ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Timezone


__ADS_3

Jumat sore adalah hari yang paling membahagiakan bagi orang-orang yang bekerja kantoran. Pasalnya hari itu adalah hari terakhir mereka bekerja dalam sepekan. Niat Shila untuk pulang kerumah harus diurungkannya karna dirinya sudah menerima ajakan Rayden dan juga Jovan untuk pergi ke timezone.


Flashback on


“Ayolah Shil, sudah lama kita tidak bermain di timezone bukan?” Jovan kembali merengek agar Shila mau menurutinya.


“Ya memang sudah lama, tapi aku malas jika ada Lily.” Jujur Shila pada Jovan. Pemuda yang tengah menelponnya itupun terkekeh dari sebrang sana.


Ia sudah menduga sebenarnya jika alasan Shila menolak adalah karena kehadiran Lily. “Tidak mungkin ada dia, aku bisa menjamin itu. Apa kau lupa jika Lily sangat tidak suka jika pergi bermain bersama dengan kita?” tanya Jovan mengingatkan dan tentu saja Shila jadi mengingat hal tersebut.


Gadis bernama Lilyanna itu memang tidak suka untuk sekedar jalan atau hangout bersama dengan Jovan dan Shila. Dulu ketika Rayden berpacaran dengan Lily mereka tidak pernah pergi berempat bersama dengan Shila dan Jovan.


“Baiklah, kalian tentukan saja di mall yang mana. Aku akan langsung menyusul kesana sepulang kerja. Jangan membuatku menunggu terlalu lama, kalau tidak awas saja kalian akan aku tinggal pulang.” Shila memberi ultimatum.

__ADS_1


Lagipula setelah Shila pikir-pikir kapan terakhir kali dirinya pergi ke timezone? Rasanya sudah sangat lama. Dulu semasa SMA, mereka bertiga cukup sering pergi ke timezone dan kini adalah pertama kalinya mereka akan pergi bersama lagi setelah sekian lama. Jadi tidak ada salahnya jika kini ia menerima ajakan dari dua dokter spesialis tersebut.


“Siap bos,” sahut Jovan lalu panggilan keduanya pun berakhir.


Flashback off


Shila melajukan mobilnya menuju mall yang sudah mereka sepakati. Gadis itu sengaja datang terlambat agar dirinya tidak perlu menunggu para lelaki yang biasanya selalu datang terlambat. Namun dugaannya salah, kini ia bisa melihat betapa lincahnya Rayden dan Jovan bermain pump dance dan membuat orang-orang mengeremuni mereka.


“Dasar, dari dulu selalu saja menarik perhatian orang.” Gerutu Shila sebal lalu duduk dibangku yang tersedia disana. Gadis itu tidak bisa melakukan permainan pump dance. Sedari dulu hingga sekarang, Shila akan selalu menjadi penonton setia yang menyaksikan pertunjukkan Jovan dan Rayden.


“Ayo cepat, lihatlah wajah kancil sudah berubah muram karna menunggu kita bermain pump dance.” Rayden merangkul bahu Jovan agar mengikuti langkahnya menuju ketempat Shila berada.


“Hari ini belum mendapat timun ya Cil makanya wajahmu muram begitu?” Ejek Jovan yang kini sudah duduk disamping Kiri Shila sementara Rayden duduk disebelah kanan Shila. Membuat orang-orang yang melihatnya menjadi iri karna Shila diapit oleh dua lelaki tampan sekaligus.

__ADS_1


“Tidak lucu.” Shila mencebikkan bibirnya. “Dari dulu sampai sekarang kebiasaan kalian tidak hilang, lupa segalanya jika sudah berdiri di arena pump dance.” Imbuh Shila kesal.


“Bukannya lupa, lagipula kau sendiri yang datang terlambat. Sambil menunggumu tentu saja kami memanfaatkannya dengan bermain.” Rayden berusaha membela dirinya dan juga Jovan.


“Ya sudah sana bermain lagi. Aku akan menunggu kalian disini.”


“Ayo kita main bertiga.” Seru Jovan bersemangat.


“Tidak. Tadi kesepakatannya yang bermain adalah kalian berdua dan aku hanya menemani. Sana puas-puaslah bermain mengenang masa SMA. Aku akan duduk disini sambil menjaga barang bawaan, lagipula aku terlalu tua untuk bermain disini.” Ucap Shila setengah menyindir dua lelaki disampingnya ini.


Halo readers kesayanganku, makasih yang udah baca karya keduaku. Dikarya yang kedua ini ceritanya akan sedikit lebih panjang dan konfliknya lebih berat dari cerita pertamaku kemaren. Nikmatin aja ya, alurnya pelan tapi gak bertele-tele dan insyallah ga akan ada yang namanya pelakor.


Stay save an stay healthy 💕

__ADS_1


I love u banyak banyak ❤️❤️❤️❤️❤️



__ADS_2