
‘Dia bukan hanya merajuk tapi juga membentak dan berbicara ketus padaku. Oleh sebab itu aku tidak akan pernah lupa jika Rayden tidak menyukai segala sesuatu yang berbau keju’ Shila menjawab pertanyaan Jovan dengan jujur namun hanya dalam hatinya saja. Ia tidak ingin membuka luka lama yang sempat Rayden torehkan dulu. “Oh ya? Aku lupa, hal itu sudah terlalu lama. Otakku memang kadang memilih untuk mengingat hal tidak penting daripada hal-hal yang penting.” Sahut Shila dengan senyum palsunya.
Shila menoleh menatap Rayden yang justru belum menyentuh makanan yang ia bawa. Sangat berbanding terbalik dengan Jovan yang justru memakannya dengan lahap. Rayden masih memandang dirinya dengan tatapan yang Shila tak mengerti. “Kau kenapa Ray? Apa kau sedang mengingat sesuatu? Yang dulu tidak perlu kau ingat-ingat lagi, itu semua hanya masa lalu.” Shila mengambil roti sobek rasa coklat dan ia serahkan pada Rayden. “Makanlah, bukankah kau sangat menyukai roti ini?” tanyanya lagi.
Rayden mengambil sepotong roti yang Shila sodorkan. Bahkan Shila masih tau jenis roti dan dari toko mana yang ia sukai. Sangat berbeda dengan Lily, kenapa Rayden justru kini diam-diam membandingkan kedua gadis itu? “Terimakasih Shil.” Ucap Ray ramah.
Shila mengulum senyumnya dan mengangguk. “Apa kau sudah meminum obatmu? Aku tidak bisa menemanimu terlalu lama, biarkan Jovan yang disini menjagamu. Aku masih harus mengerjakan beberapa pekerjaanku karna menjelang re-akreditasi semakin banyak pekerjaan yang harus kukerjakan.” Shila mendesah, menghembuskan nafasnya secara kasar saat mengingat pekerjaan yang sedang menantinya.
__ADS_1
“Sudah, kau dan Jovan pulanglah jika memang masih ada pekerjaan. Demamku juga sudah turun, terimakasih karna sudah menjagaku.” Ucap Rayden tulus. Jujur saja sebenarnya dia juga merasa tidak enak karna merepotkan Shila dan dan Jovan. Namun hanya kedua orang itu yang bisa ia hubungi dan ia mintai bantuan untuk mengurusnya.
“Apa kau sudah menghubungi Lily? Setidaknya jika Jovan tidak bisa menemanimu, seharusnya sebagai kekasih Lily bisa menjagamu. Disaat seperti inilah pacar itu berguna.” Oceh Shila dengan santainya.
“Dia sedang merajuk kepadaku. Aku sudah mengatakan kepadanya jika aku sedang sakit, tapi dia hanya membaca pesanku saja dan tidak membalasnya sama sekali.” Jujur Rayden.
Shila dan Jovan sedikit tercengang, kenapa sifat childish Lily sedari dulu tidak berubah? Gadis itu tidak akan peduli kepada Rayden jika tengah merajuk. “Astaga, bagaimana bisa sikapnya dari dulu sampai sekarang tidak berubah?” Shila perdecak tidak percaya.
__ADS_1
Pemuda yang sedang sakit dan menerima oemlan dari kedua sahabatnya itu hanya bisa tersenyum tanpa menjawab apapun.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, semoga lekas sembuh Ray. Kabari aku jika kau membutuhkan sesuatu.” Kata Shila berujar untuk pamit lalu pergi meninggalkan Rayden dan juga Jovan yang kini tengah menjaga Rayden yang sedang sakit.
“Kau juga pulanglah Jo, aku tahu jadwal kencanmu sangat padat bukan?” Ejek Rayden pada sahabatnya yang masih asyik bermain game namun mulutnya terus mengunyah kue-kue yang dibawa Shila untuknya.
“Hari ini jadwalku kosong jadi aku bisa seharian disini mengganggumu.” Jawabnya santai tanpa menatap Rayden sedikitpun.
__ADS_1
“Dasar kau ini. Sudah saatnya kau mencari satu untuk kau seriusi.” Rayden menasehati pemuda yang usiahnya berada setah tahun dibawahnya tersebut.
“Ada Shila, tenang saja. Kalau dengan dia aku bisa serius dan berhenti bermain-main.” Jawab Jovan bercanda yang entah kenapa meskipun Rayden tahu itu adalah sebuah gurauan tapi hatinya merasa seolah tidak terima.