ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Mesum


__ADS_3

“Pihak kampus hanya memberiku waktu dua bulan untuk menyusun outline proposal disertasiku. Proposal kemarin yang kugunakan untuk mendaftar masuk ternyata harus aku ubah karna tidak sesuai dengan bidang penelitian para promotorku. Bagaimana ini Pai, aku tidak yakin bisa melakukan itu semua. Harus berapa ribu paper yang aku baca untuk menyusun outline? Belum lagi aku juga harus memperlajari keilmuan lainnya karna disertasiku haruslah multi disiplin keilmuan.” Cerita Shila dengan sesenggukan.


Akhirnya Kaisar bisa bernafas lega, ternyata masalah tersebut yang membuat istrinya menangis. Pasti Shila bingung, frustasi dan merasa putus asa diwaktu yang bersamaan. Sebenarnya itu hal yang wajar bagi seorang peneliti. Tapi memang untuk setingkat doktoral hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Sangat sulit bahkan.


“Kau memiliki suami seorang profesor, apa kau meragukan kemampuanku? Kenapa kau tidak meminta bantuanku?” Kaisar memandang Shila yang masih menunduk dan terus mengeluarkan air matanya. Pria itu juga tak henti-hentinya menyeka air mata Shila.


Shila menggelengkan kepalanya karena perkataan Kaisar tidaklah benar. Dia tidak mungkin meragukan kemampuan suaminya yang jelas-jelas seorang profesor alias guru besar. “Bukan begitu Pai, aku hanya tidak mau merepotkanmu. Pekerjaanmu sudah banyak ditambah juga sekarang kau adalah seorang wakil rektor. Tentu kesibukanmu bertambah, aku tidak mau menambah bebanmu” Jawab Shila yang kini sudah memandang suaminya.

__ADS_1


Ia membiarkan dan menerima segala sentuhan Kaisar yang diberikan suaminya kepadanya.


Shila bahkan tidak malu untuk mengeluarkan ingusnya di sapu tangan milik Kaisar karna suaminya sendiri yang menyuruhnya.


“Jangan sungkan kepadaku Mil, hal itu justru membuat jarak diantara kita begitu nyata. Meskipun aku sibuk tapi aku tidak merasa keberatan jika kau meminta bantuanku. Study doktoral itu berbeda dengan jenjang lainnya Mil, kau butuh partner dalam penelitianmu.” Kaisar berucap dengan suara yang sangat menenangkan. Memang berbeda rasanya jika memiliki lelaki yang sudah cukup dewasa.


“Kau bisa mengembangkan algoritma dengan studi kasus yang berkaitan dengan dunia kesehatan. Bukankah Jovan dan Rayden seorang dokter? Kau bisa mengimplementasikan penelitianmu pada bidang mereka. Aku akan membantumu semaksimal mungkin, ayo Mil kau harus semangat. Jangan menyerah begitu saja.” Kaisar mengepalkan tangannya menyemangati Shila.

__ADS_1


“Bisa. Aku yakin kau pasti bisa. Tenanglah Mil, aku akan selalu membantumu. Sekarang bersihkan dirimu, aku juga harus mandi dan membersihkan diriku. Mama dan anak-anak mengkhawatirkanmu, kalau ada apa-apa kau bisa bercerita kepadaku Mil.” Titah Kaisar pada Shila, ia beranjak pergi dengan membawa sapu tangan yang sudah kotor karena terkena ingus dan air mata Shila.


“Pai, biar aku saja yang mencuci sapu tanganmu karena aku yang mengotorinya.” Shila bangkit dan menahan langkah Kaisar. Tentu saja dia tidak enak karena membiarkan suaminya itu membawa sapu tangan yang ia kotori.


Kaisar tersenyum hangat menatap Shila gemas, gadis itu tidak sadar jika kini dirinya memakai hotpants yang tetutup kaus oversize. Padahal Shila biasanya akan mengganti pakaian yang lebih sopan didepan Kaisar.


“Bersihkan dirimu sendiri, ganti pakaianmu. Mulai nanti malam aku akan memberimu les khusus untuk menyelesaikan outline.” Sahut Kasiar sambil memindai Shila dari atas sampai bawah dengan tatapan nakal.

__ADS_1


Shila mengikuti tatapan mata Kaisar sampai akhirnya ia berlari menuju kamar mandi. “Paiiiiiii kau mesum.” Teriak Shila berlari meninggalkan Kaisar yang terbahak. Ia memang sengaja menggoda Shila agar gadis itu bisa mengalihkan kesedihannya.


Kaisar hanya tertawa kecil lalu melangkahkan kakinya keluar kamar. Kaisar memang terbiasa mandi dikamar mandi yang berada di dalam kamarnya dan Elvina. Mama Risa memakluminya karena mungkin anak dan menantunya itu masih beradaptasi untuk menerima satu sama lainnya.


__ADS_2