ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Hanya kau yang mengerti aku


__ADS_3

Jovan sudah duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Jangan lupakan camilan kerupuk tengiri yang merupakan kesukaannya dan selalu disediakan Mama Alya. Bagaimana Jovan bisa masuk? Jawabnnya karna kunci rumah tersebut sudah di duplikat olehnya sejak lama. Bahkan kak Andra dan Mama Alya yang menyuruh Jovan agar memiliki kunci rumah mereka.


Bagi Kak Andra dan juga Mama Alya, Jovan adalah salah satu anggota keluarganya. Mereka begitu menerima Jovan sama seperti Ayah dan Ibu Jovan yang begitu menerima Shila dan menganggap Shila seperti anak mereka sendiri. Apalagi saudara Jovan adalah laki-laki. Jadi jika Shila sedang berada disana sudah bisa dipastikan dirinya akan diperlakukan seperti putri oleh kedua orang tua Jovan.


“Tumben hari masih sore namun kau sudah selesai berkencan, apa kencanmu gagal?” Goda Shila yang saat ini sudah duduk disamping Jovan.


Bahkan dengan santainya Shila mengganti chanel televisi yang sedang ditonton oleh Jovan. Lelaki yang usianya sudah lebih dari seperempat abad itu masih saja menyukai tontonan seperti spongebobs dan sejenisnya.


“Jangan diganti!” Cegah Jovan lalu kembari merebut remote dari tangan Shila.

__ADS_1


Shila membiarkan Jovan merebut remote tersebut lalu mulai menggoda Jovan “Aku yakin jika wanita diluar sana yang tahu salah satu kebiasaan konyolmu ini pasti mereka akan langsung ilfeel padamu.” Ucap Shila menakut-nakuti Jovan.


Dan benar saja pemuda yang sudah bersamanya selama lebih dari sepuluh tahun itu langsung saja memiting kepala Shila. Bahkan jepitan dikepala Shila semakin erat kala gadis tersebut mengaduh dan meronta minta untuk dilepaskan. “Jika mereka sampai tahu berarti kau adalah tersangka utama yang akan kutuduh sudah menyebarkan rahasia terbesarku ini.” Ujar Jovan yang kini sudah melepas pitingan pada leher Shila.


“Heh, kau mau membunuhku ya!” Pekik Shila sebal karna pitingan yang Jovan lakukan kepadanya memang menyakitkan.


“Membunuhmu tidak ada gunanya, kau itu cadangan ketika tidak ada perempuan yang mau denganku. Jadi aku tidak mungkin membunuhmu.” Jovan balas menggoda Shila.


“Nah itu kau sudah tahu jawabannya, karna hanya kau yang mengerti akuuuuuu…” Jovan memeluk Shila sambil memonyongkan bibirnya seolah-olah hendak mencium Shila. Gadis itu tentu saja berontak dan menutup bibir Jovan menggunakan telapak tangannya.

__ADS_1


Jovan pun terus menggoda hingga terbahak lalu melepaskan pelukannya dari Shila. “Kau darimana saja? Bahkan bajumu belum berganti, masih sama seperti yang kau kenakan pagi tadi” selidik Jovan karna sahabatnya itu memang masih menggunakan baju yang sama saat ia berangkat bersama Shila untuk menjemput Rayden.


“Kerumah calon suami dan calon mertua.” Sahut Mama Alya yang kini ikut bergabung bersama keduanya sambil meletakkan sepiring pisang goreng pontianak yang tadi dibelinya saat perjalanan pulang.


“Calon suami dan calon mertua?” Beo Jovan tak paham dengan perkataan Mama Alya.


“Jangan hiraukan Mama, dia sedang berhalusiansi.” Ujar Shila lalu mengambil sepotong pisang goreng tersebut dan memasukkannya kedalam mulutnya.


Mama Alya menepuk lengan Shila sedikit kencang hingga anak gadisnya itu mengaduh. “Enak saja kau mengatai Mama sedang berhalusinasi. Bukan berhalusinasi tapi berharap, apa salahnya Mama berharap jika kau menjadi istri Kaisar? Dia tampan, mapan, seorang profesor muda meskipun juga seorang duda dua anak tapi itu tidak masalah. Justru itu adalah bonus untukmu.”

__ADS_1


“Astaga jadi pembahasan kita hari ini masih seputar Profesor muda yang tadi pagi kita bahas itu Shil?” Jovan tergelak tidak percaya jika satu hari ini mereka membahas topik yang sama sebanyak dua kali.


__ADS_2