
Jovan menyodorkan ipad milik Shila kepada sang empunya. “Ini, ipadmu tertinggal dimobilku, kau ini ceroboh sekali.” Gerutu Jovan sebal karna pagi-pagi dirinya harus sudah berkeringat padahal dirinya belum juga sampai di rumah sakit tempatnya bekerja.
Shile terkekeh kecil, menyadari kecerobohannya yang membuat Jovan menggerutu sebal. “Maafkan aku Jo, aku sungguh tidak mengingatnya. Terimakasih.” Ucap Shila tulus sambil menampilkan senyum termanisnya agar Jovan tidak merajuk.
“Untung sayang, kalau tidak sudah aku buang.” Ucap Jovan lantar mencubit gemas pipi Shila. Interaksi keduanya tidak luput dari Dara dan juga Kaisar yang berjalan kearah mereka berdua karna lift menuju ruangan mereka memang dekat dengan tempat Shila dan Jovan berdiri.
Melihat kedatangan Dara dari jarak kurang dari lima meter membuat Jovan segera berpamitan kepada Shila, dia bahkan tidak mempedulikan Shila yang mengaduh kesakitan karna dirinya terlalu keras mencubit pipi Shila.
“Aku berangkat bekerja dulu Cil, bye.” Pamit Jovan yang sedetik kemudian sudah berbalik badan dan berlari meninggalkan Shila, Kaisar dan juga Dara yang kini kedua orang tersebut sudah berdiri disamping Shila.
“Tumben sekali Jovan kesini, ada apa Shil?” Tanya Dara penasaran.
__ADS_1
“Kau mengenal dokter anak tadi?” Belum sempat Shila menjawabnya, Kaisar sudah lebih dulu menyela dan memberi pertanyaan kepada Dara karna terkejut ketika tahu Dara mengetahui nama kekasih Shila.
Dara pun mengangguk. “Tentu aku mengenalnya, dia adalah Jovan.” Jawab Dara santai.
“Kupikir kau sudah putus dengannya Shil. Tempo lalu aku melihatnya merengek kepadamu di Pinus café and cake shop. Aku pikir kau sudah memutuskannya tapi kini sepertinya hubungan kalian baik-baik saja.” Kaisar berujar dengan santainya. Dara dan Shila sama-sama dibuat melongo oleh perkataan Kaisar.
“Sejak kapan kau dan Jovan berpacaran? Bukankah kalian itu hanya bersahabat?” Tanya Dara kepada Shila. Kenapa Shila tidak bercerita kepadanya jika Jovan sudah naik jabatan dari sahabat menjadi kekasih.
Shila hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Sepertinya kesalah pahaman ini harus segera diakhiri. Dara sampai memelototkan matanya saking tidak percaya dengan apa yang Kaisar katakan.
“Shil—“
__ADS_1
Shila langsung mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat kepada Dara untuk tidak melanjutkan perkataannya karna dirinya sendiri yang akan menjelaskan semuanya kepada Dara dan juga Kaisar.
“Ayo kita keruanganku saja untuk mendengar penjelasan dari Shila. Karna ini jalan umum, tidak baik kita berdiri disini seperti ibu-ibu yang sedang merumpi.” Ajak Kaisar yang sudah lebih dulu berjalan menuju lift. Diikuti dengan Dara dibelakangnya, sementara Shila masih mematung dan menatap Kaisar dengan mulut menganga.
‘Apa dia tidak sadar jika memang sedang merumpi dan langsung berhadapan dengan sumber bahan pembicaraannya.’ Gumam Shila didalam hati. Setelah itu ia buru-buru mengikuti Kaisar dan Dara untuk masuk kedalam lift melihat keduanya sudah memanggilnya dan menyuruhnya menyusul menggunakan gerakan tangan.
Dan disinilah mereka berada, diruangan Kaisar. Shila seperti terdakwa yang harus menghadapi Kaisar dan juga Dara. Padahal tidak seharusnya dirinya susah payah menjelaskan kepada keduanya namun sepertinya semuanya harus segera diluruskan.
Gadis itu tidak mau jika kedepannya akan muncul kembali masalah. Oleh sebab itu Shila akan menuntaskan rasa kekepoan Kaisar dan juga Dara kepada dirinya. “Jadi, mana dulu yang ingin kalian dengar?” Shila menatap Kaisar dan Dara secara bergantian karna keduanya kini sedang duduk dihadapan Shila.
“Sejak kapan kau berpacaran dengan Jovan?” / “Apa kalian tidak jadi putus?” Tanya Kaisar dan Dara bersamaan. Keduanya langsung menolah dan saling memandang.
__ADS_1
‘Huft, sabar Shil. Shila menguatkan dirinya sendiri.