
Shila segera berjalan cepat menuju kamar kak Andra untuk mengambil beberapa baju milik kakaknya. Untung saja ukuran tubuh Andra tidak jauh berbeda dengan Kaisar, jika tidak entahlah Shila akan meminjamkan baju apa kepada atasannya tersebut.
“Ini Prof” Shila menyerahkan satu stel pakaian ganti yang terdiri dari kaos dan celana training. “Gantinya disini.” Shila melangkah menuju kamar mandi yang tidak jauh dari ruang keluarga.
Kaisar mengikutinya dari belakang, setelah sampai mengantarkan Kaisar ke kamar mandi yang dituju Shila segera berbalik dan melanjutkan niat awalnya. “Aku akan membuatkan minuman hangat di dapur. Kalau butuh apa-apa kau bisa memanggilku Prof.” Ucap Shila sebelum melangkah pergi meninggalkan Kaisar.
Tidak pikir panjang, Shila langsung membuat secangkir jahe madu hangat dan juga semangkuk mie berkuah susu. Setidaknya Kaisar bisa menghangatkan tubuhnya dengan kedua makanan dan minuman hangat tersebut pikir Shila.
“Aaaakkkkhhhhhhh…” Teriak Kaisar yang membuat Shila sampai menumpahkan susu yang akan ia panaskan sebagai kuah dari mie yang dibuatnya.
“Ada apa Prof?” Tanya Shila setengah berteriak yang kemudian dengan cepat berlari menuju kamar mandi tempat Kaisar berada.
__ADS_1
Tok tok tok!
Shila mengetuk pintu kamar mandi, ia tidak mungkin masuk begitu saja saat Kaisar sedang didalam sana. “Prof Kai ada apa?” Tanya Shila dibalik pintu.
“Buka saja pintunya Shil, tidak ku kunci.” Sahut Kaisar cepat dengan suara yang seperti orang ketakutan.
Shila menuruti dan membuka pintu perlahan, Kaisar baru saja mengganti celananya yang basah dengan training milik kak Andra tapi lelaki itu belum menggunakan atasannya sama sekali.
Dengan cepat Shila segera berbalik badan “Pakai dulu bajumu Prof.”
Shila membalikkan badannya menatap Kaisar tidak percaya. Bahkan dia sudah lupa jika kini Kaisar masih belum menggunakan baju atasannya. “Kau takut pada cicak?”
__ADS_1
Kaisar mengangguk cepat. “Aku phobia pada cicak dan reptil sejenisnya.” Jawab Kaisar malu tapi mau bagaimana lagi, memang itu kenyataannya dan dia membutuhkan Shila untuk mengusir cicak itu.
Shila bergegas keluar untuk mencari benda yang bisa ia gunakan untuk mengusir cicak. “Mau kemana Shil?” Tanya Kaisar yang seperti enggan ditinggal Shila.
“Aku harus mencari sesuatu untuk mengusirnya, tidak mungkin aku mengusirnya dengan tangan kosong Prof. Tunggu disini sebentar.” Titah Shila pada Kaisar, seperti seorang ibu yang sedang memberi perintah kepada anaknya.
Gadis itu segera berlari keluar kamar mandi dan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengusir si cicak. Karna dia sendiri juga geli dengan makhluk tersebut. “’Nah, pakai ini saja.” Ucap Shila senang saat menemukan sapu yang biasa ART nya gunakan untuk menyapu teras belakang rumahnya.
“Shila cepaat!” Teriak Kaisar tidak sabaran.
“Iya iyaa, ini aku juga sedang berjalan kesitu.” Balas Shila sambil berjalan cepat.
__ADS_1
Shila berusaha untuk menjatuhkan cicak tersebut menggunakan sapunya. Namun cicak itu justru diam tidak bergeming. “Kenapa kau ada disini? Baru pindah darimana kau?” Tanya Shila entah sadar atau tidak tapi hal itu sedikit menghibur Kaisar.
“Ck kenapa kau diam saja, sepertinya aku harus menyakitimu dulu agar kau mau pergi.” Ucap Shila lagi yang kini membalik gagang sapu. Dengan begitu bagian yang biasa digunakan untuk menyapu