
“Oh begitu rupanya. Kenapa tidak tidur dikamar lantai dua? Kamarnya lebih besar daripada kamar yang dekat taman samping Pa?” Icha terus saja memberikan pertanyaan yang membuat Shila dan Kaisar pusing, khususnya Kaisar.
“Mama tidak suka tidur dilantai atas, malas naik turun karena biasanya tengah malam Mama kelaparan.” Shila yang menjawab pertanyaan Kaisar. Itu memang sebuah kejujuran, dirinya tidak suka tinggal dilantai atas karena selain malas naik turun, Shila memang sering kelaparan tengah malam saat sedang lembur mengerjakan pekerjaan atau disertasinya.
Icha mengangguk-anggukan kepalanya. Sementara Kenny sudah tidur terlelap dalam gendongan Shila. “Nanti malam boleh tidak jika Icha dan Kenny tidur bersama Mama?” Tanya sigadis kecil lagi penuh harap.
“Tentu Boleh.” Jawab Kaisar dan Shila bersamaan. Jika Icha dan Kenny meminta untuk tidur bersama Shila itu artinya tidak masalah jika Kaisar tidur terpisah dari mereka dengan alasan kasurnya tidak cukup. “Tapi dengan Papa juga.” Lanjut sigadis kecil dengan puppy eyesnya yang menatap Kaisar dan Shila bergantian.
__ADS_1
GUBRAK! Baru saja Kaisar dan Shila bisa bernafas lega, namun kini ternyata permintaan Icha membuat keduanya saling melirik. “Kasurnya tidak muat sayang, kalian tidur bersama Mama. Papa akan tidur dikamar lainnya.” Kaisar beralasan, ia sebenarnya tidak tega menolak permintaan Icha tapi mau bagaimana lagi, dirinya juga tidak siap jika harus tidur seranjang dengan Shila.
“Kalau begitu untuk malam ini saja kita tidur dikamar utama lantai dua Pa. Kasur disana cukup besar, bahkan bisa untuk beberapa orang sekaligus.” Bujuk Icha yang memang ingin merasakan tidur bersama Shila, Kenny dan juga Kaisar. “Dulu juga kita sering tidur berempat saat Kenny masih kecil bersama dengan Bunda El.” Imbuhnya lagi agar Kaisar mau menuruti permintaannya.
Kaisar menghela nafasnya dengan kasar. Ini adalah permintaan sederhana tapi kenapa sangat sulit baginya? Ia tidak mungkin membawa Shila ketempat peraduannya dengan Elvina, rasanya seperti terang-terangan mengkhianati Elvina meskipun Shila adalah istrinya yang baru.
“Kita tidur dikamar bawah saja, Papa akan tidur dikarpet jika kasurnya tidak muat. Kasihan Mamil jika harus menuruni tangga saat kelaparan tengah malam." Putus Kaisar pada akhirnya. Yang mau tidak mau akhirnya Icha menurut, yang terpenting malam ini dirinya bisa tidur layaknya keluarga yang utuh.
__ADS_1
*
*
“Mama tidak menyangka hari ini tiba juga. Shila harus pergi meninggalkan rumah ini untuk mengikuti suaminya.” Mama Alya memandang Shila dan Kaisar dari pintu kamar anak perempuannya tersebut. Tak terasa air matanya mengalir, air mata haru dan juga air mata bahagia.
Andra mengusap lembut lengan Mama Alya. “Ini salah satu impian Mama bukan? Tenanglah, Shila hanya pindah tidak jauh dari kita. Tidak lebih dari satu jam juga kita sampai ke tempat tinggal Shila yang baru.” Andra berusaha menenangkan ibundanya yang sedang bersedih karena akan ditinggal Shila.
__ADS_1
Karena setelah kepergian Shila, dirinya akan benar-benar tinggal seorang diri. Namun bagaimana lagi itulah yang namanya kehidupan. Ketika anak-anak sudah besar maka mereka akan pergi membangun keluarganya sendiri.
“Mama menikah lagi saja agar tidak kesepian.” Gurau Andra yang seketika mendapat hadiah cubitan dari Mama Alya.