
Gadis itu hanya memutar bola matanya dengan malas. Bosan menanggapi candaan Jovan yang selalu saja menggodanya. “Masih lama atau tidak?” tanyanya sebal karna kini sudah lebih dari sepuluh menit mereka menunggu namun yang ditunggu sepertinya tidak kunjung datang.
“Kau ini kenapa sebenarnya? Hari ini selalu saja mengomel dan menggerutu. Baru juga kita menunggu selama sepuluh menit. Tunggulah sebentar lagi juga datang.” Decak Jovan gemas melihat Shila. Ia lupa peringatan Mama Alya tadi pagi yang mengatakan jika Shila sedang kedatangan tamu bulannnya. Hal itu tentu saja membuat perempuan manapun pasti mengalami mood swing.
“Lama.” Shila mencebikkan bibirnya kesal. Ia sudah tidak peduli pada Jovan yang terus saja mengajaknya berselfie dan mengupload foto maupun video mereka ke instastory dan status whatsapp milik dokter anak tersebut.
“Shil lihatlah, apa menurutmu dia cantik?” Jovan menunjukkan foto seorang gadis kepada Shila. Selera sahabatnya itu selalu saja tidak pernah berubah sedari dulu, Jovan sangat menyukai gadis yang feminim dan pandai berdandan.
Shila melirik sekilas tanpa minat. “Cantik” Sahutnya malas. Jovan tersenyum mendengar jawaban Shila. Itu berarti sahabatnya sependapat dengan dirinya.
“Tapi lebih cantik kau Cil.”
__ADS_1
Deg,
Ucapan seseorang yang kini sudah berdiri tepat dihadapan Shila dan juga Jovan membuat gadis tersebut tertegun. Ia hapal betul siapa pemilik suara tersebut dan siapa orang yang gemar memanggilnya dengan sebutan ‘kancil’ selain Jovan.
Shila mendongakkan wajahnya sambil berusaha untuk berdiri. Kedua mata miliknya bertemu dengan mata milik Rayden. Cinta pertamanya sekaligus orang pertama yang mematahkannya. Senyum manis Rayden terus saja mengembang menatap gadis dihadapannya yang semakin cantik dan semakin dewasa.
Jovan tidak menyangka jika Shila sampai seterkejut itu ketika bertemu dengan Rayden saat ini. Gadis itu tertegun dan membeku cukup lama, bahkan Shila tidak membalas senyuman dari Ray untuknya.
Shila lebih dulu mengurai pelukan dari Rayden. Ia masih belum percaya sepenuhnya jika orang yang sudah meninggalkannya lebih dari tujuh tahun yang lalu itu kini berdiri dihadapannya.
Jovan dan Rayden pun mengurai pelukan mereka. Keduanya menatap Shila yang masih memandang Rayden dengan tatapan tidak percayanya. “Aku kembali Shil, dan kali ini aku tidak akan pergi lagi.” ujar Rayden lagi sambil terus tersenyum pada Shila.
__ADS_1
Akhirnya gadis itupun membalas senyumannya. “Selamat datang kembali Ray.” Sahutnya santai setelah Shila bisa mengendalikan diri. Ia tidak menyangka jika akan secepat ini bertemu dengan Rayden.
Apalagi setelah Shila memberikan nomor ponselnya pada Rayden saat lelaki itu meminta dari Jovan, sampai detik inipun Rayden belum pernah sekalipun menghubunginya. Sepertinya Jovan dan Rayden memang sudah merencanakan ini semua darinya.
“Kalian berhutang penjelasan kepadaku. Khususnya kau!” Shila menunjuk kening Jovan dengan telunjuknya.
“Aku sengaja meminta Jovan untuk mengajakmu menjemputku, aku ingin memberimu kejutan. Apa kau tidak senang aku sudah kembali kesini?” bukan Jovan yang menjawabanya namun Rayden.
“Jangan melepas rindu disini, ayo kita kembali dulu ke apartemnmu.” ajak Jovan. Lelaki itu bahkan sudah mulai berjalan menuju parkiran mobil.
“Tentu aku senang ketika kakakku kembali lagi. Tapi kau tidak mungkin tiba-tiba kembali tanpa sebab bukan?” selidik Shila yang juga mulai melangkahkan kaki menyusul Jovan. Rayden berjalan menyamai langkahnya dengan Shila. Sungguh seandainya tidak ada Jovan, ia ingin memeluk Shila lebih lama lagi. Ia sangat merindukan gadis tersebut meskipun beberapa tahun ini keduanya tidak pernah berkomunikasi.
__ADS_1
“Kenapa kau selalu sepeka ini?” gemas Rayden pada Shila karna apa yang gadis itu katakan memanglah sebuah kebenaran.