
Tentu Saja Karla merasa aneh dengan tingkah laku Kaisar. “Teman yang mana? Kau ini kenapa? Menatap gadis itu terus menerus lalu tersenyum aneh.” Tanya Karla tak paham dengan tingkah Kaisar.
“Teman yang diselingkuhi oleh kekasihnya yang seorang dokter. Dialah orangnya, gadis itu teman yang ku maksud. Coba kau lihat dengan jelas, pria yang sedang merengek padanya adalah pria yang waktu itu kau ambil fotonya saat sedang menyuapi gadis lain.” Jelas Kaisar kepada Karla agar gadis itu tidak salah paham lagi kepadanya.
Karla membuka ponselnya dan membandingkan dengan laki-laki yang kini terlihat tengah merengek seperti anak kecil kepada ibunya. Ya, Jovan merengek kepada Shila ditempat umum, catat tempat umum. Dan hal ini bukanlah pertama kalinya dia bertingkah seperti itu, Shila hanya bisa menghibur dan membiarkannya sampai reda dengan sendirinya.
“Astagaa, iyaa kau benar bang. Sepertinya temanmu itu sudah memutuskannya makanya dia merengek seperti itu, cihh lagaknya saja mau jadi playboy tapi ketika diputuskan oleh kekasihnya justru menjadi pengemis. Kurang apa coba temanmu itu bang? Kau benar jika dia cantik, menarik, bahkan gadis yang dia suapi kemarin saja tidak ada apa-apanya dibandingkan kekasihnya itu. Lelaki itu seperti kucing, sudah dikasih daging tapi tetap saja mau makan ikan asin.” Karla mencebikkan bibirnya mencemooh Jovan dari kejauhan.
Kaisar lebih memilih untuk mempercepat suapannya kepada putra dan putrinya. Ia tidak menghiraukan cibiran Karla untuk Jovan. Takut jika Shila menyadari keberadaan dirinya beserta Icha, Kenny dan Karla akhirnya Kaisar memutuskan untuk mengajak ketiganya pulang. Ia sudah tidak sabar menanti esok hari guna mengucapkan selamat kepada Shila. Selamat karna sudah melepas kekasihnya yang playboy itu.
__ADS_1
*
*
Dering ponsel Shila terus berbunyi namun si empunya tidak menghiraukannya karna masih sibuk berkutat dengan paper yang sedang dibacanya. Mama Alya sampai gemas sendiri dengan anak perempuannya itu, dia saja sudah sangat risih karna ponsel Shila terus berbunyi, tapi sepertinya Shila tidak menghiraukannya sama sekali.
“Shil, apa kau tidak dengar jika daritadi ponselmu berbunyi?” Tanya Mama Alya keheranan. Kini kedua wanita beda usia tersebut memang sedang berada diruang tengah, namun mata Shila hanya fokus pada layar ipadnya. Sementara Mama Alya sedang menonton hiburan yang ada di televisi.
Mama Alya berdecak sebal kemudian mengambil ponsel Shila yang masih terus berdering. Dilihatnya nama Rayden tertera disana, itu berarti pemuda tersebutlah yang daritadi berusaha menghubungi Shila. “Lihat, Rayden berulang kali menghubungimu, kenapa tidak kau angkat? Apa kalian sedang bertengkar?” Selidik Mama Alya sambil memcingkan matanya menatap Shila yang sama sekali tidak membalas tatapannya.
__ADS_1
Shila menoleh sekilas, menatap layar ponselnya dan benar saja Rayden masih terus berusaha menghubunginya. “Pengangguku kini bertambah satu, selain Jovan kini ada Rayden yang tidak akan membiarkanku tenang di hari liburku.” Gumam Shila pelan tapi masih bisa didengar oleh Mama Alya.
Gadis itupun meraih ponsel dari tangan Mamanya dan sedetik kemudian dia sudah menerima panggilan dari Rayden.
“Kenapa lama sekali kau angkat telepon dariku?” Rayden langsung melayangkan protesannya saat panggilan yang sudah entah keberapa kalinya ia lakukan baru diangkat oleh Shila.
“Ada apa?” Tanya Shila tidak menggubris protesan Rayden.
“Temani aku menonton Cil.” Pinta Rayden tanpa basa-basi.
__ADS_1
“Aku sedang belajar untuk disertasiku Ray, kau ajak Lily saja.” Tolak Shila langsung.
“Aku ingin menonton bersamamu. Kita pernah menonton seri awalnya saat SMA dulu dan kini aku ingin mengajakmu untuk menonton seri terbarunya yang sudah tayang dibioskop. Aku juga sudah mengajak Jovan tapi dia berkata jika akan menonton bersama kekasih barunya. Jadi aku moh—“