
“Kau bisa duduk didepan bersama Papa. Biar Tante Shila yang duduk dibelakang.” Tolak Shila halus dengan membelai rambut Icha yang dikuncir dua.
Gadis kecil itu menggeleng pelan sambil ikut membalas senyuman Shila. “Tidak Tante, biarkan Icha duduk dibelakang dan Tante yang duduk di depan. Tidak sopan jika Tante yang duduk dibelakang dan Icha yang duduk didepan.” Tolak putri sulung Kaisar.
Belum sempat Shila menjawabnya, Kaisar sudah lebih dulu menyela pembicaraan mereka. “Lekaslah pindah kedepan Shil, atau kalian berdua bisa duduk dibelakang bersama. Jangan menunda dan memperlambat hanya karna masalah sepele. Ingat kita sudah ditunggu banyak orang.” Ucap Kaisar mengingatkan.
Setuju dengan apa yang dikatakan Kaisar akhirnya Shila menyuruh agar Icha masuk dan duduk berdua dibelakang bersama dirinya. Disepanjang perjalanan menuju kediaman Kaisar, tidak ada henti-hentinya Shila mewawancarai Icha. Baginya sangat menyenangkan untuk mengajak berbicara anak seumuran Icha yang sangat pintar menjawab dan tidak malu sedikitpun. Entah bagaimana pola didik Kaisar yang jelas Shila sangat menyukai Icha. Gadis itu tidak terlihat malu sedikitpun dan tampak tenang setiap menjawab pertanyaan dari Shila.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama sesaat setelah menurunkan Icha dan mengantarkan anaknya masuk ke dalam rumah, Kaisar langsung kembali ke mobil Shila dan melajukan kuda besi tersebut ke tempat pembelian pizza dan juga boba yang untungnya sejalan dengan arah menuju Resto Garden.
“Aku tidak menyangka kau bisa secerewet itu ketika bertemu dengan Keisha.” Ujar Kaisar sambil menoleh sekilas menatap Shila yang duduk disampingnya. Kini dia yang kembali menyetir mobil milik gadis tersebut.
“Keisha?” Beo Shila tidak paham. Bukankah tadi nama anak Kaisar adalah Icha? Batinnya di dalam hati.
Shila membulatkan bibirnya membentuk huruf o, tanda jika kini dia sudah paham siapa Keisha yang dimaksud oleh Kaisar. “Aku sangat menyukai anak kecil Prof, dan putrimu selain cerdas dia juga sungguh menggemaskan. Pasti menurun dari ibunya ya?” ucap Shila asal. Karna dia sendiri tahu jika kecerdasan Icha pasti menurun dari ayahnya yang seorang Profesor muda. Bayangkan saja diumur belum sampai empat puluh tahun, Kaisar sudah menjadi seorang Profesor. Sungguh pencapaian yang luar biasa.
__ADS_1
“Ck, kenapa kau tidak bertanya jika dia menurun padaku? Aku cukup pandai dan cerdas bukan? Wajar jika anakku menuruni hal tersebut dariku.” Sahut Kaisar dengan penuh percaya diri.
Shila tergelak mendengarnya, ia sendiri memang cukup sering mendengar lontaran candaan dan ejekan antara Kaisar dan Dara. Tapi dia sendiri baru kali ini merasakan sendiri sifat Kaisar yang gampang untuk bercanda dan tidak kaku. “Kau sungguh terlalu percaya diri Prof.” Shila mencebikkan bibirnya.
Kaisar justru tertawa mendengar perkataan Shila, gadis itu memang tidak selentur Dara dalam mengekspresikan dirinya. Tapi hanya pada dirinya Shila bersikap seperti itu sedangkan pada teman-teman dosen pria lainnya gadis itu nampak santai dan sangat asyik untuk diajak bicara. Mungkin karna hal itu banyak dosen dan mahasiswa yang menyukainya.
Mungkin Shila masih sungkan pada dirinya sehingga gadis itu masih membatasi diri, padahal berulang kali Kaisar sudah mengatakan pada Shila untuk menganggapnya sebagai teman. Tapi tetap saja gadis itu masih sering bersikap kaku dan baru ini Shila biasa diajak bercanda olehnya.
__ADS_1
“Percaya diri itu penting Shil. Tapi pertanyaanmu tadi memang benar, Icha menuruni kecerdasan ibunya dan juga kecerdasanku tentunya. Bukankah kami membuatnya bersama-sama? Jadi sudah jelas jika aku juga menyumbang kecerdasan untuk putriku dan putraku.” Kaisar terkekeh sendiri dengan ucapannya yang sedikit vulgar.