ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Jo, kau yang terbaik


__ADS_3

Gadis itu lebih memilih diam dan tersenyum kaku, sampai akhirnya suara yang ia kenal memanggilnya dengan mesra. “Baby, maafkan aku karna terlambat. Pasien hari ini cukup banyak. Apa kau sudah makan siang?” Tanya Jovan penuh perhatian sambil merangkul mesra Shila. Dia bahkan sengaja tidak melepas jas dokternya agar si lelaki di hadapan sahabatnya tersebut tau jika kekasih bohongan Shila adalah seorang dokter.


Belum sempat Shila menjawab pertanyaan dari Jovan, lelaki dihadapannya sudah lebih dulu menyela. “Dia siapa Shil? Kenapa memanggilmu baby?” tanya Gavin yang memandang Jovan dengan tatapan tidak suka.


“Kenalkan, aku dokter Jovan Ardeliano spesialis anak atau lebih gampangnya aku adalah seorang pediatris dan aku adalah kekasih Shila.” Jovan memperkenalkan dirinya dengan sedikit kesombongan yang ia tampakkan. Tangannya kini sudah tidak lagi merangkul Shila tapi berganti menjadi menggenggamnya. “Terimakasih sudah mengajak kekasihku untuk makan siang, dia memang tidak boleh terlambat makan atau penyakit maagnya bisa kambuh.” Imbuh Jovan dengan menahan tawa saat melihat raut wajah Gavin yang semakin kesal saat dirinya mengenalkan diri sebagai kekasih Shilla.


“Shil..” Gavin menatap Shila memuntut penejelasan. Ia merasa tidak terima jika gadis yang disukainya ternyata sudah memiliki kekasih.

__ADS_1


“Iya dia memang kekasihku.” Kini gantian Shila yang mengusap mesra lengan Jovan. “Sudah kukatakan padamu bukan jika aku tidak bisa menerimamu dan inilah alasannya. Aku harap kau bisa mengerti.” Lanjut Shila dengan wajah datarnya tanpa ada penyesalan sedikitpun.


“Tapi Shil—“


“Apa kau menyukai kekasihku?” Jovan langsung memotong perkataan Gavin. “Aku rasa percumah kau mengejarnya karna kami sudah cukup lama bersama dan aku yakin kekasihku tidak mungkin berpaling dariku. Aku doakan semoga kau bisa mendapatkan gadis lain yang lebih baik dari Shila karna dia hanya untukku dan hanya milikku.” Potong Jovan dengan cepat lalu mengecup puncak kepala Shila dihadapan Gavin.


Lelaki itupun memilih pergi dan tidak melanjutkan perkataannya lagi. setelah Gavin tidak terlihat barulah Shila dan Jovan sama-sama bisa bernfas lega dan saling tertawa. Mereka tidak menyadari jika dari kejauhan ada yang memperhatikan kejadian tersebut sedari awal. Mulai ketika Shila datang menemui Gavin kemudian Jovan yang tiba-tiba datang menyusul sehingga memuat Gavin pergi.

__ADS_1


Meja yang ia pesan memang tidak terlalu jauh dari tempat Shila. Sehingga ia bisa menebak apa yang terjadi meskipun Kai tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.


“Terimakasih Jo, kau yang terbaik.” Ucap Shila penuh kelegaan. Gadis itu langsung menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Bebannya berkurang satu, dia harap setelah ini Gavin akan benar-benar berhenti mengejarnya.


“Tentu. Aku memang yang terbaik. Tapi terimakasih saja tidak cukup, belikan sogokan untuk Kak Darren. Aku selalu meminta bantuannya saat beraksi untuk membantumu.”


“Tenang, aku sudah menyiapkannya di mobilku. Nanti akan aku ambilkan.” Jawab Shila lalu meneguk minuman yang tadi sempat ia pesan.

__ADS_1


Setelah berbincang sebentar dengan Jovan, sepasang sahabat itupun meninggalkan café dan menuju mobil Shila untuk mengambil sogokan yang akan Jovan berikan untuk Darren. Bukan hal yang mewah, hanya secup Americano dari starbucks dan juga klapertart dari salah satu kedai kue yang cukup terkenal di kota ini. Itulah sogokan yang selalu Darren minta saat Jovan meminta bantuannya.


Jovan kembali menuju rumah sakit tempatnya bekerja dengan berjalan kaki, sedangkan Shila kembali ke kampus tempatnya mengajar menggunakan mobilnya. Ia harus segera kembali ke kampus kalau tidak bisa dipastikan dia akan terlambat. Mengingat jam makan siang sebentar lagi selesai.


__ADS_2