
Malam ini adalah malam pertama bagi Shila dan juga Kaisar. Keduanya hanya duduk diatas tempat tidur dengan saling mendiamkan satu sama lainnya. Shila sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Sama halnya dengan Kaisar yang sudah berganti kaos dan juga celana santai yang dipinjamnya dari Andra.
Kini keduanya duduk diranjang sambil berhadap-hadapan. Canggung? Jelas, Tidak pernah terlintas dikeduanya bahwa malam ini mereka berdua akan menjadi suami istri. Padahal tadi pagi Kaisar masih membawakan buket bunga kiriman dari Rayden untuk Shila.
“Ehemm..” Kaisar berdeham untuk mengurangi kegugupannya. “Shil, sekarang kita sudah menjadi sepasang suami istri. Mungkin tidak mudah bagi kita untuk menerima pernikahan ini, tapi kita harus berusaha sebaik mungkin. Aku tidak akan menuntut macam-macam kepadamu. Aku tahu kita sama-sama butuh waktu. Besok kau harus sudah mulai tinggal bersamaku, kau ikut aku karna aku suamimu.”
Shila membuka matanya lebar-lebar. Yang Kaisar katakan benar, dirinya sudah menjadi istri Kaisar saat ini meskipun hanya secara siri. Itu tidak membuat hak Kaisar atas dirinya berkurang sedikitpun, dan berarti Shila harus mengikuti perkataan Kaisar. “Baik Prof, tapi aku belum terbiasa jika kita tidur bersama.” Jujur Shila yang malam ini saja dia rasanya tidak akan bisa tidur karena dikamarnya ada Kaisar.
__ADS_1
“Aku juga merasakan hal itu, tapi malam ini kita harus tidur sekamar. Jika tidak kakakmu dan Mama Alya mungkin akan kembali memarahi kita.” Kaisar memijat pangkal hidungnya. Sungguh rasanya masih tidak percaya jika kini dia sudah menikah lagi dan dengan teman sekantornya pula.
“Prof, bisakah kita tidak usah memberitahukan pernikahan kita kepada siapapun, khusunya teman-teman sekantor kita? Apalagi pernikahan kita juga baru resmi secara agama saja.” Tanya Shila pelan-pelan talut jika menyinggung Kaisar.
“Ya aku setuju denganmu, lagipula aku belum tahu bagaimana lingkungan kampus jika suami istri berada di satu fakultas yang sama. Aku tidak ingin menimbulkan masalah kedepannya.” Kaisar mengangguk setuju dengan usulan Shila.
“Kalau begitu istirahatlah Prof, kau bisa tidur diatas ranjang dan aku akan tidur di sofa bed.” Shila hendak beranjak dari ranjang namun tangannya ditahan oleh Kaisar.
__ADS_1
“Apa kita akan seperti ini terus Prof kedepannya?” Shila menatap gusar kepada sang suami yang sudah duduk di sofa.
“Maksudmu?” Kaisar mengangkat salah satu alisnya. Tak paham dengan maksud pertanyaan Shila.
“Apakah ketika aku sudah pindah kerumahmu kita akan tidur tersiksa begini? Tidak nyaman bukan tidur di sofa? Mungkin tak masalah untuk satu malam ini. Tapi untuk malam-malam selanjutnya tidak mungkin akan begini terus bukan?”
“Tenanglah Shil, besok aku akan menyiapkan kamar khusus untukmu.” Kaisar menenangkan istri barunya tersebut agar tidak berpikiran yang aneh-aneh.
__ADS_1
“Untukku? Kita akan tidur terpisah? Bagaimana jika Tante Risa tahu, apa itu tidak akan menimbulkan masalah untuk kita?”
“Kau belum terbiasa tidur dengan orang lain bukan, begitupun denganku. Kau akan tidur disalah satu kamar yang ada dirumahku, sedangkan aku akan tidur di kamarku dengan mendiang istriku. Setiap pagi sebelum subuh aku akan masuk ke kamarmu. Dengan begitu Mama tidak akan curiga jika kita tidur terpisah. Bagaimana menurutmu?” Jelas Kaisar agar istrinya paham dan tidak salah sangka kepadanya.