ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Kurang sadar diri


__ADS_3

Ini bukan kali pertama Jovan membantu menyelamatkan Shila dari para lelaki yang ditolak oleh sahabatnya itu. Sudah tak terhitung berapa kali Jovan membantu Shila. Oleh sebab itu Shila selalu melakukan pertemuan dengan para lelaki yang menyukainya di Ciprus café karna lokasinya yang dekat dengan rumah sakit tempat Jovan praktek. Sehingga memudahkan Jovan untuk menemuinya dengan cepat.


Jovan langsung buru-buru keluar dari ruang prakteknya dan menemui Darren, rekan seprofesinya untuk meminta bantuannya seperti biasanya. Yaitu menggantikan dirinya saat Jovan membantu Shila.


Ceklek, Jovan membuka pintu ruangan milik Darren. Lelaki yang berusia dua tahun diatasnya itu tengah membaca buku. Matanya menoleh sekilas pada Jovan lalu kembali menatap buku yang berada pada genggaman tangannya.


“Kak, aku ingin meminta bantuanmu lagi.” Jovan tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang sangat estetik.

__ADS_1


“Kali ini apa karna Shila lagi?” tebaknya yang memang benar adanya. Jovan pun mengangguk cepat sebagai jawabannya.


“Iya kak, hehe aku mohon bantuanmu lagi. Aku janji tidak akan lama, setelah membereskan lelaki itu aku akan segera kembali. Lagipula Shila juga memilih café Ciprus seperti biasanya, itu tidak jauh dari sini. Aku janji tidak akan lebih dari setengah jam.” Mohon jovan sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada bidang miliknya.


Darren melepas kacamata miliknya sembari menutup buku yang sedang ia baca. Lelaki berdarah indo tersebut menghela nafasnya secara kasar. Sudah hapal jika Jovan pasti akan meminta bantuan padanya untuk menggantikan tugasnya memeriksa pasien jika Jovan ada panggilan mendadak dari Shila. Dan Darren sudah terbiasa akan hal itu.


“Mau jadi apa dunia ini jika aku dan dia menikah? Dia bahkan lebih memilih untuk menjadi jomblo seumur hidupnya daripada menikah denganku. Selain itu aku menyanginya seperti seorang adik perempuan. Apalagi usianya lebih muda setengah tahun dariku. Dia menolak para lelaki itu karna ingin fokus pada studi doktoralnya kak. “ Jelas Jovan dan hal itu justru membuat Darren menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Pergilah, jangan lupa belikan sogokan untukku.” Usir Darren. Senyum Jovan pun mengembang. Ia memberikan dua jempol pada Darren dan sejurus kemudian Jovan sudah pergi meninggalkan Darren untuk menemui Shila.


Sementara di café,


Shila memandang malas pada lelaki dihadapannya ini yang tidak ada henti-hentinya menyombongkan dirinya sendiri. Bahkan dia heran kenapa Shila bisa menolaknya.


“Coba kau katakan apa kurangnya aku Shil? Aku tampan dan mapan, aku baik hati, tidak sombong, murah senyum tapi aku tidak rajin menabung karna aku sudah kaya. Shil kukatakan padamu sekali lagi kalau hanya kau satu-satunya yang menjadi bidadari dihatiku.” Ucap pemuda bernama Gavin. Dia juga merupakan dosen di kampus tempat Shila mengajar namun berbeda fakultas.

__ADS_1


Shila menghembuskan nafasnya gusar, menunggu Jovan yang tak kunjung datang. Dia sendiri juga sudah malas meladeni Gavin. ‘Kau tanya apa kurangmu? Kau itu kurang sadar diri.’ Ucap Shila namun hanya dalam hatinya saja.


__ADS_2