ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Ingin makan bersamamu


__ADS_3

“Seharusnya kau mengajak Lily saja, dia bisa memakan segalanya jadi kau bisa memesan kepiting kesukaanmu itu.” Ujar Shila yang kini melahap udang pemberian Rayden.


“Aku ingin makan bersamamu. Sudah makanlah, jangan banyak bicara. Lihatlah kau makan saja masih belepotan begitu.” Rayden mengambil tisue lalu mengusap samping bibir Shila yang memang terdapat saus disana.


Shila hanya diam saja menerima perlakuan dari Rayden. Dirinya sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Jovan dan juga Kak Andra. Itu sebabnya dia tidak baper jika mendapat sedikit perlakuan manis dari lelaki dihadapannya ini.


“Terimakasih Ray.” Ucap Shila saat Rayden sudah selesai menyeka kotoran disamping bibirnya.


“Hmm.. jangan makan seafood tanpaku ataupun Jovan dan kak Andra.” Titah Rayden. Shila mengerutkan keningnya, menatap Rayden karna tidak mengerti maksud perkataan lelaki dihadapannya tersebut.


“Kau terlihat kacau jika makan makanan seperti ini. Itu tidak baik untuk penampilan primadona kampus sepertimu. Lagipula mana ada yang mau membersihkan kotoran diwajahmu selain kami bertiga.” Rayden kembali menggoda Shila.


Gadis itu pun mengangkat jagung yang sedang ia makan dan seolah-olah akan melemparkannya kepada Rayden. Tapi hal itu tidak mungkin dia lakukan karna Shila masih memiliki perasaan kasihan kepada Rayden. “Awas saja kau, kubalas nanti.” Ancam Shila dengan wajahnya yang dimata Rayden sangat lucu.


Keduanya pun menghabiskan makanan dan selanjutnya Rayden kembali akan mengantarkan Shila menuju kampusnya. Gadis itu harus segera kembali karna setelah itu ia harus segera pergi ke Turi untuk menemui salah satu kepala dukuh disana.

__ADS_1


Ditengah-tengah perjalanan mereka, mobil milik Rayden tiba-tiba berhenti. “Kenapa ini? padahal bulan lalu aku baru saja menservisnya.” Keluh Rayden.


“Tepikan saja dulu mobilnya Ray, jangan berhenti ditengah jalan seperti ini.” Saran Shila yang kemudian Rayden meminta Shila untuk duduk dikemudi dan dirinya akan mendorong mobil tersebut dari belakang.


Setelah berhasil menepikan mobilnya, Rayden mencoba membuka kap mesin mobilnya namun semuanya terlihat baik-baik saja. Rayden merogoh sakunya guna mengampil ponsel miliknya lalu menghubungi seseorang.


“Bang Bay, bisakah kau mengirim salah satu montirmu ke daerah jalan Sonosewu. Mobilku tiba-tiba macet dan tidak bisa berjalan.”


“…..”


Klik.


Rayden mematikan ponselnya setelah panggilan berakhir dan kini gilirannya untuk menunggu kedatangan montir yang akan dikirim oleh bengkel langgannanya.


“Shil, tolong bawakan ponselku. Aku akan mencoba untuk mengecek mesin mobil. Angkat jika ada telepon yang masuk.” Pinta Rayden kepada Shila untuk membawa ponselnya. Berjaga-jaga agar jika simontir menelponnya Shila bisa mengangkatnya.

__ADS_1


“Baiklah.” Jawab Shila menerima ponsel yang diberikan Rayden kepadanya.


Kini Rayden bolak-balik keluar masuk mobilnya. Ia masih penasaran dan berusaha mencari tahu sumber permasalahan yang menyebabkan mobilnya mengalami kemacetan.


Tringg!!!


Bunyi ponsel milik Rayden membuat Shila menatap layar ponsel milik pria tersebut. Ia melihat pop up notifikasi pesan masuk dari Lily. Hatinya sedikit terusik melihat beberapa baris pesan yang bisa ia lihat di pop up pesan tersebut.


Rayden menoleh sekilas saat mendengar ponselnya berbunyi. Shila memang memilih untuk menunggu diluar mobil. Sebenarnya dia sudah harus pergi ke Turi, tapi rasanya tidak tega jika harus meninggalkan Rayden disaat seperti ini.


Namun setelah melihat pesan dari Lily sepertinya dia memang harus segera pergi melanjutkan acaranya yang sedikit tertunda. “Ray, ada pesan dari Lily.” Ucap Shila memberitahu.


“Biarkan saja, nanti aku akan membalasnya.” Jawab Rayden acuh seolah tidak tertarik dengan pesan yang dikirim kekasihnya tersebut.


“Ray, apa montirnya masih lama?” Tanya Shila lagi. Hal itu membuat Rayden menghentikan kegiatannya dan menatap Shila. Gadis itu terlihat sedang menahan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2