ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Matamu rabun?


__ADS_3

“Entahlah Mama sendiri juga heran, baik Shila maupun Andra sama-sama lebih memfokuskan dirinya untuk berkarir.” Mama Alya mendesah mengingat hal tersebut padahal dirinya sudah ingin melihat salah satu anaknya atau bahkan kalau bisa kedua anaknya untuk segera menikah. “Kau itu pecinta wanita, sudah memiliki satu wanita saja tidak cukup bagaimana jika tidak memiliki sama sekali? Tentu saja kau pasti akan merasa kesepian.” Tambahnya dengan tawa diakhir kalimat yang ia lontarkan untuk Jovan.


“Aku sedang mencari yang terbaik Ma.” Elak Jovan


“Hati-hati, terlalu banyak memilih justru kau sendiri yang nantinya bisa terpilih.” Ucap Mama Alya mengingatkan.


“Shila pilihan terakhirku Ma.” Jovan mengerlingkan matanya genit kepada Mama dari sahabat baiknya yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.

__ADS_1


“Cih, aku tidak sudi denganmu.” Sambung Shila tiba-tiba lalu melayangkan boneka angry bird berwarna hitam tepat ke wajah Jovan. Dan kali ini tembakannya tidak meleset, boneka tersebut berhasil mengenai wajah Jovan dan membuat pemuda itu sedikit berteriak mengaduh kesakitan.


“Kau ini kasar sekali kepadaku. Shil kenapa kau begitu anti kepadaku? Aku rasa tidak akan sulit bukan menaikkan rasa sayang sebagai sahabat menjadi rasa cinta.” Goda Jovan lebih bersemangat lagi.


Shila memutar matanya dan mendengus dengan sebal. Gadis itu kini duduk disebelah Jovan. Kedua kakinya ia naikkan ke paha pemuda tersebut sambil menekannya agar Jovan terasa sakit. Dia masih kesal dan jengkel atas ulah Jovan beberapa menit yang lalu.


“Bagiku itu sangat sulit, sama sulitnya seperti merubah malam menjadi siang. Kau tidak usah berbicara yang aneh-aneh.” Shila menurunkan kakinya karna Jovan sudah meletakkan toples yang tadi sempat didekapnya. Jika gadis itu tidak sigap sebentar lagi Jovan pasti akan menggelitik telapak kakinya sampai dia meminta ampun. “Ada apa kau kemari sepagi ini lalu menggangguku?” tanya si gadis dengan memandang sebal ke arah Jovan.

__ADS_1


“Kemana?” tanya Shila tidak berminat. Sepertinya rencananya untuk bermalas-malasan seharian ini hanya akan menjadi angan-angan saat Jovan sudah menjemputnya. Dan dia tidak akan mungkin bisa menolak kemauan Jovan yang akan terus merengek jika keinginannya belum dikabulkan.


Shila masih ingat dengan jelas saat dirinya berpacaran dengan Arlo, Jovan mengalami patah hati karna kekasih yang ia pacari selama dua tahun lebih memilih untuk meninggalkan dirinya setelah Jovan memberitahunya jika menduakan gadis tersebut dengan seniornya.


Patah hati dibuat sendiri, benar begitu bukan judulnya? Lalu karna hal tersebut akhirnya Jovan merengek pada Shila dan juga Arlo untuk menemaninya ke pantai guna menenangkan pikirannya. Dan mau tidak mau akhirnya mereka bertiga pergi ke pantai bersama.


Tapi anehnya Jovan justru mengajak Shila untuk semobil dengannya dan membiarkan Arlo membawa mobilnya sendiri. Ia tidak mau jika harus semobil dengan Arlo karna ia akan malu jika ketahuan menangis di depan laki-laki lain. Tapi dia tidak pernah malu jika harus menangis didepan Shila.

__ADS_1


Baginya Shila adalah belahan jiwanya. Tidak ada satu hal yang bisa ia tutupi dari gadis tersebut. Dan bila ia sedang menjomblo seperti saat ini sudah dapat dipastikan jika Jovan akan terus mengganggu Shila dan meminta gadis tersebut untuk menemaninya kemanapun yang ia inginkan.


“Rahasia, tapi aku yakin kau pasti akan menyukainya.” seru Jovan dengan penuh keyakinan. “Cepat sekarang kau mandi, aku tidak ingin kita telat.”Titah Jovan kepada Shila.


__ADS_2