
Beberapa minggu sudah Shila menjadi istri Kaisar. Dirinya kini sudah terbiasa untuk mengurus kedua anak sambungnya tapi tidak dengan mengurus suaminya karena Kaisar melakukannya sendiri. Tidak ada kendala untuk Shila menjalani rumah tangganya saat ini.
Kaisar sangat baik dan pengertian. Mereka tidur secara terpisah, Kaisar akan masuk ke kamar miliknya dengan Elvina saat semua orang sudah tidur dan setiap pagi menjelang subuh Kaisar pasti sudah kembali ke kamar Shila. Dia akan membangunkan istrinya untuk sholat subuh setelah itu memulai aktifitasnya.
Mama Risa, Icha dan Kenny hanya bisa mengintip Shila yang sedang menangis didalam kamarnya. Gadis itu sudah meminta kedua anaknya untuk belajar sendiri karena dirinya masih memiliki pekerjaan.
“Icha dan Kenny belajar sendiri atau belajar bersama Oma dulu ya? Mama masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Jika nanti tugas sekolah kalian sudah selesai Mama akan mengoreksinya.” Ujar Shila sebelum akhirnya kini gadis itu justru menangis sesenggukan dikamarnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua lutut yang dilipat didepan dadanya.
Mama Risa, Icha dan kenny sudah mencoba untuk menanyakan penyebab Shila menangis, namun gadis itu hanya diam dan menggelengkan kepalanya. Membuat mertua dan anak sambungnya khawatir.
__ADS_1
“Papa….” Icha berlari menuju Kaisar yang baru saja memasuki rumah. Wajahnya yang menujukka kekhawatiran membuat Kaisar berjongkok dan memandang anaknya tersebut.
“Ada apa? Icha kenapa?” Tanya Kaisar khawatir
Icha menggeleng. “Icha baik-baik saja. Tapi Mama daritadi menangis, sudah Oma dan Icha tanyakan kenapa menangis tapi Mama diam saja lalu menggelengkan kepalanya.” Adu Icha mengenai kondisi Mama barunya kepada Kaisar.
Shila tadinya dicalonkan untuk menjadi dekan menggantikan Kaisar, namun gadis itu menolak. Dia menjabat menjadi wakil dekan dan Direktur divisi IT saja sudah membuatnya sibuk, apalagi jika kini dia menjadi Dekan. Oleh karena itu akhirnya Albert yang ditunjuk untuk menggantikan Kaisar menjadi Dekan.
“Coba kau lihat dan hibur istrimu, daritadi sudah Mama ajak bicara namun Shila tidak mau mengatakan apapun.” Kata Mama Risa saat kini Kaisar sudah berdiri didepan pintu kamar Shila. Bisa ia lihat jika istrinya sepertinya tengah menangis karna bahunya bergetar sementara wajahnya ditelungkupkan di kedua lutut yang dia tekuk.
__ADS_1
Segera setelah Kaisar memasuki kamarnya bersama Shila, Mama Risa menutup rapat pintu kamar tersebut dan mengajak kedua cucunya untuk menjauh. Memberikan waktu untuk Kaisar dan juga Shila.
Kaisar duduk persis dihadapan Shila. Ia mengusap lembut surai Shila. Terkejut saat merasakan tangan seseorang sedang membelai rambutnya membuat Shila menegakkan wajahnya. Bisa Kaisar lihat wajah istrinya sudah memerah, hidungnya mengeluarkan ingus dan air matanya terus berjatuhan. ‘Kenapa justru dia terlihat menggemaskan ketika menangis begini’ Batin Kaisar.
“Kenapa Mil, ada apa? Katakan kepadaku kenapa kau menangis?” Dengan sabar dan lembut Kaisar mengusap surai Shila. Menyelipkan helaian rambut Shila kebelakang telinga istrinya lalu menyeka air mata Shila menggunakan ibu jarinya.
“Pai..” Suara Shila terdengar serak dan parau. Entah ada apa dengan istrinya ini.
“Hmm, ada apa? Katakanlah apa hal yang membuatmu menangis.” Pinta Kaisar dengan sangat lembut. Dia masih terus menyeka air mata Shila. Bahkan kini dia menyeka ingus Shila tanpa rasa jijik dengan sapu tangan yang baru saja ia ambil dari saku celananya.
__ADS_1