
Kedua gadis itu kini berjalan beriringan menuju ruangan mereka. Shila diam-diam mengulum senyum karna kini dia sedang memeluk buket yang berisi bunga kesukaannya dari Rayden. Ya pengirimnya adalah Rayden, RAP adalah akronim nama lengkap dari seorang Rayden Arardion Purnomo.
“Kau ini kalau bicara jangan asal Dar!” Tegur Shila yang takut jika ada teman dosen yang mendengarnya dan menjadi salah paham.
Dara yang ditegur hanya terkekeh geli. “Aku rasa kali ini kau ada sesuatu yang lain dengan Rayden. Jadi kau pilih yang mana Shil? Prof Kai atau Rayden?” Dara lagi-lagi menggoda Shila. Rasanya senang menjahili teman gadisnya ini yang menjadi primadona kampus.
“Tapi kalau akau jadi kau mungkin aku akan memilih Rayden karna saingan untuk mendekati Prof Kai sangat banyak. Kudengar Miss Vela dari fakultas ekonomi dan bisnis juga tertarik kepada Prof Kai. Dia juga salah satu primadona kampus selain kau, bedanya dia janda sedangkan kau masih gadis.” Lanjut Dara memberikan informasi terkini terkait gosip yang beredar dikampus.
“Aku tidak akan memilih keduanya. Kau ini bagaimana bisa mendapatkn berita semacam itu? Hentikan kebiasaan burukmu untuk menggosip, suatu saat bisa jadi kau yang dijadikan bahan gosip bagi yang lainnya.” Ujar Shila mengingatkan.
__ADS_1
“Beritanya sudah menyebar kemana-mana. Bahkan aku sering melihat miss Vela berkonsultasi pada Prof Kai mengenai disertasinya. Kau saja yang tidak pernah mau tahu berita tentang Profesor muda itu.” Cibir Dara sembari mencebikkan bibirnya.
“Waktuku sudah habis untuk bekerja, tidak sempat menggosip sepertimu.” Sindir Shila yang justru membuat Dara terkekeh. Keduanya pun duduk di tempat masing-masing. Dan dengan hati yang gembira Shila membuka ponselnya. Dan kali ini dia yang lebih dulu mengirimi pesan untuk Rayden.
Sepertinya perang dingin antara mereka berdua segera berakhir. Itulah hal yang Rayden sukai dari Shila, gadis itu tidak akan susah untuk dibujuk ketika marah. Dan Shila adalah salah satu perempuan yang cukup sabar menghadapinya dulu.
Ponsel Shila bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Rupanya Rayden memilih untuk langsung menelpon Shila daripada membalas pesan gadis tersebut.
Shilapun mengangguk meski Rayden tidak bisa melihatnya. “Sudah, aku menyukainya.” Ucap Shila malu-malu sambil mengulum bibirnya. Tentu saja dia sedikit tersentuh, bagaimanapun ini adalah kiriman buket bunga pertama yang isinya adalah bunga kesukannya.
__ADS_1
“Aku tahu kau pasti akan menyukainya, itu adalah green rose bunga favoritmu. Apa kau ingat semasa SMA dulu kau mengajakku untuk memutari sentra bunga didaerah Kotabaru hanya untuk mencari mawar jenis itu. Kupikir kau akan membeli untuk seseorang tapi nyatanya kau justru membeli untuk dirimu sendiri.” Cerita Rayden terkekeh mengenang masa lalu mereka.
“Tentu saja aku ingat. Apalagi wajah cengomu itu yang terkejut saat mengetahui jika aku membeli bunga untuk diriku sendiri. Habisnya mau bagaimana lagi, tidak ada yang memberiku bunga jadi ya aku beli sendiri saja.” Shila ikut terkekeh menertawakan kekonyolannya dulu.
“Lain dulu lain sekarang bukan? Saat ini justru banyak orang yang mengirimimu bunga setiap harinya.”
“Ya kau benar, tapi baru kau yang memberiku buket bunga kesukaanku. Terimakasi Ray, aku sangat menyukainya.” Ucap Shila lagi yang kini sambil membelai bunga-bunga yang ada didalam buket tersebut.
“Itu karena hanya aku, Jovan, dan Mamamu yang tahu jenis bunga favoritmu.”
__ADS_1
“Ya kau benar.” Shila membenarkan perkataan Rayden.
“Aku sungguh minta maaf, aku tidak akan mengulang kebodohanku lagi.” Ujar Rayden tulus dan tersirat rasa penyesalan dari perkataannya.