
“Kenapa mendadak? Kupikir kau mau membantu Ray membereskan apartmentnya.” Ujar Jovan sedikit terkejut karna permintaan Shila yang tiba-tiba.
“Ck” Shila berdecak sebal. “Sudah ada Lily, kenapa aku yang harus membantu Ray? Lagipula aku juga masih memiliki urusan.”
“Baiklah, aku rasa itu lebih baik. Setelah mengantar Rayden aku akan pergi menemui seseorang. Doakan aku Shil agar semuanya berjalan sesuai harapan.” Jovan melirik Shila dari kaca spion tengah. Gadis itu hanya memutar bola matanya jengah.
“Menemui mangsa baru begitu maksudmu? Ya semoga saja kau terkena balasan atas perbuatanmu selama ini.” ucap Shila yang membuat Jovan bergidik ngeri.
“Heh Kancil, bicaralah yang benar! Jangan mendoakan keburukan untukku.” Ucap Jovan merengek tidak terima.
__ADS_1
Rayden menatap Jovan dan Shila bergantian. Keduanya tidak berubah sama sekali, Jovan yang sangat amat manja kepada Shila dan Shila yang sebenarnya penuh perhatian tapi seolah-olah bersikap acuh kepada Jovan. Mereka berdua sering mendebatkan hal kecil namun sangat jarang bahkan tidak pernah terlibat pertengkaran besar.
Shila hanya mencebikkan bibirnya, terus menggoda Jovan yang merengek kepadanya. Sebenarnya Rayden ingin mencegah Shila untuk pergi namun dia tak mempunyai alasan yang tepat. Apalagi dia baru saja kembali ke kehidupan Shila, tidak mungkin ia melarang Shila begitu saja. Memangnya siapa dia? Dan punya hak apa dia?
Setelah menurunkan Shila di tempat yang disebutkannya tadi, kini Jovan kembali mengantar Rayden untuk mengambil kunci di tempat Lily. Sesungguhnya Jovan tau jika Shila menghindari untuk bertemu dengan Lily, oleh sebab itu ia membiarkan Shila untuk turun ditempat yang gadis itu inginkan.
Jovan menyempatkan untuk menelpon Shila ketika Rayden turun untuk menemui Lily guna mengambil barang-barang miliknya. Kesempatan itu digunakan Jovan untuk menanyakan keadaan Shila. Jarak MCD Jombor yang cukup jauh dari kediaman Shila membuat Jovan sedikit khawatir meninggalkan sahabatnya itu. Apalagi ia yakin jika Dara adalah alasan yang dibuat Shila agar bisa terbebas dari Rayden dan Lily.
“Tentu aku baik-baik saja, baru juga beberapa menit kau meninggalkanku. Ada apa?” tanya Shila heran.
__ADS_1
“Syukurlah kalau begitu. Aku tahu jika itu hanya akal-akalanmu mengatakan akan bertemu dengan Dara padahal kau menghindari Lily bukan?” Tebak Jovan tepat ke intinya.
“Itu kau tahu. Sudah sana kumatikan ya, sudah giliranku untuk memesan.”
“Baik, berhati-hatilah. Oh ya siapa yang nanti akan menjemputmu?” Tanya Jovan khawatir mengingat jika ia tidak mungkin bisa menjemput Shila setelah ini karna dirinya akan berkencan dengan gadis yang baru diincarnya.
“Aku akan meminta Mama untuk menjemputku. Aku sudah besar Jo, tidak usah terlalu khawatir padaku. Sudah kutup teleponnya ya.”
Klik, Shila mematikan ponsel sepihak tanpa menunggu jawaban dari Jovan. Gadis itu hanya memesan pie, kentang goreng dan juga eskrim. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanannya siap, Shila beranjak untuk mencari tempat duduk.
__ADS_1
Berhubung hari ini adalah weekend, tentu saja tempat tersebut sangat ramai pengunjung. Shila bahkan cukup kesusahan untuk mencari tempat duduk sampai pada akhirnya ada seseorang yang tiba-tiba merebut nampan miliknya lalu mendorongnya untuk berjalan didepan orang tersebut.
“Bergabunglah bersama kami.” Ucap seorang pria tanpa menunggu jawaban Shila. Pria itu terus mendorong bahu Shila agar melangkahkan kakinya menuju meja miliknya.