
“Mau kemana Shil?” Pertanyaan dari Kaisar sontak membuat Shila sedikit terkejut dan menghentikan langkahnya.
Saat ini dirinya memang sedang berjalan menuju loby karna Rayden mengatakan akan menjemputnya untuk makan siang. Namun saat melewati parkiran sepeda motor, namanya dipanggil oleh Kaisar. Sepertinya mobil Kaisar belum selesai diperbaiki, buktinya atasannya tersebut masih menggunakan sepeda motornya.
“Aku akan makan siang diluar, kau sendiri darimana Prof?” Shila menghentikan langkah kakinya. Menjawab pertanyaan dari Kaisar dan kini gantian melempar pertanyaan untuk profesor muda tersebut.
“Aku baru saja bertemu seseorang. Bukankah hari ini adalah jadwalmu untuk bertemu dengan kepala dukuh di daerah Turi, tempat mahasiswamu menjalani KKN?” Kaisar mengingatkan karna dirinya sempat menyimak obrolan di grup fakultas.
Shila memang melayangkan protes kala dirinya menjadi dosen pendamping lapangan (DPL) untuk kelompok KKN yang akan diterjukan didaerah Turi. Gadis itu protes karna dari rumahnya menuju Turi cukup jauh, seharusnya dia bisa ditempatkan menjadi DPL kelompok KKN yang akan diterjunkan di daerah berbah atau kalasan. Daerah yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.
__ADS_1
“Setelah makan siang aku akan langsung kesana Prof. Mahasiswa yang lain juga sudah kukabari jika kita akan langsung berkumpul disana selepas ashar.” Jelas Shila lagi.
“Oh begitu rupanya, hati-hati Shil. Kalau membutuhkan sesuatu kabari segera” Ujar Kaisar yang diangguki Shila. Gadis itupun kembali berjalan menuju loby dan disana bisa ia lihat mobil milik Rayden sudah terparkir dengan sempurna.
Tanpa aba-aba, Shila membuka pintu mobil Rayden dan langsung duduk disebelah pemuda tersebut. Keduanya memang janji akan makan siang bersama karna hari ini ada salah satu kedai ikan bakar yang baru saja buka.
Rayden memang penggila aneka olahan seafood, ikan bakar adalah salah satu makanan kesukaannya. Dokter spesialis itu memang lebih menyukai makanan yang pengolahannya dibakar daripada digoreng. Maklum saja, seorang dokter pasti menjaga kesehatannya dimulai dari mengatur pola makannya.
“Aku sudah melakukan reservasi sebelumnya, jadi sudah pasti kita akan mendapatkan tempat duduk, ayo” Ajak Rayden lalu menggamit tangan Shila agar gadis itu berjalan dibelakangnya.
__ADS_1
Untung saja Rayden sudah melakukan reservasi terlebih dahulu sehingga dirinya dan juga Shila bisa mendapatkan tempat duduk.
“Kenapa tidak memesan kepiting?” Tanya Shila keheranan. Dia ingat betul jika Rayden adalah penggila seafood yang satu itu. Tapi kenapa kini dia hanya melihat olahan ikan, cumi, lobster dan udang saja. Dirinya dan Rayden memang memiliki satu kesamaan yaitu sama-sama tidak menyukai kerang.
“Kau alergi pada kepiting, untuk apa aku memesanya. Aku tidak mau bersenang-senang diatas penderitaanmu.” Goda Rayden yang dengan telaten mengupas kulit udang untuk Shila.
Kebiasannya sedari dulu yang ternyata masih terbawa hingga kini. Shila memang tidak menyukai kulit udang, namun jika udang tersebut diolah dengan cara digoreng tepung hingga krispy barulah dia mau memakan udang beserta kulit dan kepalanya.
“Aku masih bisa memakan yang lainnya kak” Shila mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Rayden terkekeh mendengar ucapan Shila. Sudah sangat lama Shila tidak memanggilnya ‘kak’. Panggilan itu Shila sematkan kepadanya karna Rayden memang kakak kelas Jovan dan juga Shila. Dirinya satu tahun berada diatas mereka berdua.
Rayden baru saja meletakkan udang yang sudah ia kupas kulitnya ke piring Shila. “Makanlah, lagipula aku juga sedang tidak ingin memakan kepiting hari ini.”