ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Cinta ditolak Jovan bertindak


__ADS_3

“Terimakasih Rid. Kau bisa ambil coklat atau bunganya jika kau mau. Bisa kau berikan untuk kekasihmu.” Goda Shila. Farid hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu berpamitan untuk kembali meneruskan pekerjaannya.


“Kali ini dari siapa?” Tanya Shila pada Dara yang sedang membuka notes dari bucket bunga yang tadi Farid bawa dan sudah diambil alih oleh teman seprofesinya itu.


“Tidak ada nama atau inisial. Mungkin penggemar barumu Shil, coklatnya kumakan ya?” Dara meminta ijin pada Shila dan tentu saja Shila mengangguk. “Prof Kai, kau mau tidak? Ini coklat mahal lho.” Dara menawari Kaisar. Gadis itu bahkan kini duduk dihadapan Kaisar dan juga Shila.


“Boleh kumakan Shil?” kini Kaisar yang meminta ijin pada Shila.


“Boleh Prof, makan saja kalau perlu dihabiskan daripada mubadzir.” Sahut Shila membolehkan.


“Kenapa kau tidak pernah memakan makanan pemberian dari penggemarmu?” Dara menanyakan pertanyaan yang sudah lama bersemayam dalam hatinya. Semenjak Shila bekerja di kampus tersebut, tidak ada satu haripun tanpa kiriman hadiah atau bunga untuk Shila.

__ADS_1


Gadis itu menjadi primadona atau bunga kampus. Bukan hanya dari kalangan dosen saja, bahkan banyak mahasiswa yang terang-terangan mengatakan perasaannya pada Shila. Namun sampai saat ini tidak ada satupun yang Shila gubris.


Shila selalu memberikan hadiah atau makanan yang ia terima untuk teman sekantornya atau untuk Jovan dan Mamanya. Dia tidak pernah memakannya atau bahkan sekedar mencicipi makanan pemberian dari para penggemarnya.


“Aku merasa sangat jahat jika menolak perasaan mereka tapi ikut menikmati pemberian dari mereka. Jadi lebih baik kuberikan pada teman-teman. Lagipula aku jadi muak melihat coklat-coklat dan bunga itu, hampir setiap hari aku mendapatkannya. Kenapa tidak ada yang mengirimiku nasi padang atau bakso saja ya?”


“Memangnya kau mau memakannya jika mereka mengirimimu nasi padang atau bakso?” tanya Dara lagi.


“Dimana-mana jika seseorang mengejar gadis tentu saja memberikan hal-hal romantis seperti ini Shil. Mana ada yang memberimu nasi padang ataupun bakso. Kau ini ada-ada saja.” Seloroh Prof Kai yang membuat Shila hanya meringis menampilkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.


*

__ADS_1


*


“Halo, Jo cepatlah kau temui aku di Ciprus Café. Aku membutuhkan bantuanmu Jo.” Ucap Shila buru-buru saat Jo mengangkat teleponnya setelah deringan yang entah ke berapa kalinya.


“What?” Pekik Jo dari sebrang sana. “Sekarang Shil? Jangan bilang kau meminta bantuanku untuk mengusir para lelaki yang menyatakan cinta padamu lalu kau tolak.” Tebak Jovan yang memang benar seratus persen.


Shila pun mengangguk meski Jovan tidak bisa melihatnya. “Iya, bantulah aku Jo. Dalam lima belas menit kau harus sudah berada disini dan membantuku membereskannya. Jika kau tidak mau membantuku, aku anggap kau sudah bukan sahabatku lagi.” Ancam Shila yang kemudian mematikan ponselnya sepihak tanpa menunggu jawaban dari Jovan.


Gadis itu buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu beralih merapikan dirinya sambil berlama-lama untuk menunggu kedatangan Jovan. Saat ini ia tengah berada di dalam toilet café dan didepan sana ada seorang pemuda yang baru saja menyatakan cinta padanya namun tentu saja Shila menolaknya.


Tapi tampaknya pemuda itu sangat keukeh dan terus berusaha membujuk Shila untuk menerima cintanya. Dan hal itu membuat Shila kerepotan, oleh sebab itu seperti biasanya ia akan menelpon Jovan untuk meminta bantuan pada sahabat terbaiknya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2