
“Sudahlah aku jadi pusing sendiri membahas masalah ini. Baiklah tidak masalah jika Icha dan Kenny ingin memanggil Shila dengan panggilan Mama.” Pasrah Kaisar pada akhirnya. Ia tidak ingin memperpanjang pembahasan mengenai Shila.
“Jadi kapan Papa akan mengantarkan kami bertemu Mama Shila?” Tanya Icha yang sudah menghabiskan snack sorenya.
“Nanti Papa cari waktu dulu ya, Tante Shila juga sedang sibuk.” Kaisar beralasan.
“Mama Shila pa!” Icha mengoreksi.
“Itu kan panggilan dari kalian untuknya, mana mungkin Papa ikut memanggilnya Mama Shila.” Ujar Kaisar gemas karna anak-anaknya mengoreksi perkataannya.
“Tidak masalah jika Papa memanggilnya Mama. Nanti Icha yang akan meminta ijin pada Mama Shila.” Sahut icha dengan polosnya.
__ADS_1
“JANGAAANN!!!” Pekik Kaisar dengan keras. Mama Raisa diam-diam mengulum senyum. Sangat manis jika Kaisar sampai memanggil Shila dengan panggilan Mama. Seperti satu keluarga yang utuh.
“’Kalian saja, Papa kan sudah punya Mama. Mama Risa, Oma kalian.” Tolak Kaisar dengan cepat.
“Oh iya, baiklah kalau begitu” Icha tesenyum menyadari jika Omanya adalah Mama dari Kaisar. “Kalau Mama Shila sudah tidak sibuk, antarkan kami kerumahnya atau bawa Mama Shila kemari ya Pa?” Pinta Icha yang sudah sangat rindu dengan Mama Shilanya itu.
“Hmmm..” Kaisar berdeham sambil menganggukan kepalanya. Ia tidak ingin membahas mengenai Shila lagi. Kepalanya jadi berdenyut-denyut karna daritadi hanya Shila yang menjadi topik pembicaraan. Mungkin saat ini telinga gadis bernama Shila itu sedang berdenging dan memerah karna dirinya sedang menjadi bahan ghibah untuk Mama Risa dan juga Kaisar.
*
*
__ADS_1
Rayden menarik lengan Shila hingga gadis tersebut menabrak tubuh atletisnya. Cukup sudah Shila menghindarinya selama ini dan dia harus tahu apa alasan dibalik ini semua. “Mau menghindariku sampai kapan?” tanya Rayden dengan tatapan mengintimidasi.
Shila beringsut berusaha melepaskan cekalan Rayden, namun usahanya tidak berhasil. Laki-laki itu justru menarik Shila menuju mobilnya dan menyuruh sigadis masuk kedalamnya. Tak mau menambah masalah apalagi saat ini mereka masih berada didalam lingkungan kampus tempat Shila bernaung akhirnya ia lebih memilih untuk menuruti kemauan Rayden.
“Katakan padaku kenapa kau menghindariku?” tanya Rayden kembali saat kini mereka sudah berada didalam mobil miliknya.
Shila terdiam beberapa saat. Ia sedang menyusun kalimat yang akan ia katakan pada laki-laki yang sekarang sedang menuntut jawaban dari dirinya. “Aku tidak menghindarimu Ray.” Elak Shila karna ia masih enggan untuk membahas alasan sebenarnya kenapa dia benar-benar menghindari Rayden.
Rayden mendengus mendengar jawaban Shila yang ia tahu jika itu adalah sebuah kebohongan. Shila jelas-jelas menghindarinya, gadis itu tak lagi mau mengangkat teleponnya setiap saat, Shila pun hanya membalas pesannya dengan singkat itupun setelah berulang-ulang kali ia mengirim pesan pada gadis tersebut. Dan yang terakhir gadis itu selalu beralasan ketika Rayden ingin mengajaknya untuk pergi keluar.
Apalagi jika itu bukan menghindar namanya. Tapi lihatlah gadis disampingnya itu masih saja mengelak bahkan Shila enggan menatap ke arah Rayden. Kalau Rayden tidak nekat untuk menemui Shila di kampus tempatnya mengajar sudah dapat dipastikan Shila akan terus menghindarinya.
__ADS_1
“Kau sudah jarang mengangkat telponku dan membalas pesanku. Bahkan kau selalu beralasan ketika aku ingin mengajakmu pergi. Sebenarnya kenapa kau menghindariku?” Rayden bertanya dengan sangat menuntut, bahkan kini tatapan tajamnya terus menatap pada Shila.