
Belum selesai Rayden meneruskan perkataannya, Shila lebih dulu memotongnya. “What!! Kekasih baru? Astaga, bahkan dia tidak memberitahuku, dasar Jovan kurang ajar. Padahal baru beberapa hari yang lalu dia mengadu sambil menangis-nangis kepadaku, mengatakan jika gadis yang di incarnya ternyata sudah menjadi kekasih lelaki lain. Dia hanya mendatangiku saat sedang dilanda kesusahan. Kini saat dia sudah punya kekasih baru bisa-bisanya dia melupakanku dan tidak mengatakan apapun kepadaku.” Ucap Shila geram yang justru membuat Rayden terbahak mendengarnya.
“Kau seperti tidak tahu bagaimana kelakuan Jo. Mungkin dia belum mengatakannya kepadamu karna belum sempat. Jadi bagaimana, mau menonton denganku tidak? Tapi aku tidak menerima penolakan Shil, kau tahu bukan aku bisa saja menyeretmu dan memaksamu untuk menemaniku menonton.” Ancam Rayden namun hanya gurauan belaka.
“Kapan?”
“Nanti sore, bukankah ini malam minggu? Jadi sekalian kita jalan-jalan.” Ucap Rayden antusias,
“Ckck seperti abg saja yang bermalam mingguan. Baiklah jemput aku jam 4 sore supaya kita tidak pulang terlalu malam.” Ucap Shila yang akhirnya menyetujui.
__ADS_1
“Baiklah Cil, see you.”
“Hmm.” Balas Shila singkat lalu panggilan keduanya pun berakhir.
Mama Alya melirik Shila sekilas yang rupanya juga tengah melirik dirinya.”Mama pikir kau sedang bertengkar dengan Ray karna mengabaikan panggilannya.”
“Aku bukan anak kecil Ma. Kita tidak bertengkar, hanya saja aku malas mengangkat telepon dari duo dokter itu. Pasti mereka akan menggangguku, dan benar saja kan dugaanku. Rayden memaksaku untuk menonton film dengannya.” Adu Shila yang sebenarnya malas untuk pergi. Shila memang termasuk gadis rumahan yang jarang keluar jika tidak ada kepentingan.
Jovan memang seperti itu, dia akan sibuk dengan kekasihnya dan melupakan Shila saat sedang kasmaran. Tidak lama, paling hanya satu sampai dua minggu di masa awal-awal berkencan dengan kekasih barunya. Setelah itu dia akan kembali menempeli Shila.
__ADS_1
Lagi-lagi hari libur yang akan ia gunakan untuk bersantai dan belajar harus berubah. Kini dia hanya bisa memanfaatkan waktu yang ada hingga kedatangan Rayden untuk menjemputnya nanti. Paling tidak di beberapa jam yang tersisa ini dia masih bisa membaca beberapa paper untuk disertasinya.
Dan kini Shila juga Rayden sudah berada di sebuah mall yang cukup ramai. Rayden bahkan membeli tiket premier untuk mereka berdua. Ini kali pertama mereka pergi menonton berdua, dulu saat SMA mereka selalu menonton ramai-ramai sehingga entah kenapa Shila merasa seperti berkencan dengan Rayden.
Enggan berfikiran yang aneh-aneh, setelah Rayden membeli beberapa camilan dan minuman, mereka pun memasuki bioskop karna filmnya sebentar lagi dimulai. Sekarang dia paham kenapa Rayden memilih untuk mengajaknya menonton film daripada mengajak Lily. Karna genre film yang mereka tonton kali ini adalah action.
Shila tidak masalah menonton genre film apapun asalkan bukan film horor. Berbeda dengan Lily yang hanya mau menonton film romantis seperti kebanyakan gadis lainnya. Dan sepertinya itu adalah alasan Rayden lebih memilih menonton bersamanya daripada bersama Lily.
Sepanjang menonton keduanya sama-sama diam dan menikmati film. Tidak ada obrolan apapun karna keduanya benar-benar menonton film yang diputar.
__ADS_1
Rayden meregangkan kedua tangannya untuk melemaskan otot-ototnya. Ia menoleh kesamping, Shila hanya memutar-mutar lehernya ke kiri dan kekanan. Mungkin lehernya terasa kaku selama dua jam menonton. “Setelah ini kita mau kemana? Apa kau mau makan sesuatu?” Tanya Rayden saat kini Shila sudah bersiap untuk keluar dari gedung bioskop.
“Apa kau sudah lapar?” Gadis tersebut malah balik bertanya tanpa memberikan jawaban dari pertayaan Rayden.