
“Sejak kapan kau berhubungan dengan Ray?” tanya Shila tanpa mempedulikan pertanyaan Jovan sebelumnya. Gadis itu kini menatap Jovan menuntut penjelasan.
“Ray?” Ulang Jovan tidak paham dengan arah pembicaraan Shila. Ray siapa yang dimaksud oleh gadis disampingnya ini? Jovan membatin dalam hatinya dengan kening yang berkerut.
“Rayden Arardion Purnomo.” Eja Shila yang seketika membuat Jovan tertegun. Kenapa tiba-tiba Shila membahas mengenai Rayden?
“Ada apa dengannya?” tanya Jovan masih belum mengerti. Mama Alya yang sedari tadi diam dan ikut menyimak juga menjadi ikut penasaran.
“Itu yang mau aku tanyakan padamu. Sejak kapan kau berhubungan lagi dengan dia? Bahkan kau tidak mengatakan hal itu padaku.” Sinis Shila lalu menunjukkan pesan yang masuk ke ponsel Jovan ternyata adalah pesan dari Rayden. “Lihatlah, dia mengirimimu pesan. Darimana dia mendapat nomor ponselmu?” cecar Shila tidak sabaran.
__ADS_1
Jovan membaca dengan seksama pesan yang dikirimkan oleh Rayden. Rupanya pemuda itu mengajaknya untuk bertemu bersama dengan Shila juga. Rayden juga meminta kontak Shila pada Jovan. “Mungkin dia meminta pada bagian rumah sakit. Ingatlah Shil, Rayden juga seorang dokter. Tidak susah baginya untuk mencari kontakku yang seprofesi dengannya." Jawab Jovan santai lalu kembali melanjutkan makan malamnya yang tertunda.
“Apa sebegitu kagetnya ketika kau mengetahui bahwa Rayden menghubungiku dan meminta nomor ponselmu?” lanjut Jovan sembari menggoda Shila. Gadis itu meletakkan kembali ponsel Jovan tanpa berniat untuk membalas pesan dari Rayden.
“Aku terkejut karna tiba-tiba dia mengirimimu pesan bukan karena dia meminta nomor ponselku. Sudah sekitar tujuh tahun kita tidak berhubungan sama sekali aku pikir dia sudah melupakan kita.” Jawab Shila jujur adanya.
“Sepertinya sebentar lagi akan ada yang membuat cerita berjudul cinta lama belum kelar.” Sambung Mama Alya yang ikut menggoda Shila.
“Kau balaslah pesan darinya. Jika kau keberatan untuk memberikan nomor ponselmu padanya maka tidak usah kau lakukan. Itu semua hakmu untuk memilih dan memilah siapa yang berhak memiliki hubungan denganmu.” Jovan mengedikkan dahunya ke arah ponselnya agar Shila membalas pesan dari Rayden.
__ADS_1
“Aku tidak se-anti itu dengan Rayden. Lagipula bagaimanapun aku menganggap dia juga temanku. Tidak masalah jika kau memberikan nomor ponselku padanya. Lagipula kita akan bertemu dengannya bersama-sama. Bukan hanya berdua antara aku dan dia. Jadi tolong kau dan Mama jangan berangan-angan yang tidak-tidak mengenai aku dan Rayden.” Shila mengingatkan kedua orang yang berada satu meja dengannya. Menatap Jovan dan Mama Alya secara bergantian.
“Siap Bos!” Mama Alya dan Jovan menjawab bersamaan. Dengan sedikit perasaan malas akhirnya Shila yang membalas pesan Rayden pada Jovan. Tidak lupa ia juga memberikan nomor ponselnya pada pemuda tersebut.
*
*
Satu minggu sudah Kaisar menjabat sebagai Dekan baru di fakultas Shila, dan gadis itu benar-benar dilantik menjadi wakil Kaisar. Untuk memudahkan keduanya berinteraksi, Kaisar meminta pada bagian sarana dan prasarana untuk membuat meja kerjanya dekat dengan meja kerja milik Shila.
__ADS_1
Siang ini Shila tampak masih berkutat dengan laptopnya. Padahal teman-teman seruangannya sudah pada berhambur untuk sekedar mencari makan siang atau melaksanakan ibadah. Hanya ada Kaisar dan juga Dara yang berada diruangan itu.
“Apa kau sedang melakukan penelitian? Paper apa yang sedang kau cari, aku bisa membantumu.” Ujar Kaisar yang kini tengah berdiri dibelakang Shila tanpa gadis itu ketahui sebelumnya.