ANALOGI RASA

ANALOGI RASA
Duren sawit, duku mateng


__ADS_3

“Shila tidak akan mungkin mau denganmu.” Sahut Rayden mencoba menampik perasaan tidak enak dalam hatinya.


“Tentu saja dia tidak mau, calonnya saja jauh diatasku. Seorang profesor muda dengan dua anak.” Ceplos Jovan tanpa sadar. Hal itu tentu saja mengagetkan Rayden. Ia tidak tahu-menahu mengenai Shila yang sedang menjalin hubungan dengan seseorang.


“Maksudmu duda?” Rayden mencoba memastikan.


“Duren sawit, duku mateng. Duda keren sarang duit, duda kuat mapan dan ganteng. Hahahaha…” Jovan tergelak dengan perkatannya. Lalu ia mengalihkan tatapan dari ponsel yang sedang menampilkan game yang ia mainkan dengan menatap Rayden yang sepertinya kaget. “Tidak usah kaget begitu, salah sendiri kau yang menyatakan cinta padanya lalu kau sendiri yang meminta untuk ditolak. Setelah itu kau justru kembali berpacaran dengan Lily.” Ledek Jovan to the point.


“Kau tau hal itu?” Kaget Rayden, ia tidak mengira jika Jovan mengetahui tentang dirinya yang menyatakan cinta kepada Shila namun dirinya juga yang memberi alasan agar Shila menolaknya.


“Tentu saja, tidak ada hal yang Shila sembunyikan dariku.” Jovan berucap dengan sombongnya, di ikuti senyum setannya.

__ADS_1


“Lalu apa benar jika kini Shila sedang menjalin hubungan dengan duda seperti yang kau katakan tadi?” Tanya Rayden ingin menuntaskan rasa penasarannya.


“R-a-h-a-s-i-a “ sahut Jovan lalu pergi meninggalkan Rayden dengan tawa yang menggema di seluruh apartment sahabatnya tersebut. Rayden hanya bisa berdecak sebal, lagi-lagi Jovan berhasil membuatnya penasaran.


“Simpan rasa penasaranmu Ray, kalau berani tanyakan langsung pada Shila.” Tantang Jovan yang kini sudah kembali duduk disamping Rayden sambil membawa minuman soda yang diambilnya dari kulkas Rayden.


“Jika hanya bertanya pada Shila tentu saja aku berani, namun belum tentu dia mau menjawabnya.” Sahut Rayden lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


“Kalau begitu biarkan waktu yang menjawabnya.” Ujar Jovan sok puitis. Keduanya pun tergelak bersamaan. Namun setelah itu Rayden berusaha untuk memejamkan matanya agar bisa segera memulihkan kondisi tubuhnya. Sementara Jovan? Pemuda itu sibuk bermain game sekaligus berkirim pesan dengan para gadis yang sedang dekat dengannya.


*

__ADS_1


*


“Miss Shila, kau diminta untuk menemui Prof Kai diruangannya.” Albert berujar menyampaikan pesan dari Profesor muda tersebut untuk Shila.


“Memangnya ada hal apa?” Tanya Shila ingin tahu. Karena setahu dirinya pekerjaan yang berhubungan dengan Kaisar sudah ia selesaikan kemarin.


“Entah aku tidak tahu. Beliau hanya menyuruhku untuk menyampaikan pesan kepadamu agar bisa segera menemuinya keruangan Dekan. Prof Kai sudah menguhubungi ponselmu beberapa kali tapi katanya tidak ada sahutan.” Jawab Albert yang kini sudah duduk di mejanya.


Awalnya ruangan Kaisar memang berada diruangan yang sama dengan Shila dan teman-teman yang lain. Itu karena Kaisar meminta ruangan khusus Dekan dirombak sesuai desain yang ia inginkan. Oleh sebab itu ketika ruangannya sudah selesai dirombak tentu saja Kaisar kembali ke ruangannya.


Maka dari itu dirinya sudah tidak berada di ruangan yang sama lagi dengan Shila dan teman-teman lainnya. Walaupun terkadang Kaisar juga masih sekedar bermain dan menengok rekan-rekan dosen sefakultasnya.

__ADS_1


Shila segera mengecek whatsapp dan telegram yang ia buka di laptopnya. Saking banyaknya chat yang masuk membuat pesan Kaisar tertimpa jauh dibawah sana. Shila hanya bisa tersenyum kaku karna kini Albert memandangnya dengan jengah. “Pesan dari Prof Kai tertimpa chat yang baru masuk. Aku bahkan tidak sadar jika dia menghubungiku.” Shila berusaha membela dirinya.


Albert hanya berdecak dan menggelengkan kepalanya. “Entah sebenarnya apa gunanya ponselmu itu jika dihubungipun sangat susah.” Albert mencibir Shila. ”Sana cepat lekas temui Prof Kai, jangan membuatnya menunggu terlalu lama.” Lanjut Albert mengingatkan kembali.


__ADS_2