
Rayden berpindah duduk disebelah Shila, ia memandang gadis tersebut dengan intens. “Meskipun aku belum rela tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karna kau sudah menjadi istri orang lain. Ingatlah Shil, aku selalu ada untukmu kapanpun kau membutuhkanku. Telinga dan bahuku siap untuk mendengar dan menjadi sandaran setiap keluh kesahmu yang tak bisa kau bagi dengan siapapun.” Rayden membelai surai Shila penuh perasaan.
Mungkin begini takdirnya, dia hanya ditakdirkan untuk menjaga Shila, menemani Shila. Bukan untuk memiliki Shila. Jika dia tidak bisa bersama Shila sebagai pasangan, paling tidak Rayden bisa bersama Shila sebagai sahabat sekaligus kakak untuk gadis tersebut.
“Terimakasih Ray, ku harap kau mendoakanku agar aku bisa menjalani pernikahan ini. Aku tidak ingin pernikahanku berakhir seperti Mama dan Papa.” Shila memandang sendu kearah Rayden. Ia meluapkan kekhawatirannya kepada Rayden. Lelaki itu memang lebih dewasa dibanding Jovan. Itu sebabnya Shila jarang menceritakan masalahnya kepada Jovan.
“Aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu Shil. Berusalah yang terbaik untuk mejalani pernikahan ini. Jodoh, maut dan rejeki semua sudah diatur oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani dan berusaha sebaik mungkin.” Rayden tersenyum dan mengusap punggung Shila lembut.
Jujur saja hatinya sakit, tapi tidak mungkin dia merebut Shila. Dia bukan lelaki jahat, meskipun belum ada cinta diantara Kaisar dan Shila, Rayden berharap pernikahan mereka bisa berjalan dengan baik seiring berjalannya waktu. Apalagi dia tahu betul, Shila adalah gadis yang mudah untuk dikagumi dan dicintai.
__ADS_1
*
*
Icha dan Kenny tentu saja bersorak gembira saat tahu jika kini Shila sudah benar-benar menjadi Mama mereka. Bahagia? tentu saja.
“Tentu saja Papa tidak bohong, tanya saja pada Oma jika tidak percaya. Bukankah Oma sudah mengatakan kepadamu dan Kenny?” Kaisar balik menanyai Icha. Tidak mungkin Mamanya belum mengatakan berita sepenting itu kepada kedua anaknya.
Icha dan Kenny mengangguk bersamaan. “Icha hanya ingin memastikan, takut jika Oma sedang mengeprank Icha dan Kenny.” Sahut gadis kecil tersebut dengan rona bahagianya. Tangannya tidak lepas menggandeng tangan Shila yang duduk disebelahnya.
__ADS_1
“Darimana Icha tahu bahasa seperti itu?” Shila tidak tahan untuk bertanya. Icha memang pintar tapi ia tidak menyangka gadis itu akan tahu bahasa-bahasa gaul jaman sekarang.
“Dari teman-teman.” Jawabnya melihatkan deretan giginya yang rapi. “Berarti Mama tidur dengan Papa? Dikamar lantai dua ya Pa?” Icha memandang sang ayah. Kamar lantai dua adalah kamar utama milik Kaisar dan juga Elvina.
“Tentu saja Mamil akan tidur dengan Papa karena dia sudah menjadi istri Papa. Kami akan tidur dikamar lantai bawah yang dekat dengan taman samping.” Kaisar berusaha menjelaskan, ia melirik Shila namun sepertinya gadis itu tidak masalah tidur dimana saja. Apalagi semalam dia sudah menjelaskan jika dirinya dan Shila hanya akan pura-pura tidur bersama. Setelah itu Kaisar akan tidur dikamar miliknya dan Elvina.
“Mamil, siapa Mamil?” Icha menatap Kaisar dan Shila bergantian. Gadis kecil itu tidak paham siapa Mamil yang dimaksud oleh Kaisar.
“Siapa lagi kalau bukan Mama Shila. Mamil itu merupakan singkatan dari Mama Shila. Tidak mungkin Papa memanggilnya dengan panggilan ‘Mama’, nanti bisa-bisa Oma yang akan menoleh.” Jelas Kaisar agar anaknya tidak bertanya lagi.
__ADS_1