
“Sibuk mencari calon mangsa baru dan lelah karna belum mendapatkannya, benar begitu bukan?” tebak Shila benar. Jovan pun meringis karna Shila menjambak rambutnya dengan gemas meskipun tidak terlalu keras tapi tetap saja hal itu membuat Jovan sedikit kesakitan.
Jovan kembali menegakkan tubuhnya karna takut jika Shila kembali menjambak rambutnya. “Kau selalu benar jika mengenai diriku, Shil apa kau tidak memiliki teman perempuan yang bisa kau kenalkan padaku?”
“Kau tau sendiri jika aku hanya memiliki satu teman perempuan yaitu Dara. Apa kau mau dengannya?”
“Tidak! Temanmu itu kalau bicara seperti kereta api yang tidak ada jedanya. Terus saja mengoceh seperti burung lovebird. Telingaku bisa bermasalah jika menjadi kekasihnya.” Sahut Jovan sambil mengusap telinganya. Membayangkan jika saat ini Dara sedang mengoceh hal-hal tidak penting padanya.
__ADS_1
Mama Alya dan Shila pun menjadi tertawa melihat tingkah Jovan. Pemuda itu memang sangat antipati dengan Dara. Bukannya tidak suka dengan teman perempuan Shila tersebut, namun benar adanya jika Dara sedang berbicara atau menceritakan sesuatu hal maka tidak bisa disela sama sekali.
“Hati-hati Jo, jangan terlalu membenci seseorang. Bisa jadi justru orang itu yang nantinya akan menjadi jodohmu.” Ledek Mama Alya.
Tawa Shila semakin menjadi setelah mendengar perkataan Mamanya barusan. Bagaimana kehidupan pernikahan Jovan dan Dara jika mereka benar-benar menikah ? Ia sendiri justru membayangkan jika hal tersebut sampai terjadi. Pasti akan seru dan penuh warna.
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan rumah tanggamu jika kau benar-benar menikah dengan Dara.” Sahut Shila dengan tawa yang masih menghiasi bibirnya.
__ADS_1
“Aku tidak membenci Dara Ma, hanya saja aku tidak menyukai saat gadis itu mulai membuka mulutnya. Seperti kendaraan yang tidak ada remnya sama sekali.” Jovan menambahkan sambil menatap Mama Alya dengan tatapan puppy eyes miliknya. Mama Alya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Sudah ayo kita makan dulu. Makanannya sudah siap.” Titah Mama Alya. Jovan pun beranjak menuju meja makan bersama dengan Shila yang berada dalam rangkulanya.
Mereka bertiga menikmati makan malam dengan begitu lahap. Selain karna lapar, masakan Mama Alya memang enak. Tidak heran jika Shila menuruni bakat tersebut dari Mamanya. Namun sayang beribu sayang, Shila hanya akan mengeluarkan bakat memasaknya disaat-saat terdesak. Selebihnya gadis itu lebih memilih untuk membeli makanan secara online daripada harus repot-repot memasak.
Tring!!!
__ADS_1
Ponsel Jovan berdering begitu nyaring ditengah-tengah acara makan malam. Karna secara kebetulan Jovan meletakkan ponselnya diatas meja makan. Tangannya yang kotor membuat dirinya tidak bisa membuka ponselnya dengan leluasa, dan Jovan berinisiatif untuk meminta Shila membuka notifikasi dari ponselnya tersebut. “Shil, tolong kau buka ponselku. Lihatlah siapa yang mengirimiku pesan karna kedua tanganku kotor.” Pinta Jovan pada Shila.
Gadis tersebut hanya diam dan tanpa banyak kata ia mengambil ponsel Jovan yang memang berada tidak jauh darinya. Seketika itu Shila tersedak makanan yang sedang ia kunyah. “Pelan-pelan Shil/Hati-hati Shil.” Ucap Mama Alya dan Jovan bersamaan. “Memang ada apa di ponselku hingga kau tersedak begitu?” imbuh Jovan lagi dengan memandang Shila yang masih terpaku melihat layar ponselnya.