
__ADS_1
“Apa kau dan Shila lembur semalaman untuk membuatkan adik untuk Kenny? Biasanya Shila sudah bangun dan berolah raga pagi tapi tadi Mama lihat dia masih tidur. Apa kau membuatnya kelelahan Kai?” Goda Mama Risa yang belum tahu jika Shila sedang tidak enak badan.
Kaisar memutar bola matanya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Mama jangan berpikiran yang aneh-aneh.” Bantahnya karena memang dugaan Mama Risa tidaklah benar.
Mama Risa memandang Kaisar jengah “Bagian mananya yang aneh-aneh? Wajar bukan jika mama berpikir kau membuatkan cucu lagi untuk Mama. Itu juga hal yang lumrah bagi suami istri. Atau jangan-jangan kau belum pernah menyentuh Shila?” Tuduh Mama Risa yang benar tepat sasaran.
Kaisar berdeham untuk mengusir rasa gugupnya. Ia tidak mungkin berkata jujur jika dirinya sampai detik ini belum menjadikan Shila sebagai istri yang seutuhnya. Bisa-bisa Mama Risa akan murka dan ceramah selama tujuh hari tujuh malam.
Mama Risa menepuk punggung Kaisar dengan keras hingga putra sulungnya tersebut mengaduh kesakitan. “Kau ini kenapa tidak bilang daritadi jika Shila sedang tidak enak badan? Bisa saja jika dia hamil.” Ujar Mama Risa yang membuat Kaisar mendelikkan matanya lalu menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
Mama Risa justru kini berjalan mendahului Kaisar, bergegas menuju kamar dimana Shila berada. Kaisar yang sudah tersadar pun ikut segera menyusul Mamanya. Ia tidak ingin Mama Risa berkata yang tidak-tidak dan akan membuat Shila pusing.
“Sayang..” Panggil Mama Risa yang melihat Shila baru melepas mukena. Sepertinya Shila baru selesai menunaikan sholat subuh.
Shila menoleh kearah sumber suara dan tersenyum saat melihat Mama Risa masuk ke kamarnya disusul oleh Kaisar yang berada di belakangnya. “Kata suamimu kau sedang tidak enak badan, apa kau mengalami mual?” Tanya Mama Risa langsung.
“Iya ma, aku sedikit merasakan mual tapi untungnya tidak sampai muntah. Mama tidak usah khawatir, aku hanya masuk angin.” Shila menenangkan Mama Risa agar tidak mengkhawatirkan dirinya.
“Mama tidak khawatir sayang, tapi Mama bahagia jika dugaan Mama benar. Coba nanti kau melakukan tes kehamilan, siapa tau kau hamil.” Ucap Mama Risa lagi yang membuat Shila melongo. Sementara Kaisar menutup matanya sesaat dan mencoba mengatur emosinya.
__ADS_1
“Hamil?” Beo Shila mengulang perkataan Mama mertuanya.
Mama Risa mengangguk penuh semangat. “Tentu saja hamil, kau sudah menikah dengan Kaisar dan wajar jika kau hamil. Mama sudah tidak sabar jika disini tumbuh bibit Dhananjaya.” Mama Risa mengusap lembut perut rata Shila.